Jakarta, IDN Times - Indonesia Corruption Watch (ICW) mengkritisi pembentukan Universitas Republik Indonesia (URI) di tengah kebijakan efisiensi APBN yang diberlakukan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sebab, pemerintah meminta masyarakat melakukan penghematan, namun di sisi lain malah membentuk institusi pendidikan baru.
Institusi baru itu tentu membutuhkan anggaran untuk pembiayaan kelembagaan, sumber daya manusia (SDM), hingga infrastruktur. Apalagi pemerintah berencana membangun 10 URI di beberapa lokasi.
"Pemerintah seharusnya memprioritaskan penguatan kualitas dan akses pendidikan yang sudah ada. Hingga saat ini masih terdapat berbagai persoalan yang mendasar, seperti ketimpangan akses pendidikan tinggi, tingginya biaya kuliah, keterbatasan daya tampung perguruan tinggi negeri, peningkatan kualitas dosen dan riset, serta kesejahteraan tenaga pendidik yang belum diselesaikan," ungkap peneliti ICW, Nisa Zonzoa dalam keterangan, dikutip Kamis (6/8/2026).
"Jadi, alih-alih membentuk universitas baru, pemerintah seharusnya menyelesaikan berbagai persoalan khususnya di pendidikan tinggi," imbuhnya.
