Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
KNKT: Tidak Ditemukan Kesalahan Teknis di Taksi Listrik GSM
Proses evakuasi bangkai gerbong KRL perempuan yang mengalami kecelakaan dengan KA Argo Bromo Anggrek masih berlangsung hingga Selasa (28/4/2026) sore. (IDN Times/Pitoko)
  • KNKT memastikan taksi listrik GSM tidak mengalami kerusakan teknis sebelum tabrakan pertama di Bekasi Timur, berdasarkan data kotak hitam yang menunjukkan sistem kendaraan berfungsi normal.
  • Kecelakaan terjadi dalam dua tahap: tabrakan pertama antara taksi listrik dan KRL 5181, disusul tabrakan kedua antara Argo Bromo Anggrek dan PLB 5568 yang menewaskan belasan orang.
  • KNKT menemukan masalah pada sistem persinyalan dan komunikasi antar unit kendali operasional, yang menyebabkan sinyal tetap hijau serta keterlambatan koordinasi sebelum tabrakan kedua terjadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
27 April

Kecelakaan kereta terjadi di Bekasi Timur. Tabrakan pertama melibatkan taksi listrik dengan KRL 5181, disusul tabrakan kedua antara Argo Bromo Anggrek dan PLB 5568 yang menewaskan belasan orang.

pukul 12:08

KNKT mencatat kendaraan dipindahkan ke posisi netral pada waktu ini sebelum tabrakan pertama terjadi.

pukul 20:48:29

Taksi listrik tertabrak oleh KRL menuju Jakarta dalam tabrakan pertama di perlintasan tidak resmi.

pukul 20:50:43

Kereta Argo Bromo Anggrek masih mendapat sinyal hijau dari Stasiun Bekasi dan tiga menit kemudian menabrak PLB 5568 yang berhenti di jalur sama.

21 Mei

Sidang digelar di Gedung DPR RI membahas hasil penyelidikan KNKT. Dinyatakan tidak ada kesalahan teknis pada taksi listrik dan ditemukan masalah pada sistem persinyalan serta komunikasi antarunit kendali operasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    KNKT menyampaikan hasil penyelidikan awal kecelakaan di Bekasi Timur, menegaskan tidak ditemukan kesalahan teknis pada taksi listrik GSM yang terlibat dalam tabrakan pertama dengan kereta komuter KRL 5181.
  • Who?
    Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Komisi V DPR RI, Kementerian Perhubungan, Kepolisian Nasional, operator kereta api, serta pengemudi taksi listrik dan masinis kereta yang terlibat.
  • Where?
    Kecelakaan terjadi di perlintasan kereta tidak resmi kawasan Bekasi Timur, Jawa Barat; sidang pembahasan berlangsung di Gedung DPR RI, Jakarta.
  • When?
    Kecelakaan terjadi pada 27 April malam hari; sidang pembahasan temuan KNKT digelar pada 21 Mei di hadapan Komisi V DPR RI.
  • Why?
    Kecelakaan berawal dari taksi listrik yang berhenti di rel dan tertabrak KRL, disusul tabrakan kedua akibat sinyal hijau tetap menyala meski jalur depan telah terhalang kereta lain.
  • How?
    Taksi listrik meluncur bebas karena tuas gigi berada di posisi netral; setelah berhenti di rel, kendaraan gagal bergerak. Beberapa menit kemudian dua kereta bertabrakan akibat gangguan sistem persinyalan dan keterlambatan komunikasi operasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam sidang yang digelar pada 21 Mei di Gedung DPR RI, terungkap detail baru mengenai kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Para penyidik memastikan bahwa taksi yang terlibat tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan teknis sebelum tabrakan terjadi.

Dalam sidang yang berlangsung di hadapan Komisi V DPR RI dihadiri oleh Kementerian Perhubungan, Kepolisian Nasional, operator kereta api, dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), para pejabat mengungkapkan sejumlah temuan teknis untuk pertama kalinya, yang memberikan gambaran lebih jelas mengenai penyebab kecelakaan kereta pada 27 April di Bekasi Timur, Indonesia.

1. KNKT memisahkan analisis terkait tabrakan pertama dan kedua

Berdasarkan hasil sidang, KNKT memisahkan analisis antara tabrakan pertama yang melibatkan taksi listrik dengan kereta komuter KRL 5181 dan tabrakan kedua yang melibatkan kereta antarkota Argo Bromo Anggrek dengan kereta PLB 5568.

Rangkaian kejadian bermula ketika taksi listrik terjebak di sebuah perlintasan kereta tidak resmi dan tertabrak oleh kereta komuter KRL 5181. Inilah tabrakan pertama. Setelah menerima laporan kejadian tersebut, kereta PLB 5568 berhenti di jalur terpisah yang berdampingan untuk menunggu instruksi lebih lanjut dan memastikan keamanan operasional.

Beberapa menit kemudian, PLB 5568 ditabrak dari belakang oleh kereta antarkota Argo Bromo Anggrek yang menghantam gerbong belakangnya dalam tabrakan kedua, yang mengakibatkan sedikitnya belasan orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.

2. Tidak ditemukan kesalahan teknis pada taksi listrik

Dalam keterangannya di hadapan Komisi V DPR, Kepala KNKT menyampaikan bahwa data yang diperoleh dari kotak hitam taksi listrik bernomor polisi B 2864 SBX tidak menunjukkan adanya kesalahan sistem sebelum tabrakan pertama terjadi.

Perwakilan KNKT menyatakan,"Data dari perangkat pemantau kendaraan B 2864 SBX tidak mencatat adanya kesalahan sistem berdasarkan data yang dikumpulkan dalam satu jam sebelum kejadian."

Lembaga ini juga menyatakan bahwa kendaraan tersebut "telah lulus uji kompatibilitas elektromagnetik berdasarkan standar India," mengacu pada EMC AIS-004, yang setara dengan standar internasional UN R10. Kendaraan-kendaraan di Indonesia secara hukum tidak diwajibkan mengikuti standar tersebut.

Menurut KNKT, data kotak hitam menunjukkan taksi beroperasi secara normal dengan kecepatan sekitar 15 km/jam saat menuruni tanjakan menuju area perlintasan kereta, dengan tuas pemilih gigi berada di posisi D (Drive).

Kendaraan kemudian dipindahkan ke posisi N (Netral) dan meluncur bebas dengan kecepatan antara 3 hingga 7 km/jam. KNKT menyatakan masih belum jelas mengapa kendaraan dipindahkan ke posisi netral pada pukul 12:08.

Saat kendaraan mendekati perlintasan, pengemudi berusaha menekan gas untuk memindahkan taksi keluar dari rel. Namun, karena kendaraan masih berada di posisi N, mobil tidak dapat menyalurkan tenaga ke roda.

"Pengemudi berusaha menekan pedal gas hingga 25%. Namun, karena kendaraan masih dalam posisi N, tidak ada tenaga yang disalurkan ke roda dan kendaraan terus meluncur bebas," kata Ketua KNKT. Pengemudi kemudian meningkatkan injakan gas hingga 51%, tetapi kendaraan tetap tidak bergerak karena tuas pemilih gigi masih di posisi N, hingga kecepatan kendaraan akhirnya turun ke nol.

Perwakilan KNKT menambahkan bahwa setelah taksi berhenti di atas rel, "tuas pemilih gigi dipindahkan ke posisi D (Drive), namun pengemudi tidak menekan pedal gas."

Selanjutnya, "Tuas pemilih gigi dipindahkan ke posisi P (Parkir), setelah itu pengemudi menekan pedal gas, menginjak rem, dan berulang kali menekan tombol start/stop. Namun, karena kendaraan masih berada dalam posisi P, kendaraan tidak dapat bergerak.

3. Adanya permasalahan persinyalan

Di luar persoalan seputar taksi, sebagian besar pembahasan dalam sidang berfokus pada mengapa kereta Argo Bromo Anggrek terus melaju meskipun kereta lain sudah berhenti di jalur yang sama di depannya.

Menurut KNKT, tabrakan antara taksi listrik dan KRL menuju Jakarta terjadi pada pukul 20:48:29. Namun pada pukul 20:50:43, kereta Argo Bromo Anggrek masih mendapat sinyal hijau untuk melanjutkan perjalanan melalui Stasiun Bekasi. Hanya 3 menit 43 detik setelah tabrakan pertama, kereta tersebut menabrak PLB 5568 yang sedang berhenti di Bekasi Timur.

KNKT juga mencatat bahwa PLB 5568 telah mengalami keterlambatan sekitar delapan menit dari jadwal, sementara kereta Argo Bromo Anggrek "beroperasi tiga menit lebih awal dari jadwal kedatangannya di Stasiun Bekasi Timur."

4. Sinyal pada jalur berdampingan tetap hijau alih-alih menjadi merah

Dalam sesi tersebut, seorang anggota DPR mempertanyakan mengapa setelah tabrakan pertama terjadi, sinyal pada jalur berdampingan tetap hijau alih-alih beralih ke merah untuk menghentikan kereta yang datang.

Menanggapi hal tersebut, KNKT menjelaskan bahwa sistem pengiriman di Stasiun Bekasi "hanya bertanggung jawab atas pergerakan kereta hingga titik 14T." Akibatnya, sinyal J12 masih dapat menampilkan cahaya hijau meskipun PLB 5568 masih berhenti lebih jauh di depan pada jalur yang sama.

Selain sistem sinyal utama, KNKT juga mengungkapkan permasalahan pada persinyalan tambahan di lokasi kecelakaan. Kecelakaan terjadi pada malam hari di kawasan yang dikelilingi banyak sumber cahaya dari pasar dan pemukiman warga sekitar. "Masinis mengalami kesulitan membedakan sinyal yang sebenarnya karena adanya cahaya putih dari lapak pasar dan rumah-rumah di dekat rel."

"Di sekitar lokasi sinyal UB104, terdapat sumber cahaya dari rumah-rumah dan lampu jalan dengan intensitas dan warna yang serupa dengan sinyal UB104 itu sendiri," ungkap lembaga tersebut.

KNKT menegaskan: "Apabila masinis dapat melihat sinyal tambahan dengan jelas, kecelakaan ini mungkin dapat dihindari. Namun, karena adanya gangguan visual, baik masinis maupun asisten masinis tidak dapat melihatnya dengan baik yang berarti terdapat masalah pada sinyal UB."

5. Adanya unit kendali operasional terpisah

Permasalahan lain yang diangkat menyangkut keterlambatan komunikasi antara berbagai otoritas pengiriman kereta yang berbeda. Menurut KNKT, kereta pemeliharaan PLB 5568 dan kereta Argo Bromo Anggrek dikelola oleh unit kendali operasional yang terpisah.

"PK Selatan harus memberitahu supervisor terlebih dahulu, supervisor kemudian menginformasikan ke PK Timur, dan baru setelah itu PK Timur dapat menghubungi masinis." Menurut KNKT, rantai komunikasi ini menciptakan keterlambatan dan menjadi aspek yang perlu diperbaiki. (WEB/TAMA)

Editorial Team