Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BNPB-BMKG Maksimalkan OMC untuk Tekan Karhutla di Papua Selatan

3 min read
BNPB-BMKG Maksimalkan OMC untuk Tekan Karhutla di Papua Selatan
Personel TNI Angkatan Udara (AU) ketika memasukan dry ice dan natrium klorida untuk modifikasi cuaca di Sumatra Selatan dan Kalimantan. (IDN Times/Santi Dewi)
  • BNPB dan BMKG mengintensifkan penanganan karhutla di Merauke melalui Operasi Modifikasi Cuaca, drone, dan pemantauan digital real-time untuk mendeteksi titik api.

  • Pemantauan tiga hari terakhir menunjukkan titik api terbanyak berada di wilayah konsesi perusahaan; sistem digital membantu mengidentifikasi lokasi kebakaran dan status penguasaan lahannya.

  • OMC berlangsung 22 Oktober–5 November 2026, dengan 13 sorti dan 13.000 kilogram NaCl hingga 30 Oktober; BMKG menyiapkan peta potensi titik api serta prakiraan hujan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan, khususnya Kabupaten Merauke.

Upaya tersebut dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta pemanfaatan teknologi drone dan sistem pemantauan digital untuk mendeteksi titik api secara lebih akurat dan real-time.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui peninjauan langsung pelaksanaan OMC oleh Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Pangkalan Udara Johannes Abraham Dimara, Merauke, Sabtu (31/10/2026).

Peninjauan ini dilakukan untuk mengevaluasi dukungan operasi udara sekaligus mengidentifikasi kebutuhan tambahan guna mempercepat penanganan karhutla.

“Wilayah-wilayah seperti Okaba dan beberapa wilayah lainnya di Merauke memang memiliki titik api. Namun, dari hasil pemantauan selama tiga hari terakhir, titik api paling banyak terlihat di wilayah konsesi perusahaan itu,” ungkap Kristomei dalam keterangannya.

  1. 1. BNPB manfaatkan drone untuk pantau titik api

    modifikasi cuaca, TNI AU
    Personel TNI Angkatan Udara (AU) sedang menyiapkan alat untuk melakukan modifikasi cuaca baik dengan menyebar dry ice dan menyemari NaCl. (Dokumentasi Puspen TNI)

    BNPB kini mengoptimalkan penggunaan drone dan sistem pemantauan digital untuk mengetahui posisi titik api secara langsung. Teknologi tersebut juga memungkinkan petugas mengidentifikasi lokasi serta status penguasaan lahan tempat kebakaran terjadi.

    Dengan informasi tersebut, petugas dapat melakukan pengecekan secara lebih cepat dan terarah. Pengawasan terhadap wilayah konsesi perkebunan maupun kawasan hutan juga bisa diperkuat.

    “Sekarang kita mempunyai sistem yang bisa melihat langsung ke titiknya. Lahan-lahan konsesi atau hutan itu milik siapa, bisa kita lihat hari ini,” tegas Kristomei.

  2. 2. BNPB kaji penggunaan bahan semai untuk OMC

    BNPB-BMKG Maksimalkan OMC untuk Tekan Karhutla di Papua Selatan
    Personel TNI Angkatan Udara (AU) sedang menyiapkan alat untuk melakukan modifikasi cuaca baik dengan menyebar dry ice dan menyemari NaCl. (Dokumentasi Puspen TNI)

    Selain memperkuat pemantauan, BNPB juga mengevaluasi kebutuhan dukungan operasi pemadaman bersama BMKG, termasuk melalui pelaksanaan OMC. Kristomei menjelaskan, setiap wilayah memiliki karakteristik tanah dan kondisi lingkungan yang berbeda sehingga strategi penanganan karhutla tidak bisa disamaratakan.

    Kondisi lahan di Papua Selatan, menurutnya, perlu dipelajari lebih lanjut untuk menentukan metode penanganan yang paling sesuai. Selain menggunakan Natrium Klorida (NaCl) dalam OMC, BNPB juga mempertimbangkan kemungkinan penggunaan bahan semai lain, seperti dry ice. Namun, penerapannya tetap perlu dikaji berdasarkan kondisi atmosfer dan kebutuhan operasi.

    “Kami datang ke sini untuk melihat dan mendata apa lagi yang bisa dilakukan di lapangan, sehingga kebakaran di kawasan perkebunan maupun wilayah lainnya bisa terus ditekan dan segera dipadamkan. Curah hujan masih terbatas, sehingga kita perlu melihat langkah tambahan yang bisa dilakukan, apakah melalui operasi modifikasi cuaca dengan NaCl, dry ice, atau metode lain yang sesuai,” ujar Kristomei.

  3. 3. OMC di Papua Selatan berlangsung hingga 5 November 2026

    BNPB-BMKG Maksimalkan OMC untuk Tekan Karhutla di Papua Selatan
    Personel TNI Angkatan Udara (AU) sedang menyiapkan alat untuk melakukan modifikasi cuaca baik dengan menyebar dry ice dan menyemari NaCl. (Dokumentasi Puspen TNI)

    Pelaksanaan OMC untuk mendukung penanganan darurat karhutla di Papua Selatan dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober hingga 5 November 2026. Operasi ini didukung pesawat Cessna Caravan C208B dengan nomor registrasi PK-SCG.

    Hingga Jumat (30/10/2026), operasi tersebut telah melaksanakan 13 sorti penyemaian awan dengan total penggunaan bahan semai NaCl sebanyak 13.000 kilogram.

    Faisal mengungkapkan, pada akhrinya pelaksanaan OMC di Papua Selatan tetap membutuhkan analisis kondisi atmosfer dan prakiraan cuaca yang spesifik untuk wilayah sasaran.

    Untuk mendukung langkah antisipasi, BMKG akan menyampaikan peta wilayah yang berpotensi mengalami kemunculan titik api baru. Selain peta potensi kebakaran, BMKG juga akan menyediakan informasi prakiraan hujan lebat melalui sistem pemantauan cuaca.

    “Dari sistem pemantauan BMKG, kami juga akan menyampaikan kapan hujan lebat berpotensi terjadi dan wilayah mana yang perlu menyiapkan antisipasi. Prakiraan ini mencakup tiga hingga sepuluh hari ke depan, dengan kerapatan jaringan informasi hingga tingkat kecamatan,” ungkap Faisal.

    Dukungan data BMKG tersebut diharapkan membantu BNPB, dan pemerintah daerah menentukan langkah penanganan secara lebih terarah. Informasi cuaca dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan pelaksanaan OMC sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran baru dan hujan lebat di Papua Selatan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More