Puluhan Negara Imbau Warganya Siapkan Stok Darurat, Pakar Ingatkan Indonesia

Dr. Daryono menekankan kesiapsiagaan menghadapi ancaman multidimensi, termasuk bencana alam, cuaca ekstrem, pandemi, gangguan infrastruktur, serangan siber, dan konflik geopolitik.
Imbauan menyiapkan perlengkapan darurat dinilai sebagai manajemen risiko modern, agar masyarakat mandiri dan mampu bertahan saat bantuan, listrik, komunikasi, transportasi, serta logistik terganggu.
Bagi Indonesia yang berisiko multibencana tinggi, setiap keluarga dianjurkan memiliki tas siaga berisi kebutuhan dasar, dokumen penting, serta memahami jalur evakuasi dan prosedur penyelamatan.
Jakarta, IDN Times - Praktisi Mitigasi Bencana sekaligus Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman kedaruratan, mulai dari bencana alam, cuaca ekstrem, pandemi, gangguan infrastruktur, serangan siber, hingga konflik geopolitik.
Hal ini merespons pemberitaan The Sun pada 2 November 2026 mengenai puluhan negara yang mengimbau warganya untuk menyiapkan stok atau perlengkapan darurat menghadapi berbagai kemungkinan krisis.
"Perlengkapan darurat menunjukkan semakin pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman multidimensi. Dunia kini menghadapi risiko yang semakin kompleks, mulai dari bencana alam, cuaca ekstrem, pandemi, gangguan infrastruktur, serangan siber, hingga konflik geopolitik," ucap Daryono dalam keterangan, dikutip Kamis (5/11/2026).
1. Pendekatan manajemen risiko modern

ilustrasi isi tas siaga bencana (pexels.com/Roger Brown) Menurut Daryono, imbauan tersebut tidak perlu dimaknai sebagai pertanda bahwa bencana besar atau perang dunia akan segera terjadi. Sebaliknya, langkah itu merupakan bagian dari pendekatan manajemen risiko modern yang mengutamakan antisipasi dan kesiapan masyarakat sebelum krisis terjadi.
"Ini merupakan pendekatan manajemen risiko modern yang mengutamakan antisipasi, kesiapan mandiri, dan ketahanan masyarakat sebelum krisis terjadi," kata Daryono.
2. Masyarakat harus mampu bertahan pada fase awal

Upaya penanggulangan bencana hidrometeorologi di Kabupaten Malang. (Dok. BPBD Kabupaten Malang) Ia menjelaskan, Uni Eropa bahkan telah mendorong masyarakat untuk menyiapkan kebutuhan dasar rumah tangga yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama minimal 72 jam atau tiga hari.
"Prinsipnya sederhana: masyarakat harus mampu bertahan pada fase awal kedaruratan ketika akses bantuan, listrik, komunikasi, transportasi, dan distribusi logistik berpotensi terganggu," katanya.
3. Indonesia memiliki risiko multibencana tinggi

Ilustrasi Banjir di Cilincing Jakarta Utara. (IDN Times/Dini Suciatingrum) Daryono menilai, pesan kesiapsiagaan tersebut sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki risiko multibencana tinggi. Karena itu, setiap keluarga perlu memiliki tas siaga untuk menghadapi kondisi darurat.
Tas siaga tersebut setidaknya berisi air minum, makanan tahan lama, obat-obatan, senter, alat komunikasi, serta dokumen penting. Masyarakat juga perlu mengetahui jalur evakuasi dan prosedur penyelamatan diri ketika bencana terjadi.
"Kesiapsiagaan bukan karena kita tahu kapan bencana akan terjadi, tetapi karena kita memahami bahwa bencana dapat terjadi kapan saja. Masyarakat tangguh bukan masyarakat yang tidak memiliki ancaman, melainkan masyarakat yang siap menghadapi," ujarnya.




















