Uni Eropa Beri Spanyol Rp2,9 Triliun untuk Tangani Krisis Migran Ceuta

- Komisi Eropa menyetujui bantuan 114,7 juta euro atau Rp2,9 triliun bagi Spanyol untuk menangani krisis migrasi di Ceuta setelah 72 ribu imigran ilegal Maroko masuk pada akhir Juli.
- Dana dialokasikan untuk migrasi, suaka, integrasi, manajemen perbatasan, dan visa; termasuk penambahan kamera thermal, peningkatan sistem pengawasan, serta drone bawah laut.
- Pemerintah Spanyol menyatakan CNI telah memperingatkan Ceuta sebelum insiden, sementara Menteri Luar Negeri Jose Antonio Albares mendesak Ceuta dan Melilla masuk Serikat Pabean UE.
Jakarta, IDN Times - Komisi Eropa setuju memberikan dana sebesar 114,7 juta euro (Rp2,9 triliun) ke Spanyol pada Rabu (9/9/2026). Dana tersebut untuk membantu pemerintah Spanyol dalam mengatasi krisis migrasi di Ceuta usai masuknya 72 ribu imigran ilegal asal Maroko pada akhir Juli.
Sebelumnya, ribuan warga Spanyol sudah mengadakan demonstrasi besar-besaran di sejumlah kota. Mereka memprotes pemerintah Spanyol yang kurang bertindak dalam menangani masalah migrasi di Ceuta.
1. Bantuan sebagai bentuk solidaritas kepada Spanyol

ilustrasi bendera Spanyol (unsplash.com/harlynkingm) Komisi Eropa menyebut bahwa bantuan ini sebagai salah satu respons Uni Eropa (UE) atas krisis migrasi di Ceuta. Keputusan ini menunjukkan bahwa UE peduli dan bersolidaritas penuh kepada Spanyol atas masalah migrasi di Ceuta.
Dilansir Euronews, dana tersebut akan dialokasikan sebesar 82,7 juta euro (Rp1,68 triliun) untuk Dana Migrasi, Suaka, dan Integrasi UE. Sedangkan sisanya sebesar 32 juta euro (Rp651 miliar) berfungsi untuk manajemen perbatasan dan visa.
Dana bantuan itu akan digunakan untuk meningkatkan keamanan dan pengawasan di perbatasan. Nantinya, akan ada penambahan kamera pengawas thermal, peningkatan sistem pengawasan, dan drone bawah laut.
2. Spanyol sebut sudah mengingatkan Ceuta soal krisis migrasi
Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez. (Arne Müseler / www.arne-mueseler.com, CC BY-SA 3.0 DE, via Wikimedia Commons) Pada hari yang sama, Badan Intelijen Spanyol (CNI) sudah memperingatkan pemerintah Ceuta soal kemungkinan masuknya ribuan imigran Maroko sehari sebelum kejadian. CNI juga memperingatkan polisi untuk berjaga-jaga di perbatasan.
Dilansir DPA International, Perdana Menteri (PM) Spanyol, Pedro Sanchez menampik buruknya kinerja CNI untuk mencegah krisis migrasi. Ia menekankan bahwa CNI sudah bekerja dengan baik dan memberi peringatan sebelum insiden masuknya ribuan imigran terjadi.
3. Spanyol dorong Ceuta masuk dalam Serikat Pabean UE

Gedung Pemerintahan Ceuta, Spanyol. (Diego Delso, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Antonio Albares terus mendesak agar UE memperhatikan lebih kondisi perbatasan sisi selatan. Ia berharap UE tidak hanya terpaku pada perbatasan di sisi timur.
Ia menekankan bahwa tantangan dan tekanan migrasi di perbatasan selatan begitu besar. Sebab, disparitas antara Afrika dan Eropa dalam ranah pendidikan dan pendapatan sangatlah besar sehingga mendorong penduduk Afrika pindah ke Eropa secara ilegal.
Albares mendorong agar Komisi Eropa dapat memasukkan Ceuta dan Melilla masuk dalam Serikat Pabean UE (EUCU). Kedua wilayah terluar Spanyol itu belum masuk dalam EUCU sejak Spanyol bergabung dalam European Economic Community (EEC) pada 1986.




















