Dua anakan harimau sumatra terpantau dalam keadaan baik di Taman Nasional Kerinci Seblat. (Dok: Kementerian Kehutanan)
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan laporan mengenai serangan harimau terhadap ternak warga diterima Balai KSDA Sumbar pada Senin, 10 Agustus 2026 sore.
“Pada Senin (10 Agustus 2026) pukul 16.30 WIB Balai KSDA Sumbar menerima laporan dari masyarakat bahwa dua ekor kambing milik warga menjadi korban terkaman Harimau Sumatra. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) segera turun ke lapangan untuk verifikasi,” kata Ristianto.
Berdasarkan hasil verifikasi di lapangan, petugas menemukan satu ekor kambing mati di dalam kandang dengan luka gigitan di bagian leher. Sementara, seekor kambing lainnya dibawa Harimau Sumatra ke semak-semak dan hanya menyisakan dua kaki bagian depan.
Lokasi kejadian menjadi perhatian karena berada cukup dekat dengan sejumlah fasilitas publik. Ristianto menyebut lokasi tersebut berjarak sekitar 50 meter di belakang SDN 10 Palimbatan, sekitar 100 meter dari SMP Negeri 1 Palupuh, dan sekitar 150 meter dari Masjid Syukra.
Keberadaan Harimau Sumatra di sekitar permukiman dan fasilitas pendidikan tersebut, meningkatkan kekhawatiran masyarakat. Terlebih, interaksi negatif antara harimau dan warga sebelumnya juga tercatat pada 31 Juli 2026 dengan korban berupa anjing dan kambing milik warga.
Melihat frekuensi kejadian yang berulang dan masih berkeliaran Harimau Sumatra di sekitar permukiman serta area sekolah, Balai KSDA Sumbar mengambil langkah penanganan dengan memasang perangkap jebak atau box trap pada Selasa, 11 Agustus 2026 pukul 18.00 WIB.
Upaya tersebut membuahkan hasil dalam waktu kurang dari dua jam. Sekitar pukul 19.45 WIB, tim yang masih berada di sekitar lokasi menerima laporan dari penjaga SDN 10 Palimbatan bahwa Harimau Sumatra telah masuk perangkap.
“Tim Balai KSDA Sumatra Barat, saat ini telah melakukan evakuasi terhadap Harimau Sumatra tersebut dengan berkoordinasi bersama Polsek Palupuh, untuk memastikan proses evakuasi berlangsung aman dan terkendali. Evakuasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus meminimalkan risiko terhadap satwa,” ujar Ristianto.
Setelah berhasil dievakuasi, Harimau Sumatra tersebut dititipkan di lembaga konservasi untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Pemeriksaan akan dilakukan tim medis dan dokter hewan, untuk memastikan kondisi kesehatan satwa sebelum ditentukan langkah penanganan konservasi selanjutnya.