Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dimulai Sejak Subuh, Aksi Greenpeace di Bunderan HI Wakili Suara Publik
Dua pemanjat dari Greenpeace Indonesia ketika membawa baner protes di dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. (Dokumentasi Greenpeace Indonesia)
  • Greenpeace Indonesia membentangkan baliho kritik krisis iklim dan biaya hidup di Bunderan HI sejak pukul 06.00 WIB sebagai protes dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran.
  • Enam pemanjat terlatih, termasuk dua perempuan, memasang baliho yang menurut Greenpeace mewakili keresahan publik; aksi mendapat respons positif di media sosial.
  • Usai aksi, 11 aktivis dibawa ke Polda Metro Jaya, dengan tiga telah dilepas; Greenpeace mengajak warga terus menyuarakan aspirasi dan kritik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
20 Oktober 2026

Greenpeace Indonesia menggelar aksi protes di Bunderan HI sebagai kritik terhadap krisis iklim dan biaya hidup pada dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran.

subuh

Enam aktivis Greenpeace mulai memanjat patung Selamat Datang dan memasang baliho.

pukul 06.00 WIB

Baliho terbentang sempurna di Bunderan HI saat warga mulai beraktivitas.

jelang pukul 07.00 WIB

Greenpeace menyatakan pemasangan baliho dilakukan sebelum waktu ini agar tidak segera mendapat perlawanan aparat.

sekitar jam 08.30 WIB

Polisi memaksa para pemanjat turun. Aktivis kemudian memilih turun dari patung.

usai turun ke bawah

Sebanyak 11 aktivis dibawa ke Polda Metro Jaya, dengan tiga orang kemudian dilepas. Para pemanjat sempat dibawa ke unit keamanan negara sebelum dipindahkan ke unit kriminal umum.

sekarang

Para pemanjat dimintai keterangan di unit kriminal umum.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Greenpeace Indonesia membentangkan baliho protes terkait krisis iklim dan biaya hidup di Patung Selamat Datang, Bunderan HI. Aksi itu berlangsung sebagai penanda dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran.
  • Who?
    Enam pemanjat Greenpeace Indonesia, termasuk dua perempuan, memasang baliho. Total 11 orang dibawa ke Polda Metro Jaya; tiga orang telah dilepas. Juru kampanye Greenpeace Jeany Sirait menyampaikan perkembangan aksi.
  • Where?
    Aksi berlangsung di Patung Selamat Datang, Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Setelah turun, sejumlah aktivis dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan.
  • When?
    Aksi berlangsung Selasa, 20 Oktober 2026. Para pemanjat mulai bekerja sejak subuh, baliho terbentang sempurna sekitar pukul 06.00 WIB, dan polisi meminta mereka turun sekitar pukul 08.30 WIB.
  • Why?
    Greenpeace menyatakan baliho itu menyuarakan keresahan publik mengenai krisis iklim, bencana, dan beratnya biaya hidup. Bunderan HI dipilih karena lokasinya strategis, ikonik, pusat bisnis, dan dekat perkantoran pejabat.
  • How?
    Para pemanjat terlatih memasang baliho menggunakan peralatan keselamatan, dengan kolega berjaga di bawah. Polisi kemudian meminta mereka turun. Sejumlah aktivis masih dimintai keterangan di unit kriminal umum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Orang-orang Greenpeace memasang kain besar kuning di patung Bunderan HI sejak subuh. Mereka menulis tentang bencana, iklim, dan hidup yang makin susah. Enam pemanjat ikut memasang kain itu. Polisi menyuruh mereka turun. Setelah itu, 11 orang dibawa ke kantor polisi. Tiga orang sudah pulang, dan yang lain masih ditanya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Aksi Greenpeace di ruang publik ikonik memperlihatkan bagaimana keresahan warga dapat disuarakan secara terlihat dan mendapat resonansi luas. Persiapan matang, keterampilan para pemanjat, serta pendampingan tim di bawah menunjukkan perhatian pada keselamatan. Respons media sosial juga mencerminkan bahwa pesan tentang iklim dan biaya hidup terasa dekat bagi sebagian masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ada pemandangan tak biasa di Bunderan Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat pada Selasa (20/10/2026). Baliho berwarna kuning dan berukuran besar terpampang menutup bagian bawah patung selamat datang di Bunderan HI. Baliho itu bertuliskan 'bencana makin parah, hidup makin susah, apa kerja pemerintah.' Sedangkan, di sisi sebaliknya, baliho bertuliskan 'tangani krisis iklim, turunkan biaya hidup.' Di bawah baliho, tertulis Greenpeace Indonesia.

Baliho itu terlihat mulai terbentang sempurna pukul 06.00 WIB, bersamaan saat warga ibu kota memulai aktivitasnya. Sementara, sebagian pemanjat terlihat masih membawa baliho lainnya yang juga berwarna senada.

Baliho pertama yang dibawa bertuliskan 'haze and Prabowo's regime = national disaster' dan baliho kedua bertuliskan 'bencana makin parah, hidup makin susah, apa kerja pemerintah.'

Ini merupakan aksi protes yang digelar oleh Greenpeace Indonesia sebagai kado dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran. Warga yang berada di sekitar Bunderan HI kemudian mengabadikan momen khusus tersebut.

Juru kampanye keadilan iklim dari Greenpeace Indonesia, Jeany Sirait menjelaskan total pemanjat yang melakukan aksi pemanjatan berjumlah enam orang. Dua di antaranya merupakan perempuan. Mereka mulai memanjat dan memasang baliho sejak subuh.

"Rekan-rekan kami memanjat dan memasang baliho ini sejak subuh demi kepentingan keselamatan kawan-kawan kami sendiri," ujar Jeany kepada IDN Times.

Ia memastikan para pemanjat memiliki keahlian khusus dan sudah terlatih. Hal itu bisa dilihat dari peralatan yang dipakai. Selain aktivis yang memanjat, kolega lainnya berada di bawah untuk memastikan keselamatan para pemanjat.

1. Baliho yang dibentangkan dianggap mewakili keresahan publik

Baliho yang dibentangkan oleh aktivis Greenpeace Indonesia untuk memperingati 2 tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran. (Dokumentasi Greenpeace Indonesia)

Lebih lanjut, Jeany menjelaskan alasan aksi dilakukan di Bunderan Hotel Indonesia (HI) yakni karena selain karena lokasinya yang strategis tetapi juga ikonik. Bunderan HI, kata Jeany, juga menjadi pusat bisnis. Selain itu, banyak para pejabat yang berkantor di area tersebut.

"Sehingga, itu tempat yang memang menyampaikan keresahan soal biaya hidup yang sedemikian berat hari ini. Kita kan juga mengeluhkan dampaknya penurunan kualitas biaya hidup akibat krisis iklim. Jadi, Bunderan HI ini memang tempat yang tepat," kata Jeany.

Ia mengatakan aksi pada pagi ini dilakukan dengan kalkulasi yang matang. Sebab, bila pemasangan baliho dilakukan jelang pukul 07.00 WIB maka dapat dipastikan langsung mendapat perlawanan dari aparat penegak hukum.

"(Baliho) terbentang sempurna itu jam 06.00 WIB. Sekitar 30 menit lah baliho itu terpampang. Teman-teman kami dipaksa untuk turun oleh polisi sekitar jam 08.30 WIB. Rekan-rekan kami pun memilih untuk turun karena toh pada akhirnya aparat tidak bisa menjangkau teman-teman ke atas," tutur dia.

2. Aktivis Greenpeace bangga bisa ikut mengafirmasi kemarahan publik

Spanduk raksasa yang dipasang Greenpeace Indonesia di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, telah dicopot pada Selasa (20/10/2026) pagi. (IDN Times/Cantika Lutfiah)

Aksi pemasangan baliho di patung Selamat Datang di Bunderan HI mendapatkan sambutan luas di media sosial. Mayoritas menyampaikan kekaguman atas keberanian para aktivis untuk memanjat patung dan membentangkan baliho. Respons lainnya berupa ucapan terima kasih karena tulisan di baliho yang dibentangkan oleh aktivis Greenpeace Indonesia dianggap mewakili kemarahan mereka kepada pemerintah saat ini.

Jeany mengatakan para aktivis yang melakukan pemanjatan sangat senang dan bangga karena bisa ikut mengafirmasi kemarahan publik. Ia menyebut latar belakang para aktivis yang memanjat bukan datang dari keluarga berada. Mereka juga rentan terdampak dari kebijakan pemerintah saat ini.

"Jadi, ada mahasiswa yang mengeluhkan biaya kuliahnya sangat mahal. Ada teman-teman climbers yang sangat sulit mencari pekerjaan hari-hari ini. Ada pula teman climbers yang menjadi orang tua tunggal dan orang tuanya pun mengalami kesulitan finansial," tutur Jeany.

Di sisi lain, Greenpeace Indonesia menyayangkan sikap pemerintah yang tidak merespons keluhan dari masyarakat. Jeany mengatakan seharusnya kritik yang disampaikan oleh warga tidak ditepis oleh pemerintah.

"Jadi, jangan tutup telinga kalau dilakukan kritik. Kalau ada kritik menandakan ada yang salah dengan kemampuan dan kapabilitas saya untuk memimpin. Ada ketidakberdayaan atau kesalahan yang saya lakukan saat memimpin. Sehingga, masukan dari publik seharusnya didengarkan untuk melakukan perubahan," imbuhnya.

3. Greenpeace berharap warga tetap menyuarakan aspirasinya

Spanduk raksasa yang dipasang Greenpeace Indonesia di Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, telah dicopot pada Selasa (20/10/2026) pagi. (IDN Times/Cantika Lutfiah)

Jeany pun mengakui perjuangan untuk menyadarkan pemerintah tidak bisa hanya sekali dilakukan. Oleh sebab itu, Greenpeace Indonesia berharap agar warga juga tetap menyuarakan pendapatnya. Salah satu caranya bisa dengan mengunggah ulang aksi yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia hari ini di media sosial.

"Warga juga bisa menyuarakan aspirasi dari sudut pandangnya. Kenapa sih hidup hari-hari ini semakin susah? Bersuara lah gitu. Karena kalau tidak (bersuara) maka pemerintah akan semakin tutup telinga," kata Jeany.

"Jadi, semoga sebenarnya ada dukungan yang lebih luas dari masyarakat. Tidak hanya terhadap aksi yang dilakukan oleh Greenpeace tetapi juga dari sudut pandang personal," imbuhnya.

Sementara, usai turun ke bawah, para aktivis Greenpeace itu dibawa ke kantor polisi. Total ada 11 orang yang dibawa ke Polda Metro Jaya. Namun, tiga orang sudah dilepas.

Kemudian, para pemanjat Greenpeace Indonesia sempat dibawa ke unit keamanan negara. Lalu, sekarang dipindahkan dan dimintai keterangan di unit kriminal umum.

"Biasanya sih berdasarkan pengalaman saya, kalau didata hanya ditanya dan diperiksa, lalu pada akhirnya dilepas dan kami berharap teman-teman kami segera dilepas," tutur Jeany.

Curated For You

Editorial Team

Related Article