Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Korban Tewas Protes Iran Jadi 78 Jiwa Hingga Hari ke-14

ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)
ilustrasi bendera Iran (unsplash.com/Akbar Nemati)

Jakarta, IDN Times - Jumlah korban tewas dalam gelombang demonstrasi anti-pemerintah di Iran terus bertambah seiring tindakan keras aparat keamanan. Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), memperkirakan sedikitnya 78 demonstran tewas dalam 14 hari terakhir terkait aksi protes yang berlangsung sejak akhir Desember 2025.

Dalam laporan terbarunya, HRANA menyatakan total korban meninggal dalam rangkaian unjuk rasa mencapai sedikitnya 116 orang, termasuk 38 anggota aparat keamanan. Dari jumlah demonstran yang tewas, tujuh orang dilaporkan berusia di bawah 18 tahun.

HRANA juga mencatat skala protes yang meluas secara nasional. Hingga hari ke-14 demonstrasi, tercatat ada 574 titik aksi dari 185 kota yang tersebar di seluruh 31 provinsi Iran. Selain korban jiwa, kelompok tersebut melaporkan sedikitnya 2.638 orang telah ditangkap aparat keamanan.

Meski demikian, laporan CNN, Minggu (11/1/2026) menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen angka korban tewas, jumlah penangkapan, maupun data sebaran lokasi protes yang dirilis HRANA. Namun, laporan-laporan dari saksi mata dan tenaga medis memberikan gambaran konsisten tentang penggunaan kekuatan mematikan terhadap demonstran.

1. Mayoritas korban ditembak dari jarak dekat

ilustrasi Iran (unsplash.com/@sajadnori)
ilustrasi Iran (unsplash.com/@sajadnori)

HRANA merilis hasil analisis terhadap penyebab kematian yang menunjukkan sebagian besar korban tewas akibat tembakan peluru tajam atau peluru pelet, dan ditembakkan dari jarak dekat.

"Pemeriksaan penyebab kematian menunjukkan mayoritas korban tewas akibat amunisi hidup atau senjata pelet, terutama dari jarak dekat," tulis HRANA dalam siaran persnya.

Seorang saksi mata juga mengatakan kepada CNN, salah satu anggota keluarganya terkena tembakan pelet saat mengikuti aksi protes pada pekan lalu. Kesaksian tersebut menambah daftar laporan warga sipil yang menjadi korban langsung dalam penanganan demonstrasi.

2. Tenaga medis ungkap penembakan dari atap gedung

ilustrasi sniper (pixabay.com/12019)
ilustrasi sniper (pixabay.com/12019)

Kesaksian mengerikan juga datang dari tenaga medis di sejumlah rumah sakit. Kepada media pro-reformasi IranWire, petugas medis di Shiraz menceritakan penanganan seorang perempuan yang ditembak di kepala dan leher saat aksi berlangsung.

"Saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini sepanjang hidup. Mereka menembaknya di kepala dan leher. Jumlah pasien yang kami tangani sangat banyak," ujar salah satu tenaga medis dalam rekaman video.

Seorang dokter di Neyshabur mengatakan aparat keamanan menembaki demonstran dari atap dan teras bangunan. Dengan kondisi itu, mereka tak tahu sedang dibidik dan tak memiliki waktu untuk menghindar.

"Mereka tidak berada di jalan, sehingga orang tidak bisa melihat dan melarikan diri. Bahkan pejalan kaki biasa ikut ditembak," ujarnya dalam pesan suara.

3. Rumah sakit kewalahan tangani korban luka

bendera Iran. (unsplash.com/mostafa meraji)
bendera Iran. (unsplash.com/mostafa meraji)

Sedikitnya enam orang dilaporkan tewas dalam satu aksi protes di kawasan Qala’e Hassan Khan, Teheran. Seluruh korban mengalami luka tembak di kepala dan leher.

Aksi lanjutan di wilayah yang sama sehari kemudian kembali dibubarkan secara keras, termasuk penembakan terhadap demonstran dari atas bangunan. Mohammad Lesanpezeshki, dokter asal Chicago yang berkomunikasi dengan koleganya di Iran sebelum pemadaman internet, mengatakan rumah sakit kewalahan menghadapi lonjakan korban. Bahkan, menurutnya sejumlah rumah sakit di Teheran mengalami krisis pasokan darah untuk transfusi.

"Ruang gawat darurat dipenuhi puluhan pasien dengan luka tembak. Seorang dokter bahkan menangis di telepon karena rumah sakitnya sudah kehabisan stok darah," ujarnya.

Lonjakan cedera mata juga dilaporkan, dengan ratusan pasien datang ke rumah sakit akibat luka tembak pelet. Situasi ini mengingatkan tenaga medis akan protes besar pascakematian Mahsa Amini pada 2022, namun kali ini jumlah korban dan intensitas kekerasan dilaporkan lebih besar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in News

See More

Pohon Angsana di Kemang Raya Tumbang Akibat Hujan

12 Jan 2026, 09:31 WIBNews