Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kekerasan pada Ibu Tingkatkan Risiko Stunting, Ancam Bonus Demografi!
Media breafing Kemendukbangga/BKKBN, Kamis (30/7/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)
  • Kemendukbangga/BKKBN menilai kekerasan terhadap perempuan dan gangguan kesehatan mental mengancam kualitas SDM serta pemanfaatan bonus demografi Indonesia.
  • Kekerasan terhadap ibu dapat meningkatkan risiko stunting karena tekanan berpotensi menghambat ASI eksklusif dan pemenuhan gizi bayi.
  • Kemendukbangga mendorong pencegahan berbasis keluarga melalui sertifikasi siap nikah, pemberdayaan perempuan, penguatan TPK, peran ayah, dan kampanye media.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menegaskan kekerasan terhadap perempuan dan gangguan kesehatan mental menjadi ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia (SDM) dan keberhasilan bonus demografi Indonesia. Isu tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga masa depan pembangunan keluarga dan negara.

"Kalau SDM-nya itu penuh dengan ketidakstabilan, kekerasan, tidak memiliki ketahanan, daya juang, dan seterusnya yang positif, tentu itu akan membawa pada efek yang buruk bagi proses kapitalisasi bonus demografi itu sendiri," kata Sekretaris Kementerian/Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN, Prof. Budi Setiyono, dalam media briefing, Kamis (30/7/2026).

1. Kekerasan dinilai mengancam bonus demografi

Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN, Prof. Budi Setiyono. (Dok. Kemendukbangga/BKKBN)

Budi mengatakan bonus demografi hanya dapat dimanfaatkan bila Indonesia memiliki SDM yang sehat secara fisik dan mental. Karena itu, keluarga dinilai menjadi benteng utama untuk mencegah remaja terjerumus dalam kekerasan, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, hingga perilaku berisiko lainnya.

"Oleh karena itu memang ini dibutuhkan satu langkah-langkah yang sifatnya terintegrasi dan komprehensif, tidak hanya pada satu sektor dan kementerian saja," ujarnya.

Dia mengatakan Kemendukbangga mengoordinasikan berbagai kementerian dan lembaga agar pembinaan remaja berjalan lebih efektif.

2. Kekerasan terhadap ibu disebut meningkatkan risiko stunting

Media breafing Kemendukbangga/BKKBN, Kamis (30/7/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Deputi Bidang Kebijakan Strategi Pembangunan Keluarga, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Ukik Kusuma Kurniawan, mengatakan kekerasan terhadap perempuan tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga meningkatkan risiko stunting pada anak.

"Kekerasan terhadap perempuan itu dampaknya juga pada janin dan bayi yang dikandung serta yang sudah lahir ya. ASI-nya bisa berhenti gitu ya," kata dia.

Menurutnya, tekanan akibat kekerasan dapat menghambat pemberian ASI eksklusif sehingga berdampak pada pemenuhan gizi bayi.

"Rumah tangga tanpa kekerasan adalah prasyarat utama keberhasilan intervensi gizi. Itu adalah pesan kunci yang ingin kita sampaikan pada siang hari ini," ujarnya.

3. Kemendukbangga dorong pencegahan berbasis keluarga

Ilustrasi ibu dan anak (unsplash.com/alvarordesign)

Ukik mengatakan Kemendukbangga menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat perlindungan perempuan dan anak. Di antaranya melalui sertifikasi siap nikah, pemberdayaan ekonomi perempuan, penguatan Tim Pendamping Keluarga (TPK), peningkatan peran ayah dalam pengasuhan, hingga kampanye bersama media.

"Kami sangat berkepentingan untuk pencegahan primer berbasis keluarga pada first hand, tangan pertama berbasis keluarga itu penting sekali sebagai unit terkecil dari masyarakat itu kita upayakan pencegahan kekerasan semaksimal mungkin," katanya.

Dia menegaskan perlindungan perempuan dan anak menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas SDM menuju Indonesia Emas 2045.

Curated For You

Editorial Team

Related Article