Jakarta, IDN Times - Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus mendorong pemulihan infrastruktur sekaligus penguatan mitigasi bencana di Sumatera Barat (Sumbar). Sejumlah pekerjaan dilakukan untuk mengurangi risiko banjir dan lahar dingin. Di antaranya pembangunan sabo dam di kawasan Gunung Marapi dan penanganan Sungai Batang Kuranji di Kota Padang.
Satgas PRR Perkuat Mitigasi Banjir dan Lahar Dingin di Sumbar

Satgas PRR mempercepat pemulihan dan mitigasi bencana di Sumbar melalui sabo dam, penanganan sungai, muara, serta pompa air baku untuk mengurangi risiko banjir dan lahar dingin.
Normalisasi sungai menjadi super prioritas dengan alokasi sektor sumber daya air Rp7,85 triliun, karena sedimentasi masih mengurangi kapasitas sungai dan memicu ancaman banjir susulan.
Tiga sabo dam di Sungai Batang Malana mencapai 85 persen, sementara Batang Kuranji akan dinormalisasi sepanjang 2,4 kilometer dan dibangun sabo dam mulai November 2026.
Hal ini terkait dengan pembangunan infrastruktur pengendali sedimen. Ini merupakan langkah penting untuk melindungi pemukiman dan lahan pertanian dari ancaman material yang terbawa aliran sungai saat hujan deras maupun banjir lahar.
Pembangunan sabo dam dan penanganan sungai termasuk dalam Rencana Induk (Renduk) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera. Berdasarkan data per 25 Oktober 2026, pembangunan 11 sabo dam di tiga provinsi terdampak telah mencapai progres 35,58 persen. Sementara itu, penanganan 33 sungai mencapai 19,19 persen.
Selain itu, penanganan 29 muara juga terus berjalan. Sebanyak empat muara telah selesai ditangani, enam lainnya dalam pengerjaan dengan progres 14,94 persen, sedangkan 19 muara masih dalam proses lelang. Adapun pembangunan 94 pompa air baku telah mencapai progres 10,33 persen.
1. Normalisasi sungai masuk skala super prioritas

Ilustrasi sungai. (unsplash.com/Mark McGregor) Penguatan sektor sumber daya air sangat penting dalam pemulihan pascabencana Sumatera. Dari pagu efektif penanganan sebesar Rp21,42 triliun, sektor sumber daya air mendapatkan alokasi Rp7,85 triliun.
Kasatgas PRR Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, menegaskan normalisasi sungai menjadi salah satu prioritas dalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Terlebih, sejumlah wilayah masih menghadapi ancaman banjir susulan akibat tingginya sedimentasi yang mengurangi kapasitas tampung sungai.
"Jadi, ada semacam skala super prioritas untuk normalisasi sungai," ujar Tito dalam rapat koordinasi perkembangan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera di Kemendagri, Jakarta.
Tito mengingatkan, penanganan infrastruktur tidak boleh berhenti pada perbaikan kerusakan akibat bencana sebelumnya. Sebab, bencana susulan berpotensi kembali merusak infrastruktur yang telah diperbaiki.
"Banjir, longsor, jalan rusak, segala macam diperbaiki, banjir lagi. (Bencana) susulannya pun masih jalan terus. Tapi itu tantangan kita. Kita tidak akan pernah berhenti untuk menangani," tegasnya.
2. Pembangunan sabo dam

Pembangunan di Sungai Batang Kuranji untuk cegah banjir (Dok. Tim Media Satgas PRR) Di Nagari Sungai Jambu, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, tiga unit sabo dam tengah dibangun di aliran Sungai Batang Malana yang berhulu di Gunung Marapi. Bangunan tersebut dirancang untuk menahan dan menyaring material vulkanik berupa batu besar, kerikil, pasir, dan lumpur agar tidak langsung menerjang kawasan di bagian hilir.
Struktur sabo dam menggunakan beton bertulang dengan fondasi yang dirancang kuat untuk menghadapi gerusan aliran sungai. Bangunan juga dilengkapi bendungan utama, bendungan pembantu, serta lantai olakan untuk meredam energi aliran air dan benturan material batuan. Selain berfungsi sebagai pengendali sedimen, bangunan tersebut terintegrasi dengan jaringan irigasi pertanian warga. Jalur penyeberangan juga disediakan di bagian atas bendungan untuk mendukung mobilitas masyarakat.
Tiga sabo dam di Nagari Sungai Jambu masing-masing dibangun satu unit di Jorong Batu dan dua unit di Jorong Sungai Jambu. Hingga akhir Oktober 2026, progres fisik pembangunannya mencapai 85 persen dan ditargetkan rampung pada Desember 2026.
Tenaga Ahli K3 Kontraktor, Mashelita, mengatakan pekerjaan saat ini berjalan sesuai jadwal. Kendala utama yang dihadapi adalah faktor cuaca karena lokasi pembangunan berada di aliran sungai yang berhulu langsung ke Gunung Marapi.
"Kalau kendala, kita hanya karena kerjanya di sungai, itu hanya cuaca. Kalau hal-hal lain seperti material, solar, terus tentang tenaga kerja, itu aman," ujar Mashelita.
Dia menjelaskan, pembangunan tersebut juga melibatkan tenaga kerja lokal. Pada awal pengerjaan, proyek menyerap sekitar 80 orang pekerja, sementara saat ini jumlahnya berkurang seiring pekerjaan memasuki tahap penyelesaian.
Wali Nagari Sungai Jambu, Wilmen, mengatakan masyarakat menyambut positif pembangunan sabo dam karena diharapkan dapat meningkatkan keamanan lingkungan dan melindungi lahan pertanian. Menurutnya, banjir bandang yang terjadi sebelumnya membawa material batu, lahar, dan lumpur dalam jumlah besar. Bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan sejumlah infrastruktur, termasuk empat jembatan yang terdiri dari dua jembatan kabupaten dan dua jembatan pertanian.
"Alhamdulillah masyarakat merespons positif dibangunnya sabo dam ini. Pembangunannya sangat menguntungkan, pertama dari segi keamanan dan kenyamanan masyarakat, terutama mengenai keselamatan bersama, baik lingkungan maupun pertanian," kata Wilmen.
Pembangunan sabo dam di kawasan Gunung Marapi merupakan bagian dari proyek pengendalian lahar dan sedimen yang mencakup wilayah Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, dan Kota Padang Panjang. Proyek yang dibiayai APBN tersebut memiliki anggaran Rp249,8 miliar dengan masa pelaksanaan mulai Maret 2025 hingga 2027. Di Kabupaten Agam, pembangunan sabo dam di Batang Jibus juga terus berjalan dengan progres sekitar 40 persen.
3. Penanganan Sungai Batang Kuranji

Pembangunan di Sungai Batang Kuranji untuk cegah banjir. (Dok. Tim Media Satgas PRR) Selain di kawasan Gunung Marapi, upaya pengendalian banjir juga dilakukan di Sungai Batang Kuranji, tepatnya di kawasan Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang.
Banjir bandang pada November 2025 menyebabkan kerusakan rumah warga sekaligus mengubah aliran sungai. Penanganan darurat dilakukan melalui pembangunan tanggul dan normalisasi sungai oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V.
Dampak penanganan darurat mulai dirasakan masyarakat. Saat hujan deras pada 8 Oktober 2026, aliran air di kawasan Batu Busuk tidak meluap ke permukiman warga.
Warga Sungai Batang, Andri Vibranta, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan setelah tanggul dan dinding penahan dibangun. Meski demikian, ia berharap penanganan permanen segera dilakukan karena tanggul yang tersedia masih bersifat darurat.
"Meski berstatus darurat, kenaikan air di aliran sungai sudah tidak lagi meluap ke permukiman masyarakat. Seperti saat hujan deras yang terjadi pada 8 Oktober 2026, di Batu Busuk aliran air masih aman terkendali," ujarnya.
Plt Kepala BWS Sumatera V Sumbar, Reski, mengatakan penanganan pengendalian banjir di Sumbar mencakup 43 titik terdampak. Setelah pekerjaan tanggap darurat, penanganan permanen direncanakan pada 25 titik aliran sungai, termasuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji di Batu Busuk.
Di lokasi tersebut, penanganan permanen mencakup normalisasi sungai sepanjang 2,4 kilometer dan pembangunan sabo dam. Pekerjaan dijadwalkan berlangsung mulai November 2026.
Menteri Pekerjaan Umum, Dodi Hanggodo, menjelaskan pengendalian banjir perlu dilakukan dari bagian hulu hingga hilir. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah terbentuknya tanggul alam dari material sedimen setelah banjir. Jika jebol saat hujan deras, kondisi tersebut dapat memicu kerusakan lebih besar.
"Kita perlu mewanti potensi bahaya hulu. Pascabanjir berulang akan terbentuk tanggul alam yang berbahaya jika terjadi hujan deras. Hujan deras di atas hulu, tanggul pecah biasanya membuat kerusakan yang lebih parah," kata Dodi.
Karena itu, Kementerian PU meminta balai sungai melakukan pemeriksaan melalui susur sungai dan merencanakan pembangunan cek dam di bagian hulu. Langkah tersebut bertujuan mengendalikan material yang terbawa aliran sehingga tidak seluruhnya turun ke kawasan hilir.
Selain penanganan di hulu, normalisasi sungai juga dilakukan untuk meningkatkan kapasitas aliran. Dalam pekerjaan di Batang Kuranji, pengangkatan material sedimen direncanakan mencapai 24.000 meter kubik.
Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pengendalian banjir serta sedimen di Batang Kuranji untuk periode 2026–2028 dianggarkan sebesar Rp249,56 miliar.
Melalui percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pascabencana, upaya pengendalian banjir di Sumbar diarahkan tidak hanya untuk memulihkan kondisi sungai, tetapi juga mengurangi risiko bencana berulang serta memberikan perlindungan lebih baik bagi masyarakat di kawasan terdampak.



















