Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jenguk Korban, Kepala BGN Tegaskan Zero Tolerance Terhadap Keracunan MBG
Kepala BGN Sudaryono menjenguk korban yang diduga alami keracunan di Semarang (Dok. BGN)
  • Kepala BGN Sudaryono menjenguk korban dugaan keracunan MBG di Semarang dan menegaskan zero tolerance terhadap insiden keamanan pangan serta penyimpangan program.
  • BGN mensuspend SPPG Karangturi sambil menunggu investigasi, setelah 707 siswa dan guru SMK Negeri 6 Semarang diduga keracunan; 13 orang menjalani perawatan.
  • Penyebab masih diperiksa lewat uji laboratorium bahan makanan dan waktu memasak. BGN mempercepat sistem digital untuk memantau seluruh proses produksi makanan MBG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Banyak murid dan guru di SMK Negeri 6 Semarang sakit setelah makan Makan Bergizi Gratis. Mereka pusing, mual, muntah, dan diare. Pak Sudaryono dari BGN menjenguk mereka di rumah sakit. Dapur Karangturi dihentikan sementara. BGN sedang mencari penyebabnya dan mengecek makanan di lab.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menjenguk korban yang diduga mengalami keracunan makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah rumah sakit di Kota Semarang, yakni di RS Permata Medika, RS Bhakti Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum pada Sabtu (1/8/2026).

Pada kesempatan ini, Sudaryono menegaskan komitmennya untuk menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap insiden keamanan pangan maupun praktik penyimpangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Saya sebagai Kepala Badan Gizi yang baru ini memastikan zero tolerance terhadap keracunan, zero tolerance terhadap tindak pidana korupsi dan hanky panky, nitip-nitip duit itu nggak boleh lagi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu.

Sudaryono juga memastikan pihaknya telah menjatuhkan sanksi berupa pemberhentian sementara (suspend) kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi yang melayani para penerima manfaat tersebut.

"Jadi dapurnya di-suspend (sambil) menunggu (hasil) investigasi. Jadi kemudian SPPG-nya juga kita beri surat peringatan. Jadi di-suspend ini kan ada mitra, ada yayasan, ada SPPG, ada yang di situ kita beri sanksi termasuk Korcam dan ke atas ini kami beri peringatan," tegasnya.

1. Minta seluruh SPPG wajib patuhi SOP secara ketat

Kepala BGN Sudaryono menjenguk korban yang diduga alami keracunan di Semarang (Dok. BGN)

Sudaryono menegaskan, agar seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib mematuhi standar operasional prosedur (SOP) secara ketat guna mencegah terulangnya insiden keracunan atau keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.

Menurut Sudaryono, kepatuhan terhadap SOP dan sistem pengelolaan dapur merupakan kunci untuk menjamin keamanan makanan yang disajikan kepada para penerima manfaat. Ia menekankan bahwa kepala dapur memiliki tanggung jawab penuh dalam memastikan seluruh prosedur dijalankan dengan disiplin.

"Supaya tidak terulang lagi, harus ikuti SOP. Kemudian SOP diikuti, sistem diikuti, terus kemudian komandannya Kepala Dapur SPPG. Saya paham Anda punya chef, Anda punya pengawas gizi, Anda punya orang-orang yang kerja di situ, barangkali mungkin ada 1-2 ada yang ngeyel-lah. Ya harus ada leadership di situ," ucapnya.

Sudaryono juga meminta kepala SPPG harus bertindak tegas terhadap petugas yang tidak mematuhi prosedur kebersihan dan keamanan pangan, seperti tidak mencuci tangan, tidak menggunakan sarung tangan, atau tidak mengenakan masker saat mengolah makanan.

"Kalau misalnya ada di antara pegawai di dapur itu yang barangkali mungkin susah dikasih tahu untuk cuci tangan-lah, atau memakai SOP harus pakai sarung tangan, pakai masker, ya harus dikeluarkan, harus tegas ini! Karena nyawa, kesehatan dan nyawa seseorang itu sangat berarti. Nggak boleh lagi," tegasmya.

2. BGN investigasi penyebab keracunan di SMK Negeri 6 Semarang

Kepala BGN Sudaryono menjenguk korban yang diduga alami keracunan di Semarang (Dok. BGN)

Adapun kunjungan ke sejumlah rumah sakit itu dilakukan setelah Dinas Kesehatan Kota Semarang melaporkan sebanyak 707 orang, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru SMK Negeri 6 Semarang, diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan MBG pada Jumat (31/7/2026). Mayoritas korban mengalami pusing, mual, muntah, dan diare.

"Jadi ini saya kunjungan ke Semarang merespons dari laporan adanya keracunan dari SMK Negeri 6 Semarang ya. Jadi ada sekitar 700an sekian, kemudian sebagian itu ada yang mual, ada yang buang air dan seterusnya. Dari sekitar 700an itu yang dirawat, yang dirawat 13. Ada yang di rumah sakit, ada yang di puskesmas. Alhamdulillah tadi sudah kita tengok kondisinya sudah baik," ungkap Sudaryono.

Berdasarkan hasil investigasi awal, BGN menduga insiden keracunan dipicu oleh beberapa bahan makanan yang masih dalam proses pemeriksaan laboratorium, serta waktu memasak yang dilakukan terlalu dini sebelum makanan didistribusikan.

"Sejauh ini investigasi yang kami terima adalah ada beberapa bahan, ya ada daun singkong, ada bumbu rendang dan lain-lain, kita lagi cek minta dari Dinas Kesehatan untuk dicek lab-nya. Kita butuh waktu paling tidak ya 7 hari, 5 hari kerja begitu untuk sampai dengan hasilnya. Kemudian kita bisa lihat hasil lab-nya. Tapi sejauh ini investigasi kita adalah dari bahan-bahan itu dan diduga memasaknya jauh lebih awal," lanjutnya.

3. BGN percepat penerapan sistem digital untuk mendokumentasikan dan memantau proses pembuatan MBG

Kepala BGN Sudaryono menjenguk korban yang diduga alami keracunan di Semarang (Dok. BGN)

Untuk mencegah kejadian serupa, BGN tengah mempercepat penerapan sistem digital yang memungkinkan seluruh tahapan produksi makanan terdokumentasi dan dipantau secara menyeluruh, mulai dari waktu memasak, menu, hingga penggunaan bahan dan bumbu.

"Kita sudah siapkan sistemnya. Ini sekarang lagi kita paksa semua dapur, ada Korcam dan lain-lain, lagi kita paksa kita kerja pakai sistem. Jadi kapan kol mulai dicacah, kapan dimasak itu semua kita lock. Dan kita lagi siapkan ini (sistemnya). Kita kebut semua. Moga-moga seminggu dua minggu ini sudah beres. Kemudian, kita harapkan orang tua siswa, guru, dan barangkali Dinas Kesehatan bisa melihat jam berapa dimasak, apa saja yang dimasak, bumbu apa yang dimasukkan tuh harus kemudian tersistem, termonitor semua," ujar Sudaryono.

Editorial Team

Related Article