Legislator Ingatkan Penggunaan AI Jangan Membuat Masyarakat Tak Kritis

- Azis Subekti mengingatkan AI tidak boleh membuat manusia kehilangan kemandirian berpikir dan mengambil kesimpulan.
- Masyarakat didorong memeriksa sumber, asumsi, bukti, serta pandangan berlawanan saat menggunakan jawaban AI.
- Pendidikan dinilai perlu membangun ketahanan kognitif dan kemampuan menghasilkan pengetahuan sendiri di Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Anggota DPR RI, Azis Subekti, mengingatkan masyarakat agar perkembangan artificial intelligence (AI) tidak membuat manusia kehilangan kemandirian dalam berpikir dan mengambil kesimpulan.
Menurut Azis, kemudahan yang ditawarkan AI harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat mempertanyakan, memeriksa, dan menguji kembali informasi yang dihasilkan teknologi.
Ia menilai Indonesia perlu mulai membangun cognitive resilience atau ketahanan kognitif, sebagai bagian penting dalam menghadapi perkembangan AI.
"Generative AI mulai membantu manusia merumuskan apa yang harus dipikirkan, dan di situlah persoalannya berubah," kata Azis dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).
1. AI jangan gantikan proses berpikir manusia

ilustrasi artificial intelligence atau AI (pexels.com/Aerps.com) Azis menjelaskan masyarakat selama ini telah mengenal literasi digital, seperti kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, mengenali hoaks, dan memahami konteks informasi.
Namun, menurutnya, generative AI menghadirkan tantangan berbeda. Mesin pencari biasanya memberikan berbagai sumber yang kemudian dipilih dan dinilai pengguna. Sementara, AI dapat langsung menyajikan jawaban yang telah disusun sehingga terlihat seolah-olah sudah selesai.
Karena itu, persoalan yang dihadapi bukan lagi sekadar memilih menggunakan atau meninggalkan AI. Azis menilai masyarakat harus mampu menentukan bagian dari proses berpikir yang dapat dibantu teknologi, dan bagian yang tetap harus dilakukan secara mandiri.
"AI tetap memiliki manfaat besar karena dapat mempercepat pembacaan dokumen, pengolahan data, penerjemahan, penulisan kode, serta berbagai aktivitas produktif lainnya," ujarnya.
"Garis penting zaman ini bukan antara menggunakan AI dan tidak menggunakan AI. Garisnya berada antara offloading yang membebaskan pikiran dan offloading yang menggantikan pikiran," sambung Azis.
2. Kefasihan jawaban AI bukan jaminan kebenaran

Anggota Komisi II DPR Fraksi Gerindra sekaligus Anggota Pansus Penyelesaian Konflik Agraria DPR, Azis Subekti (dok. Istimewa) Azis mencontohkan penggunaan komputer untuk mengerjakan kalkulasi rumit. Menurutnya, teknologi tersebut justru dapat membantu manusia memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan persoalan yang lebih besar.
Hal berbeda terjadi ketika seseorang menyerahkan proses pembentukan kesimpulan kepada mesin sebelum memahami persoalan yang sedang dihadapi.
Ia pun mengingatkan masyarakat tidak menyamakan kefasihan jawaban AI dengan kebenaran. Sebuah jawaban dapat terdengar meyakinkan, tetapi tetap mengandung kekeliruan.
Argumentasi yang disajikan AI juga dapat terlihat sistematis, meski dibangun berdasarkan asumsi yang tidak tepat.
Karena itu, Azis mendorong masyarakat membangun kebiasaan kritis ketika menggunakan AI. Salah satunya dengan memeriksa sumber, asumsi yang digunakan, bukti yang mendukung kesimpulan, serta kemungkinan adanya pandangan yang berlawanan.
"Pada akhirnya manusia harus mempunyai kemampuan mengatakan kepada dirinya sendiri: bagaimana jika saya yang salah?" katanya.
3. Pendidikan jadi fondasi ketahanan kognitif

Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama (Pendis Kemenag), Amien Suyitno, hadir dalam Pelaksanaan MATAMUDA (Masa Ta'aruf Murid Madrasah) 2026 di MAN 19 Jakarta dan MTsN 43 Jakarta, Kamis (16/7/2026) (IDN Times/Ilman Nafi'an) Azis menilai kemampuan tersebut perlu dibangun sejak dunia pendidikan. Sekolah, kata dia, tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi juga perlu mengajarkan kapan teknologi tersebut dapat digunakan dan kapan peserta didik harus menjalankan proses secara mandiri.
Menurutnya, kesulitan memahami bacaan, menyusun argumentasi, mengalami kebuntuan, hingga memperbaiki kesalahan merupakan bagian penting dari pembentukan kemampuan berpikir.
"Pendidikan bukan hanya proses menghasilkan jawaban. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang mampu menghasilkan pertimbangan," tegasnya.
Lebih jauh, Azis menilai, ketahanan kognitif tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu. Persoalan tersebut juga memiliki dimensi strategis bagi Indonesia.
Azis mengingatkan bangsa yang hanya menjadi konsumen teknologi dan pengetahuan dari luar, berisiko semakin bergantung pada sistem yang turut menentukan bagaimana realitas dipahami.
Padahal, Indonesia memiliki pengalaman sejarah, struktur sosial, adat, kehidupan desa, praktik keagamaan, hingga sistem ekonomi dengan karakter tersendiri.
"AI dapat membantu kita memahami Indonesia. Tetapi AI tidak pernah hidup sebagai Indonesia," ujarnya.
Karena itu, Azis mendorong Indonesia tidak hanya memperkuat infrastruktur dan penggunaan AI, tetapi juga meningkatkan kapasitas menghasilkan pengetahuan sendiri.
Ia menyebut kemampuan tersebut sebagai kedaulatan epistemik, yakni kemampuan sebuah bangsa mengakses pengetahuan dunia, sekaligus tetap mampu menghasilkan dan menentukan cara memahami realitasnya sendiri.
Azis pun mengingatkan keberhasilan transformasi AI di Indonesia jangan hanya diukur dari jumlah pengguna atau tingkat adopsi teknologi.
"Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: untuk apa kecerdasan itu digunakan?" katanya.
Menurutnya, AI semestinya membuat guru semakin mampu mendidik, tenaga kesehatan semakin baik melayani masyarakat, birokrasi mengambil keputusan lebih jernih, petani meningkatkan produktivitas, serta peneliti menghasilkan pengetahuan baru.
"Jika tidak, kita mungkin sedang melakukan digitalisasi tanpa mengalami transformasi kecerdasan," pungkasnya.


















