Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
FKUI Ungkap Risiko Asap Karhutla pada Anak, Bisa Permanen
Ilustrasi Penanganan Karhutlah (IDN Times/Ervan Masbanjar)
  • FKUI mengingatkan paparan asap karhutla pada anak dapat berdampak pada pertumbuhan paru, perkembangan kognitif, dan pertumbuhan fisik dalam jangka panjang.

  • Studi kebakaran di Indonesia pada 1997 menunjukkan kapasitas paru lebih rendah hingga 10 tahun kemudian, sementara paparan sejak dalam kandungan dikaitkan dengan dampak pertumbuhan hingga 10 dan 17 tahun.

  • Pemantauan tumbuh kembang, gejala pernapasan, kontrol asma, dan fungsi paru perlu berlanjut setelah karhutla berlalu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
1997

Studi pada kebakaran di Indonesia menunjukkan kapasitas paru yang lebih rendah hingga 10 tahun kemudian.

10 tahun kemudian

Kapasitas paru dalam studi kebakaran di Indonesia pada 1997 tercatat lebih rendah.

10 dan 17 tahun kemudian

Paparan asap sejak dalam kandungan dikaitkan dengan dampak pertumbuhan anak yang bertahan hingga 10 dan 17 tahun kemudian.

Sabtu (31/10/2026)

Dr. dr. Nastiti Kaswandani menyampaikan peringatan FKUI dalam webinar yang digelar FKUI.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    FKUI mengingatkan paparan asap karhutla pada anak berisiko mengganggu pertumbuhan paru, perkembangan kognitif, dan pertumbuhan fisik dalam jangka panjang.
  • Who?
    Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Dr. dr. Nastiti Kaswandani menyampaikan peringatan tersebut.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan dalam webinar yang digelar FKUI.
  • When?
    Webinar tersebut berlangsung pada Sabtu (31/10/2026).
  • Why?
    Anak lebih rentan terhadap asap karena paru dan sistem imunitasnya masih berkembang, serta bernapas lebih cepat.
  • How?
    Pemantauan dilakukan melalui pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan gejala pernapasan, penilaian kontrol asma, dan uji fungsi paru bila memungkinkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

FKUI bilang asap karhutla bisa membuat anak sakit bukan hanya saat asap ada. Paru anak bisa tumbuh kurang baik, dan otak serta tubuhnya juga bisa terdampak. Anak lebih mudah terkena karena paru dan daya tahan tubuhnya masih berkembang. Setelah itu, anak perlu diperiksa dan dipantau terus oleh keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemantauan kesehatan berkelanjutan memberi ruang untuk mengamati tumbuh kembang dan gejala pernapasan anak setelah paparan asap karhutla. Dukungan imunisasi lengkap, nutrisi yang baik, rumah bebas asap rokok, kualitas udara, serta ruang bersih di sekolah juga disebut sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengingatkan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada anak tidak hanya memicu gangguan pernapasan akut, tetapi juga berisiko memengaruhi pertumbuhan paru, perkembangan kognitif, hingga pertumbuhan fisik dalam jangka panjang. Karena itu, anak yang terdampak perlu mendapatkan pemantauan kesehatan berkelanjutan meski karhutla telah berlalu.

“Diperlukan monitoring ketat jangka panjang terhadap anak yang terdampak. Dalam bahasa riset, ini adalah a large prospective cohort yang is needed dan is OUR responsibility,” kata Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp. Respi(K), dalam webinar yang digelar FKUI, Sabtu (31/10/2026).

1. Pertumbuhan paru anak berisiko terganggu permanen

Iluatrasi Penanganan Karhutlah (IDN Times/Ervan Masbanjar)

Nastiti menjelaskan, anak yang terpapar asap karhutla secara kronis berisiko mengalami gangguan pertumbuhan paru yang dapat bersifat permanen. Dampak lainnya mencakup peningkatan risiko asma persisten dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Ia memaparkan, studi pada kebakaran di Indonesia pada 1997 menunjukkan kapasitas paru yang lebih rendah hingga 10 tahun kemudian. Paparan sejak dalam kandungan juga dikaitkan dengan dampak pertumbuhan anak yang bertahan hingga 10 dan 17 tahun kemudian.

2. Asap berisiko memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak

Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (18/10/2026). (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/kye)

Selain sistem pernapasan, paparan asap karhutla juga berpotensi memengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Nastiti menyebut dampak yang perlu diwaspadai meliputi risiko stunting, capaian kognitif yang terganggu, IQ lebih rendah, serta gangguan perilaku dan memori.

Menurut dia, anak lebih rentan terhadap asap karena paru dan sistem imunitasnya masih berkembang. Anak juga bernapas lebih cepat sehingga menghirup lebih banyak udara per kilogram berat badan dibandingkan orang dewasa.

3. Pemantauan kesehatan harus berlanjut setelah karhutla

Ilustrasi poster menyuarakan keresahan atas kebakaran hutan di Kalimantan dan sejumlah wilayah Indonesia. (IDN Times/Yuko Utami)

Nastiti menyarankan pemantauan tumbuh kembang melalui pengukuran tinggi dan berat badan secara berkala, serta pemeriksaan gejala pernapasan seperti batuk atau mengi berulang. Penilaian kontrol asma dan uji fungsi paru juga dapat dilakukan bila memungkinkan.

Pencegahan perlu didukung imunisasi lengkap, nutrisi yang baik, rumah bebas asap rokok, dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Ia juga mendorong pemantauan kualitas udara, penyediaan ruang bersih di sekolah, serta pencegahan karhutla.

“Antisipasi pasca paparan kronik bukan hanya soal mengobati gejala yang muncul, tetapi memastikan anak-anak kita mendapatkan pemantauan yang berkelanjutan agar dampak yang lebih berat dapat dicegah sejak dini. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tenaga kesehatan, tetapi juga keluarga, sekolah, dan pemerintah,” ujar Nastiti.

Curated For You

Editorial Team

Related Article