Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama (Pendis Kemenag), Amien Suyitno, hadir dalam Pelaksanaan MATAMUDA (Masa Ta'aruf Murid Madrasah) 2026 di MAN 19 Jakarta dan MTsN 43 Jakarta, Kamis (16/7/2026) (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Azis menilai kemampuan tersebut perlu dibangun sejak dunia pendidikan. Sekolah, kata dia, tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi juga perlu mengajarkan kapan teknologi tersebut dapat digunakan dan kapan peserta didik harus menjalankan proses secara mandiri.
Menurutnya, kesulitan memahami bacaan, menyusun argumentasi, mengalami kebuntuan, hingga memperbaiki kesalahan merupakan bagian penting dari pembentukan kemampuan berpikir.
"Pendidikan bukan hanya proses menghasilkan jawaban. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu menghasilkan pertimbangan," tegasnya.
Lebih jauh, Azis menilai, ketahanan kognitif tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu. Persoalan tersebut juga memiliki dimensi strategis bagi Indonesia.
Azis mengingatkan bangsa yang hanya menjadi konsumen teknologi dan pengetahuan dari luar, berisiko semakin bergantung pada sistem yang turut menentukan bagaimana realitas dipahami.
Padahal, Indonesia memiliki pengalaman sejarah, struktur sosial, adat, kehidupan desa, praktik keagamaan, hingga sistem ekonomi dengan karakter tersendiri.
"AI dapat membantu kita memahami Indonesia. Tetapi AI tidak pernah hidup sebagai Indonesia," ujarnya.
Karena itu, Azis mendorong Indonesia tidak hanya memperkuat infrastruktur dan penggunaan AI, tetapi juga meningkatkan kapasitas menghasilkan pengetahuan sendiri.
Ia menyebut kemampuan tersebut sebagai kedaulatan epistemik, yakni kemampuan sebuah bangsa mengakses pengetahuan dunia, sekaligus tetap mampu menghasilkan dan menentukan cara memahami realitasnya sendiri.
Azis pun mengingatkan keberhasilan transformasi AI di Indonesia jangan hanya diukur dari jumlah pengguna atau tingkat adopsi teknologi.
"Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: untuk apa kecerdasan itu digunakan?" katanya.
Menurutnya, AI semestinya membuat guru semakin mampu mendidik, tenaga kesehatan semakin baik melayani masyarakat, birokrasi mengambil keputusan lebih jernih, petani meningkatkan produktivitas, serta peneliti menghasilkan pengetahuan baru.
"Jika tidak, kita mungkin sedang melakukan digitalisasi tanpa mengalami transformasi kecerdasan," pungkasnya.