Ahli Jelaskan Fenomena Erupsi Sejumlah Gunung Berapi Terjadi Bersamaan

Jakarta, IDN Times - Aktivitas erupsi sejumlah gunung berapi yang terjadi di Indonesia dalam waktu berdekatan kerap memunculkan pertanyaan di masyarakat. Tidak sedikit yang menduga letusan satu gunung api dapat memicu aktivitas gunung api lainnya.
Namun, Edukator Mitigasi Bencana sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan fenomena tersebut umumnya tidak menunjukkan adanya hubungan langsung antar-gunung api. Menurut dia, erupsi yang terjadi dalam periode waktu hampir bersamaan lebih merupakan kebetulan secara spasial dan temporal.
1. Indonesia memiliki banyak gunung api aktif

Penampakan Gunung Anak Krakatau erupsi (Dok. esdm.go.id) Daryono menjelaskan, Indonesia berada di kawasan sistem subduksi lempeng yang sangat aktif. Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki puluhan gunung api aktif dengan berbagai tingkat aktivitas, termasuk berstatus Waspada maupun Siaga.
Oleh karena itu, peluang beberapa gunung api mengalami peningkatan aktivitas dalam waktu berdekatan menjadi sesuatu yang mungkin terjadi.
"Erupsi yang terjadi dalam waktu berdekatan umumnya merupakan kebetulan spasial dan temporal atau coincidence," ujar Daryono dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Ia mengatakan, beberapa gunung api dapat saja mencapai kondisi kritis pada periode yang hampir bersamaan. Ketika ambang kejenuhan gas dan magma telah tercapai, masing-masing gunung kemudian dapat mengalami erupsi sesuai dinamika internalnya.
2. Setiap gunung api memiliki sistem magma sendiri

Erupsi Gunung Anak Krakatau semburkan lava pijar (X.com/badangeologi_) Daryono menegaskan, secara geologi tidak terdapat saluran magma langsung yang menghubungkan Gunung Anak Krakatau dengan gunung-gunung berapi lainnya. Setiap gunung api, kata dia, memiliki kantong magma, jalur pipa magma atau conduit, serta sistem tekanan yang berbeda dan terpisah di dalam kerak bumi.
Dengan demikian, aktivitas di satu gunung api tidak serta-merta menyalurkan tekanan menuju gunung api lainnya.
"Setiap gunung api memiliki kantong magma, jalur pipa atau conduit, dan sistem tekanannya sendiri-sendiri yang terpisah di dalam kerak bumi," katanya.
3. Erupsi satu gunung tak otomatis memicu gunung lainnya

Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Sabtu (5/9/2026) dini hari. (Dok. Eghie Febriansyah). Menurut Daryono, masing-masing gunung api mempunyai dinamika suplai gas secara independen. Peningkatan aktivitas yang terjadi dalam waktu bersamaan dapat dipengaruhi oleh proses lokal di dalam sistem gunung api masing-masing.
Proses tersebut antara lain berupa akumulasi tekanan gas internal hingga kristalisasi magma. Ketika kondisi tersebut berkembang dan mencapai batas tertentu, gunung api dapat mengalami erupsi.
Oleh karena itu, Daryono menilai erupsi beberapa gunung berapi dalam waktu berdekatan lebih tepat dipahami sebagai kebetulan statistik dari dinamika lokal masing-masing gunung.
"Peristiwa erupsi di satu gunung tidak mengalirkan tekanan atau menyulut letusan di gunung api lainnya," ujar dia.
Dengan kata lain, meski sejumlah gunung api terlihat aktif atau mengalami erupsi dalam periode yang hampir bersamaan, kondisi tersebut tidak otomatis berarti seluruh gunung tersebut saling terhubung atau dipicu oleh satu sumber aktivitas yang sama.


















