Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bicara duet Prabowo-Zulhas para Pilpres 2029. (IDN Times/Amir Faisol)
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bicara duet Prabowo-Zulhas para Pilpres 2029. (IDN Times/Amir Faisol)

Intinya sih...

  • PAN dorong ambang batas parlemen nol persen. Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno mendorong penurunan ambang batas parlemen serendah-rendahnya hingga nol persen.

  • PKS tolak ide PAN soal penghapusan ambang batas. Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Kholid menegaskan, ambang batas parlemen masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan.

  • CSIS usul ambang batas parlemen diturunkan bertahap.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, partainya mulai melakukan simulasi perubahan ambang batas parlemen. Namun, ia menegaskan belum ada keputusan final.

Menurut Dasco, simulasi tersebut merupakan bagian dari proses internal partai dalam mematangkan berbagai skenario strategis. Meski demikian, ia menekankan bahwa hasil dari simulasi itu belum bisa dijadikan rujukan resmi karena masih dalam tahap pembahasan.

“Kalau dalam internal Gerindra kami baru awal mengadakan simulasi-simulasi internal. Tetapi hal itu baru bersifat simulasi dan belum final, sehingga kemudian kita belum dapat menyampaikan ke publik mengenai hal-hal yang dilakukan dalam simulasi tersebut,” ujar Dasco di Kertanegara, Jakarta, Jumat (6/2/2026) malam.

1. PAN dorong ambang batas parlemen nol persen

Waketum PAN Eddy Soeparno mendukung Prabowo-Zulhas di Pilpres 2029. (IDN Times/Amir Faisol).

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno mendorong penurunan ambang batas parlemen serendah-rendahnya. PAN bersikukuh ambang batas parlemen harus diturunkan hingga nol persen meski mayoritas fraksi di parlemen menolak usulan itu.

Adapun PDIP, PKS, Golkar hingga PKB menilai ambang batas parlemen masih dibutuhkan sebagai alat menjaga stabilitas politik, sehingga tidak terjadi bottleneck dalam pengambilan keputusan di DPR RI.

Menurut Eddy, ketentuan ambang batas parlemen empat persen pada Pemilu 2024 telah membuat 16 juta suara masyarakat terbuang sia-sia, karena partai yang dipilih tidak lolos ambang batas.

"Tentu kita dari awal sudah berpandangan bahwa ambang batas parlemen itu serendah-rendahnya syukur-syukur ditiadakan, karena kita lihat di tahun 2024 saja pada pemilu itu ada sekitar 16 juta suara yang akhirnya tidak terwakili," kata Eddy di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

2. PKS tolak ide PAN soal penghapusan ambang batas

Anggota komisi XI dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Kholid. (Dokumentasi PKS)

Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Kholid menegaskan, ambang batas parlemen masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas politik, dan efektivitas pemerintahan (governmentability).

Kholid menilai, ambang batas berfungsi memitigasi fragmentasi di parlemen yang berlebihan. Dengan demikian, proses pengambilan kebijakan strategis oleh pemerintah tidak terjebak dalam kebuntuan akibat terlalu banyaknya kepentingan yang terpecah-pecah.

"Keberadaan parliamentary threshold (PT) masih dibutuhkan sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan (governmentability)," kata Kholid.

Di sisi lain, ia menilai, kinerja parlemen lebih optimal apabila komposisi partai lebih terukur, merepresentasikan suara rakyat yang signifikan.

"Maka DPR dapat bekerja lebih optimal, efektif dan efisien dalam menjalankan fungsi legislasi, anggaran maupun pengawasan," kata anggota Komisi XI DPR RI itu.

3. CSIS usul ambang batas parlemen diturunkan bertahap

DPR RI resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyesuaian Pidana sebagai undang-undang (UU) dalam rapat paripurna, Senin (8/12/2025).

Adapun Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengusulkan agar ambang batas parlemen (parliamentary threshold) diturunkan secara bertahap dalam dua siklus pemilu, yakni menjadi 3,5 persen pada Pemilu 2029 dan 3 persen pada pemilu berikutnya.

Kepala Departemen Politik CSIS, Arya Fernandez berpandangan, penurunan ambang batas secara bertahap diperlukan untuk mencari titik tengah antara kebutuhan menciptakan sistem partai yang moderat dan tetap menjaga derajat keterwakilan politik.

Hal ini disampaikan Arya Fernandez dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) terkait Revisi Undang-Undang Pemilu bersama Komisi II DPR RI di kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

“Bagaimana dengan penerapan di Pemilu 2029? Menurut hemat saya, kita perlu menurunkan ambang batas secara bertahap dalam dua kali siklus pemilu. Pertama, menurunkan dari 4 persen ke 3,5 persen di Pemilu 2029, dan ini berlaku untuk tingkat nasional dan di daerah. Baru setelahnya kita tetapkan ambang batas 3 persen di Pemilu 2034 dan seterusnya,” ujar Arya.

Menurutnya, ambang batas yang terlalu rendah berpotensi menciptakan sistem multipartai ekstrem di parlemen, sedangkan ambang batas yang terlalu tinggi dapat menurunkan tingkat keterwakilan dan memperbesar jumlah suara yang terbuang.

“Membuat ambang batas yang rendah misalnya 1 persen, itu akan menciptakan multipartai ekstrem di DPR dan berimplikasi pada legislatif deadlocks dan instabilitas politik di DPR,” ujar dia.

Editorial Team