Di Tengah Wabah COVID-19, Kemenkes Temukan 100-500 Kasus DBD Per Hari

Jakarta, IDN Times - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengingatakan masyarakat untuk mewaspadai demam berdarah dengue (DBD).
Sebab hingga Juni ini penyakit DBD masih marak terjadi. Ia menyebutkan sejak 10 Januari hingga 19 Juni terdapat setidaknya 68 ribu kasus DBD. Pada saat yang bersamaan, wabah COVID-19 masih terus berlangsung.
''Kami melihat sampai saat ini kita masih menemukan kasus antara 100 sampai 500 kasus per hari kasus DBD di seluruh Indonesia,'' kata Siti Nadia Tarmizi seperti dikutip dari Kemenkes.go.id, Selasa (23/6).
1. Kasus DBD dan COVID-19 bisa sama-sama tinggi di wilayah yang sama

Dokter yang akrab disapa Nadia ini mengungkapkan wilayah dengan banyak kasus DBD merupakan wilayah dengan kasus COVID-19 yang tinggi, seperti Jawa Barat, Lampung, NTT, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.
Bahkan, DBD ini juga menimbulkan angka kematian yang sudah mencapai angka 346, dan itu terjadi di beberapa wilayah dengan kasus COVID-19 yang tinggi.
''Fenomena ini memungkinkan seseorang yang terinfeksi COVID-19 juga berisiko terinfeksi DBD. Pada prinsipnya sama, DBD adalah penyakit yang vaksinnya belum terlalu efektif dan salah satu upaya untuk mencegahnya adalah menghindari gigitan nyamuk,'' ucapnya.
2. Berikut tanda-tanda terjangkit virus DBD

Ahli Infeksi dan Pediatri Tropis RS Dr. Cipto Mengunkusumo dr. Mulya Rahma Karyanti Sp.A mengatakan pasien yang terjangkit virus DBD biasanya mengalami keluhan demam tinggi mendadak kadang disertai muka merah, nyeri kepala, nyeri di bagian belakang mata, muntah-muntah, bintik-bintik merah pada kulit, dan biasanya disertai pendarahan spontan seperti mimisan dan gusi berdarah.
Jika keluhan demam tinggi tidak turun di hari ke-3, itu adalah tanda bahaya yang harus diwaspadai. Dia mengimbau agar orangtua harus segera membawa anak ke rumah sakit jika melihat tanda-tanda tersebut.
''Yang kita takuti di hari ke-3 ini yang kita sebut fase kritis, karena di hari itu biasanya terjadi kebocoran di pembuluh darah. Kalau pembuluh darah bocor cairan akan keluar pasti aliran darah ke otak akan terhambat. Efeknya pasien akan lemas, tidur seharian, makan dan minum sulit, tambah dehidrasi dan buang air kecil kurang dari 4-6 jam,'' kata Rahma.
3. Pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3M

Rahma menerangkan nyamuk Aedes Aegypti memiliki khas warna hitam putih pada bagian ekornya. Nyamuk tersebut biasa mengigit pada pagi hari antara pukul 10-12 dan sore hari sebelum magrib pukul 16-17.
Dia menambahkan pencegahan penularan DBD harus dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk 3M+, yakni Menutup, Menguras, dan Mendaur ulang.
''Kami mengimbau masyarakat cegah dengue mulai dari rumah kita dan menerapkan protokol kesehatan cegah penularan COVID-19. Dengan itu kita bisa terhindar dari DBD dan COVID-19,'' imbuhnya.


















