LaNyalla Dukung Uang Sitaan Korupsi Bantu Danai MBG: Hak Rakyat

- LaNyalla mendukung penggunaan uang sitaan korupsi untuk mendanai program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bentuk pengembalian hak rakyat dan pengurangan beban APBN.
- Program MBG menciptakan perputaran uang Rp900 miliar per hari dan memberikan multiplier ekonomi 1:7, menunjukkan dampak besar terhadap sektor riil dan rantai nilai pangan nasional.
- LaNyalla mendorong Koperasi Desa Merah Putih menjadi off-taker bagi peternak serta pekebun kecil agar rantai pasok MBG berbasis hasil panen masyarakat desa sendiri.
Jakarta, IDN Times - Anggota DPD RI asal Jawa Timur AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mendukung penggunaan uang sitaan korupsi untuk penguatan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, langkah ini memenuhi kaidah untuk mengembalikan hak-hak rakyat yang sebelumnya dirampas oleh para koruptor.
"Saya mendukung. Selain untuk mengurangi beban APBN, pada hakikatnya ini adalah mengembalikan uang rakyat kepada pemilik sahnya, yaitu rakyat itu sendiri melalui program yang secara langsung juga diterima oleh rakyat,” ujar LaNyalla kepada wartawan, Jumat (8/5/2026).
1. Uang Rp900 M mengalir dari jaringan MBG

Ia pun menyoroti hasil kajian KADIN Indonesia, yang mengungkap program MBG telah berkembang menjadi salah satu intervensi publik terbesar dalam sejarah Indonesia modern.
“Uang Rp900 miliar berputar setiap hari melalui jaringan dapur MBG. Ini menjadi salah satu mekanisme sirkulasi uang berbasis komunitas terbesar yang pernah dibangun negara ini,” tutur dia.
2. Belanja pemerintah untuk MBG berdampak ke sektor riil

Anggota Dewan Pertimbangan KADIN Indonesia itu mengatakan, perputaran uang melalui belanja pemerintah untuk MBG tidakberhenti pada konsumsi akhir melainkan juga mengalir pada sektor riil.
Menurut dia, program MBG akan menciptakan permintaan baru, dan mendorong aktivitas ekonomi berulang di sepanjang rantai nilai pangan.
Survei BPS pada tahun 2025, injeksi anggaran Rp43,28 triliun telah menghasilkan total dampak output ekonomi Rp294,08 triliun. BPS mencatat program MBG telah menghasilkab multiplier 1:7.
“Memang ada hal-hal yang harus dikejar dan dibangun. Terutama ketahanan rantai pasok bahan baku. Jangan mengambil jalan pintas dengan impor. Misalnya susu sapi. Pasokan susu sapi kita untuk kebutuhan MBG masih jauh dari cukup. Ini harus dipikirkan. Begitu pula bahan baku lainnya. Peternak skala kecil harus dibesarkan,” kata dia.
3. Dukung KDMP jadi off-taker MBG

Oleh sebab itu, ia berharap Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi off-taker bagi peternak dan pekebun kecil di desa-desa, dan supply chain ke dapur-dapur MBG. Sehingga anak-anak di desa itu makan dari hasil panen orang tua mereka sendiri.
“Rantai pasok itu yang harus dibangun. Itu salah satu tugas Koperasi Desa. Jangan sekedar menjelma menjadi mini market baru, tapi yang dipajang barang-barang hasil industri besar dari pemasok besar. Itu sama saja kita membukakan outlet di seluruh desa untuk mereka,” kata dia.


















