BKKBN Ajak Remaja Berani Cerita soal Kesehatan Mental

Kemendukbangga/BKKBN mendorong ruang aman agar remaja berani bercerita tentang masalah kesehatan mental.
PIK-R, Genre, keluarga, sekolah, komunitas, dan ruang digital didorong menjadi lingkungan yang suportif.
BKKBN menandatangani kerja sama untuk mendukung layanan kesehatan jiwa remaja.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) mendorong penyediaan ruang aman agar remaja berani bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. Berdasarkan data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sebanyak 34,9 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.
“Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan 34,9 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Maka di sinilah Kemendukbangga/BKKBN membuat program untuk memberikan ruang aman bagi para remaja, antara lain PIK-R dan Genre,” ujar Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, dalam kegiatan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia di Jakarta, dikutip Sabtu (31/10/2026).
1. Remaja didorong berani bercerita

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyebut Jogja adalah daerah dengan tingkat gangguan kesehatan mental tertinggi se-Indonesia. (IDNTimes/Tunggul Damarjati) Wihaji mengajak remaja untuk tidak memendam masalah yang dialami sehari-hari. Melalui kegiatan bertajuk “Pengalaman Hidup yang Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata,” BKKBN menyediakan ruang bagi remaja untuk menyampaikan pengalaman mereka.
BKKBN juga mendorong remaja bergabung dengan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) serta Forum Generasi Berencana (Genre) agar dapat berbagi cerita dengan teman sebaya.
“Untuk itu, ayo para remaja ajak teman-teman sekalian gabung di PIK-R, di Genre, gabung di Akademi Keluarga. Itulah tempat remaja sebaya bisa bercerita,” kata Wihaji.
2. Keluarga dan sekolah diminta menyediakan ruang aman

Para pelajar di SD Negeri 047174, di Desa Kutarayat, Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, tetap menjalankan aktivitas belajar mengajar di saat Gunung Sinabung berada di level III atau siaga, Rabu (2/9/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo) Officer In Charge Representative UNICEF Indonesia, Jean Nsonjiba Lokenga, menilai lingkungan keluarga, sekolah, komunitas, dan ruang digital perlu mendukung kesehatan mental remaja. Lingkungan tersebut diharapkan bebas dari stigma, perundungan, dan kekerasan.
“Kita harus memastikan bahwa keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan digital menyediakan ruang aman dan suportif bagi kaum muda, bebas dari stigma, bullying, dan kekerasan,” ujar Lokenga.
3. BKKBN gandeng organisasi profesi

Manfaat Membaca Buku bagi Pelajar: Membentuk Pola Pikir Kritis dan Empati Mendalam(https://sorotnesia.com/) Dalam kegiatan tersebut, Direktorat Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN menandatangani perjanjian kerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Remaja tentang dukungan layanan kesehatan jiwa remaja.
Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia itu juga diisi dengan diskusi kesehatan mental, pengukuhan Pengurus Nasional Forum Genre Indonesia, dan pemberian apresiasi edukasi kesehatan mental oleh konselor sebaya.





















