"Indonesia membutuhkan kekuatan pertahanan laut yang modern dan tangguh. Hal ini menuntut TNI untuk terus meningkatkan kesiapan serta kemampuan operasionalnya dalam menghadapi berbagai macam tugas ke depan," kata Agus.
KRI Sriwijaya Batal Tampil Perdana di Naval Parade HUT ke-81 TNI

KRI Sriwijaya-100 batal tampil perdana di naval parade Selat Sunda setelah perayaan HUT ke-81 TNI diputuskan berlangsung sederhana dan efisien.
Kapal induk eks Garibaldi Italia resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100, merujuk kerajaan maritim besar Nusantara sesuai tradisi penamaan kapal induk TNI AL.
Kemenhan memperkirakan retrofit KRI Sriwijaya-100 mencapai Rp7,5 triliun, mencakup fasilitas, medis, AC tropis, dan dukungan OMSP seperti bencana serta bantuan kemanusiaan.
Jakarta, IDN Times - Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali membenarkan KRI Sriwijaya-100 batal tampil perdana dalam naval parade, yang akan digelar pada Minggu, 4 Oktober 2026 di perairan Selat Sunda. Acara itu semula merupakan rangkaian HUT ke-81 TNI.
Batalnya acara naval parade seiring dengan keputusan Presiden Prabowo Subianto yang juga meniadakan puncak HUT ke-81 di Monas, Jakarta Pusat, pada Senin, 5 Oktober 2026. Selain naval parade dan defile alutsista, atraksi jet tempur fly pass juga ditiadakan pada HUT TNI kali ini.
"Kalau itu batal (tampil di naval parade)," ungkap Ali di Tanjung Priok, Jakarta Utara Kamis, 24 September 2026.
Ali menjelaskan alasan KRI Sriwijaya-100 batal tampil karena perayaan HUT ke-81 TNI akan diselenggarakan sederhana dan efisien. Maka, TNI Angkatan Laut (AL) masih menunggu perintah misi pertama KRI Sriwijaya-100 seiring dengan kebutuhan retrofit kapal induk tersebut.
"Kami tunggu perintah. Kalau ada perintah, kami siap," tutur dia.
1. Kapal induk Garibaldi Italia resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Sebelumnya, pada Kamis, 24 September 2026, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memimpin seremoni pergantian nama dari Garibaldi menjadi KRI Sriwijaya-100. Pergantian nama diselenggarakan melalui upacara pergantian bendera di atas geladak kapal yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Menurut Agus, keberadaan KRI Sriwijaya-100 tepat di tengah perkembangan lingkungan strategis yang semakin kompleks, sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas dan posisi geografis yang sangat strategis.
2. Pemilihan nama Sriwijaya karena sesuai kerajaan maritim terbesar pada masanya

Upacara pergantian nama Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia menjadi KRI Sriwijaya di atas geladak kapal yang bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Pada forum itu, Ali turut menjelaskan soal alasan di balik pemilihan nama Sriwijaya untuk kapal dengan bobot nyaris 14 ribu ton tersebut. Nama tersebut dipilih karena Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim tertua dan besar dalam sejarah Nusantara.
"Jadi, tadi di dalam upacara sebenarnya dibacakan kenapa disebutkan, kenapa dinamakan KRI Sriwijaya. KRI Sriwijaya ini merujuk ke kerajaan maritim Indonesia yang tertua. Bahkan, usianya lebih tua dari Majapahit. Makanya dipilih itu," kata Ali.
Menurut dia, Sriwijaya memiliki rekam sejarah sebagai kekuatan maritim yang membawa kejayaan Nusantara pada masa lalu. Karena itu, penggunaan nama tersebut diharapkan dapat menjadi simbol untuk menghidupkan kembali kejayaan maritim Indonesia.
"Dan itu membawa kejayaan di era masa lalu. Nah, ini harapannya dengan penamaan itu kita akan mengembalikan keemasan atau kejayaan kemaritiman Nusantara seperti yang lalu," tutur dia.
Sementara narator upacara menjelaskan, dalam tradisi TNI AL, pemberian nama kapal perang memiliki aturan dan kategori tertentu. Landasan formalnya tercantum dalam Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut.
Berdasarkan ketentuan tersebut, kapal perang diberi nama sesuai kategori jenis dan fungsinya. Untuk kapal induk, penamaan merujuk pada kerajaan-kerajaan maritim besar Nusantara, seperti Sriwijaya dan Majapahit.
3. Biaya modifikasi kapal induk Garibaldi mencapai Rp7,5 triliun

Kapal Giuseppe Garibaldi ketika tiba di Dermaga 107 Tanjung Priok, Jakarta Utara. (IDN Times/Santi Dewi) Sementara, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait, mengatakan kapal induk Garibaldi akan dimodifikasi lebih dulu agar sesuai kebutuhan TNI Angkatan Laut. Proses tersebut dinamakan retrofit.
Ketika IDN Times tanyakan anggaran yang dikeluarkan untuk retrofit, Rico menyebut, dana yang dikeluarkan mencapai Rp7,5 triliun.
"Mengenai anggaran retrofit dan pemeliharaan kapal, saat ini Kemhan masih melakukan penghitungan secara komprehensif yang mengacu pada lingkup kerja yang dibutuhkan. Biaya yang diperkirakan mencapai sekitar Rp7,5 triliun," ujar Rico melalui pesan pendek, Selasa, 22 September 2026.
Rico menjelaskan, beberapa hal yang perlu dimodifikasi di Kapal Garibaldi, mulai dari fasilitas pendukung, peningkatan kapabilitas pelayanan medis, penyesuaian sistem pengkondisian udara (AC) untuk operasional wilayah tropis hingga pemenuhan sarana prasarana pendukung operasional serta perawatannya secara berkelanjutan.
"Langkah modifikasi ini difokuskan agar kapal memiliki kesiapan teknis yang optimal, khususnya dalam mendukung Operasi Militer Selain Perang (OMSP) seperti penanggulangan bencana alam, bantuan kemanusiaan, hingga dukungan logistik dan pangkalan udara terapung untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," kata jenderal bintang satu itu.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















