Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Sudah 90 Persen Hilang usai Diserang

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Sudah 90 Persen Hilang usai Diserang
Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Donald Trump menyatakan kekuatan militer Iran lumpuh dan menyebut Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, sudah 90 persen hilang usai serangan udara AS-Israel.
  • Mojtaba Khamenei belum muncul di publik sejak luka akibat serangan yang menewaskan ayahnya, sementara Iran menegaskan akan membalas kematian sang pemimpin.
  • Eskalasi konflik AS-Iran memanas di Selat Hormuz, mengganggu jalur minyak global dan menggagalkan kesepakatan gencatan senjata sementara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim kekuatan militer Iran telah lumpuh setelah serangan udara yang dilakukan AS bersama Israel. Dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (13/7/2026), Trump juga mengatakan Teheran kehilangan para komandan utamanya dan menyebut Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, sudah “90 persen hilang”.

“Mereka tak memiliki angkatan laut, mereka tak memiliki angkatan udara, semuanya hilang. Sistem pertahanan udara mereka hilang, para pemimpin mereka semua telah terbunuh, para pemimpin terbaik mereka telah terbunuh,” kata Trump, dikutip NDTV, Selasa (14/7/2026).

Media juga menyoroti bahwa Trump sempat keliru menyebut nama Ali Khamenei sebagai “Khomeini”, yaitu pemimpin Revolusi Iran yang wafat pada 1989, sebelum kemudian merujuk kepada Mojtaba Khamenei sebagai penerus kepemimpinan Iran.

1. Mojtaba Khamenei menghilang dari hadapan publik

Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei (Hamed Malekpour, Atribusi: Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

NDTV melaporkan Mojtaba belum pernah terlihat di depan publik sejak mengalami luka dalam serangan udara besar pada 28 Februari 2026 yang juga menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Sorotan terhadap keberadaan dan kondisi kesehatannya semakin menguat setelah ia tak hadir dalam upacara pemakaman kenegaraan sang ayah di Teheran pekan lalu.

Saluran televisi pemerintah Iran sempat menayangkan momen saat tiga putra Ali Khamenei lainnya ikut menyalatkan jenazah bersama jajaran elite politik dan militer. Namun, Mojtaba tidak tampak di sana.

Berdasarkan pemberitaan media pemerintah Iran yang dikutip Times of India, absennya sang pemimpin baru tersebut dikarenakan alasan keamanan. Meski demikian, Mojtaba sempat merilis pernyataan tertulis melalui kanal Telegram resminya. Ia menegaskan bahwa membalas darah sang ayah dan para martir adalah tuntutan bangsa yang wajib dilaksanakan.

2. Konflik AS memicu eskalasi baru

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran
ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Saling serang antara AS dan Iran kembali pecah sehingga mengakhiri gencatan senjata sementara yang sempat berlangsung selama beberapa bulan. Trump juga telah mengirim pemberitahuan resmi kepada Kongres AS mengenai dimulainya kembali operasi militer ke wilayah Iran melalui beberapa gelombang serangan udara, sekaligus mengumumkan rencana menarik biaya keamanan bagi kapal asing yang melintasi jalur tersebut.

Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke Bahrain serta dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab (UEA). Serangan itu menewaskan seorang pelaut asal India dan melukai delapan orang, sedangkan UEA merespons dengan ancaman akan melakukan aksi balasan.

3. Selat Hormuz menjadi pusat perebutan kendali

Penampakan Selat Hormuz dari satelit
Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Perhatian kedua negara kini berpusat pada Selat Hormuz yang menjadi jalur maritim strategis bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia pada masa damai. Aktivitas pelayaran komersial di kawasan itu juga terganggu setelah Iran menyerang sebuah kapal kontainer di dekat pesisir Oman.

Konfrontasi bersenjata yang kembali terjadi turut mengakhiri harapan terhadap kesepakatan interim selama 60 hari antara AS dan Iran. Kesepakatan yang semula diharapkan membuka jalan menuju perundingan lebih luas itu kini telah digantikan oleh kembali terjadinya aksi saling serang militer.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More