Indonesia Lagi Dipantau Dunia, Ini Alasannya!

- Permintaan tembaga global meningkat karena tren energi bersih dan mobil listrik.
- Pertambangan hijau di Indonesia memungkinkan, dengan pengurangan emisi karbon ,hingga 60 persen.
- Kontribusi tembaga Indonesia besar terhadap ekonomi nasional, perlu dimanfaatkan untuk posisi kunci di level global.
Posisi Indonesia di mata dunia mulai berubah. Dari yang tadinya sekadar pemain pendukung, kini kita lagi bersiap jadi bintang utama. Bahkan banyak negara mulai pasang mata, menunggu apa langkah besar kita berikutnya.
Hal ini jadi bahan diskusi di Indonesia Summit 2025, khususnya dalam sesi Global Trade and Investment: Positioning Indonesia as a Key Player yang digelar di The Tribrata, Jakarta, pada Rabu (27/8).
Di forum ini, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas bersama Wakil Ketua Dewan Ekonomi Republik Indonesia Mari Elka Pangestu membahas bagaimana Indonesia bisa memanfaatkan momentum tersebut. Keep scrolling Karena bahasan lengkapnya bakal bikin kamu makin ngeh kenapa dunia lagi mantau kita. Let’s go!
1. Tembaga dari Indonesia diincar banyak negara

Kalau berbicara tren energi bersih untuk masa depan, ternyata tembaga akan jadi bintang utamanya. Dengan semakin banyak negara yang mengembangkan renewable energy dan mobil listrik (EV), otomatis permintaan tembaga pun akan ikut meroket.
Menurut Tony Wenas, kebutuhan tembaga global diprediksi bisa tembus 35–40 juta ton per tahun pada 2030. Sementara itu, tambang tembaga baru yang besar hampir gak ada dalam 10 tahun ke depan. “Padahal permintaan terus naik, supply terbatas, harga pasti akan cenderung naik. Which is good for the country,” ujarnya.
Indonesia diuntungkan karena punya cadangan tembaga yang besar. Freeport misalnya, sudah berhenti ekspor konsentrat mentah, tapi justru memproduksi katoda tembaga. “Akhir 2025, kapasitasnya bisa ramp up 100 persen ke 800 ribu ton per tahun,” tambah Tony.
Ia pun membandingkan dengan Chile sebagai produsen tembaga terbesar dunia, yang menguasai 25 persen suplai global. Mereka produksi katoda tembaganya tidak sampai 2 juta ton. Sementara Indonesia, dari satu perusahaan saja sudah bisa menghasilkan 800 ribu ton. Jumlah sebesar itu bisa dipakai buat bikin 8 juta mobil listrik, lho!
Menariknya lagi, potensi ini bikin investor asing makin melirik RI. Tony cerita, sudah ada pabrik copper foil asal Tiongkok, Heiliang, yang akan buka di Jawa Timur dengan kapasitas 100 ribu ton. Bahan ini penting banget untuk bikin baterai EV. Artinya, tembaga Indonesia bukan cuma dipakai buat diekspor, tapi juga bisa menarik industri hilir datang ke sini.
2. Praktik pertambangan yang hijau itu possible banget, kok!

Kebanyakan orang mengira, tambang itu identik sama polusi dan merusak lingkungan. Namun faktanya, praktik pertambangan yang hijau itu possible banget untuk dilakukan dan Freeport sudah mulai buktiin.
Tony Wenas cerita, dulu bijih tembaga diangkut pakai truk raksasa berbahan bakar fosil. “Sekarang kami ganti dengan kereta listrik bawah tanah yang bisa angkut 150 ribu ton per hari. Dengan itu, emisi karbon sudah berkurang 28 persen,” jelas Tony.
Nggak berhenti di situ. Freeport juga siap mengganti PLTU batubara 200 MW dengan pembangkit LNG combined cycle. Targetnya, pada 2027 nanti emisi bisa turun sampai 60 persen dibandingkan tahun 2018.
Menurut Tony, langkah ini penting karena meski tambang itu industri ekstraktif dan non-renewable, cara pengelolaannya bisa tetap sustainable. Apalagi, tembaga yang diproduksi Freeport nantinya justru dipakai buat menopang green transition dunia, misalnya sebagai bahan baku listrik di mobil listrik dan energi terbarukan.
Jadi, bisa dibilang tambang Indonesia bukan cuma nyumbang bahan baku, tetapi juga ikut dorong dunia menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan. Keren banget!
3. Ternyata sebesar ini lho dampak Indonesia!

Kontribusi tembaga Indonesia besar banget ke ekonomi nasional. Freeport sendiri menyumbang 0,75 persen ke PDB nasional, 71 persen ke PDRB Papua Tengah, dan lebih dari 90 persen untuk Kabupaten Mimika. “Investasi perusahaan tambang jadi main driver pertumbuhan di daerah, karena multiplier effect-nya besar,” kata Tony Wenas.
Nah, momentum ini harus dimanfaatkan agar Indonesia tak hanya cuma jadi pemasok bahan baku, tapi juga pemain kunci di level global. Menurut Mari Elka Pangestu, tantangan terbesarnya ada di iklim investasi. “Syaratnya kita harus membenahi regulasi, infrastruktur, dan energi bersih,” jelasnya.
Intinya, dunia lagi pasang mata ke Indonesia. Ini waktunya kita nunjukkin kalau Indonesia bukan sekadar penonton, tetapi siap jadi bintang panggung dunia. Let’s go! (WEB)