Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karhutla Meluas, Madani Duga Ada Kegagalan Tata Kelola Lahan
Lahan seluas 673,4 hektare terdampak karhutla di Taman Nasional Way Kambas, petugas gabungan terus berupaya melakukan pemadaman, Kelurahan Kuala Penet, Kecamatan Resort Kuala Penet, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung (21/8/2026). (Dok. BNPB)
  • Yayasan Madani Berkelanjutan menilai El Nino hanya pemantik karhutla, sementara kebijakan, tata kelola, perizinan, dan perubahan ekosistem membuat lahan makin rentan terbakar.
  • Analisis Madani menunjukkan lebih dari 50 persen area terbakar berada di wilayah perizinan dan konsesi, termasuk hutan terkonversi, gambut yang dikeringkan, serta ekosistem monokultur.
  • Karhutla disebut mencerminkan kegagalan mitigasi yang seharusnya dilakukan sejak El Nino diprediksi; asap dan hilangnya penghidupan paling dirasakan kelompok rentan, masyarakat adat, serta komunitas lokal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
10 September 2026

Yayasan Madani Berkelanjutan menggelar diskusi daring bertema “Sudah Jatuh, Tertimpa Asap” mengenai karhutla di sejumlah wilayah Indonesia. Nadia Hadad menyebut lebih dari 50 persen lahan terbakar berada di wilayah perizinan dan konsesi serta menilai karhutla mencerminkan kegagalan tata kelola dan kesiapsiagaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Yayasan Madani Berkelanjutan menyoroti meluasnya kebakaran hutan dan lahan serta dugaan kegagalan tata kelola lahan, dengan lebih dari 50 persen area terbakar berada di wilayah perizinan dan konsesi.
  • Who?
    Yayasan Madani Berkelanjutan dan Executive Director Nadia Hadad menyampaikan analisis tersebut; masyarakat adat, komunitas lokal, anak-anak, lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas terdampak asap serta hilangnya penghidupan.
  • Where?
    Kebakaran terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk kawasan hutan yang telah dikonversi, lahan gambut yang dikeringkan, serta wilayah perizinan dan konsesi.
  • When?
    Diskusi daring bertema “Sudah Jatuh, Tertimpa Asap” diselenggarakan pada Kamis, 10 September 2026. Waktu terjadinya kebakaran di masing-masing wilayah per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    El Nino dan kemarau panjang disebut memperparah kebakaran, sementara perubahan ekosistem, konversi lahan, pengeringan gambut, kebijakan, tata kelola, dan perizinan dinilai membuat kawasan lebih rentan terbakar.
  • How?
    Kebakaran meluas pada kawasan yang ekosistemnya berubah, termasuk menjadi monokultur seperti sawit. Nadia Hadad menyatakan prediksi El Nino seharusnya diikuti peningkatan kesiapsiagaan dan mitigasi sebelum api meluas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kebakaran hutan dan lahan makin luas di Indonesia. Nadia dari Yayasan Madani bilang El Nino membuat api lebih parah. Tapi banyak lahan sudah diubah dan kurang dijaga. Lebih dari setengah tempat terbakar ada di wilayah izin. Warga hutan, anak-anak, dan orang tua jadi kena asap dan susah mencari hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah sorotan atas karhutla, diskusi Madani Berkelanjutan menghadirkan dasar yang lebih jelas untuk memahami kerentanan lahan dan dampaknya. Pengakuan bahwa masyarakat adat serta komunitas lokal menjaga ekosistem melalui kearifan mereka juga menempatkan pengetahuan setempat sebagai unsur penting dalam pembacaan persoalan ini secara lebih adil dan menyeluruh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Yayasan Madani Berkelanjutan menyelenggarakan diskusi umum terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, dengan mengusung tema “Sudah Jatuh, Tertimpa Asap”, yang diselenggarakan via daring, Kamis (10/9/2026).

Executive Director Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad, menyampaikan El Nino memang dapat menjadi pemantik yang memperparah kebakaran. Namun, besarnya dampak karhutla berkaitan dengan perubahan ekosistem dan tata kelola lahan yang membuat kawasan lebih rentan terbakar.

“Emang El Nino itu adalah pemantik. Tapi bahan bakarnya ini diciptakan oleh kebijakan, tata kelola, perizinan, dan lain-lain, yang tidak siap sedia untuk bisa siaga,” ujar Nadia.

Berdasarkan analisis yang dipaparkan, Nadia juga menyebutkan, lebih dari 50 persen lahan yang terbakar berada di wilayah perizinan dan konsesi.

1. Lebih dari 50 persen area terbakar berada di wilayah konsesi

Petugas karhutla temukan alat berat pembukaan hutan ilegal. (IDN Times/istimewa).

Data yang dipaparkan dalam Madani Berkelanjutan menunjukkan lebih dari 50 persen lahan terbakar berada di wilayah perizinan dan konsesi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran tidak hanya terjadi secara acak di kawasan hutan. Sebagian area yang terbakar justru berada di wilayah yang sebelumnya mengalami perubahan tata guna lahan.

“Dan ini jelas dianalisanya. Jadi di hutan-hutan yang sudah dikonversi, di gambut, di gambut yang dikeringkan. Ekosistem ini yang sudah berubah jadi monokultur seperti sawit dan lain-lain” kata dia.

Menurut Nadia, fakta ini menunjukkan pentingnya melihat bagaimana lahan dikelola, termasuk kebijakan dan sistem perizinan yang berlaku.

2. Karhutla dinilai menunjukkan kegagalan sistem

Suasana karhutla di Kalbar. (IDN Times/adpim).

Nadia juga menilai karhutla bukan sekadar bencana alam yang tidak dapat dicegah, dan menyebut kebakaran sebagai persoalan yang berkaitan juga dengan kegagalan sistem.

Menurut Nadia, kondisi El Nino seharusnya dapat diprediksi. Dengan adanya prediksi tersebut, pemerintah dan pihak terkait semestinya dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan mitigasi sebelum kebakaran meluas.

"Harusnya bisa diprediksi untuk bisa mengatasi, memitigasi supaya tidak terjadi kebakaran," katanya.

Dengan demikian, kata Nadia, kemunculan El Nino seharusnya menjadi peringatan untuk memperkuat pencegahan, bukan menjadi alasan setelah kebakaran terjadi.

Kemarau panjang dan El Nino memang memperburuk situasi kebakaran. Namun, kata Nadia, kondisi tersebut tidak bisa dianggap sebagai satu-satunya penyebab karhutla yang terjadi.

3. Masyarakat lokal justru ikut menanggung dampaknya

Kondisi Kota Palembang yang diselimuti kabut asap akibat Karhutla. (IDN Times Rangga Efrizal)

Meluasnya kebakaran tidak hanya berdampak pada lingkungan. Akan tetapi, kata Nadia, juga pada masyarakat yang tinggal di kawasan hutan harus menghadapi asap dan kehilangan sumber penghidupan.

Nadia menyebut kelompok yang rentan seperti anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas, serta masyarakat adat dan komunitas lokal, disebut menjadi kelompok yang ikut menanggung dampak besar.

Padahal, menurut Nadia, masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama ini mengelola kawasan dengan kearifan lokal, disebut bukan sebagai akar masalah kebakaran.

“Mereka yang hidup di hutan selama berabad-abad, mereka bukan sebagai penyebab kebakaran ini. Karena emang praktik pengolahan lahan mereka kan sudah berdasarkan kearifan lokal justru menjaga ekosistem. Padahal mereka hampir sama sekali tidak berkontribusi terhadap penyebab kebakaran,” tegas Nadia.

Kondisi tersebut dinilai menunjukkan adanya ketidakadilan, karena kelompok yang bahkan tidak berkontribusi terhadap penyebab kebakaran justru ikut menerima dampak yang besar.

Curated For You

Editorial Team

Related Article