Riset SWS: Angka Kelaparan Keluarga di Filipina Turun ke 20,3 Persen

- Survei SWS Juni 2026 mencatat 20,3 persen keluarga Filipina mengalami kelaparan tidak disengaja, turun dari 23,2 persen pada Maret; kelaparan moderat dan parah sama-sama menurun.
- Mindanao mencatat kelaparan tertinggi sebesar 24 persen, sementara Metro Manila memiliki kelaparan parah tertinggi, 8,3 persen. Luzon di luar Metro Manila mencatat angka kelaparan terendah, 17,3 persen.
- Sebanyak 49 persen keluarga menganggap diri miskin dan 36 persen miskin pangan. Kelaparan lebih tinggi pada rumah tangga miskin, 24,5 persen, dibanding nonmiskin atau borderline, 16,2 persen.
Jakarta, IDN Times - Satu dari lima keluarga di Filipina dilaporkan masih mengalami kelaparan tidak disengaja selama kuartal kedua 2026. Kondisi tersebut terjadi ketika sebuah keluarga mengalami lapar dan tidak memiliki makanan untuk dimakan setidaknya satu kali dalam tiga bulan terakhir.
Hasil survei terbaru lembaga riset Social Weather Stations (SWS) yang dilakukan pada 20 hingga 29 Juni 2026 mencatat angka kelaparan tersebut berada di tingkat 20,3 persen. Capaian ini menunjukkan penurunan tipis jika dibandingkan dengan hasil survei pada Maret 2026 yang sempat menyentuh angka 23,2 persen.
1. Penurunan tingkat kelaparan moderat dan parah

ilustrasi piring kosong (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Dilansir Philstar.com, total 20,3 persen keluarga yang mengalami kelaparan tersebut terdiri dari dua kategori utama, yakni kelaparan moderat dan kelaparan parah. Kelaparan moderat dialami oleh 15,8 persen responden, turun dari 17,7 persen pada periode survei Maret 2026. Sementara itu, tingkat kelaparan parah berada di angka 4,5 persen atau membaik dibanding periode sebelumnya yang mencapai 5,1 persen.
Lembaga riset SWS mendefinisikan kelaparan moderat sebagai kondisi saat seseorang mengalami lapar "hanya sekali" atau "beberapa kali" dalam tiga bulan terakhir. Di sisi lain, kelaparan parah merujuk pada kondisi keluarga yang mengalami kelaparan dengan frekuensi "sering" atau "selalu" dalam kurun waktu yang sama.
Sebagaimana dilaporkan Inquirer.net, tingkat kelaparan 20,3 persen ini tercatat 0,1 poin persentase lebih tinggi dibanding rata-rata kelaparan Filipina pada 2025 yang sebesar 20,2 persen. Namun, angka ini berada 0,8 poin persentase lebih rendah dari rekor tertinggi rata-rata 21,1 persen yang terjadi saat puncak pandemik COVID-19 pada 2020.
2. Wilayah Mindanao mencatat tingkat kelaparan tertinggi

ilustrasi pemukiman miskin (pexels.com/Duc Nguyen) Berdasarkan sebaran wilayah geografis, tingkat kelaparan tertinggi di Filipina tercatat berada di wilayah Mindanao. Hasil survei memperlihatkan tingkat kelaparan di Mindanao naik menjadi 24 persen pada Juni 2026 dari sebelumnya 21,7 persen pada Maret 2026. Sejalan dengan itu, tingkat kelaparan moderat di Mindanao juga tercatat sebagai yang tertinggi di Filipina, yakni naik menjadi 20,7 persen dari sebelumnya 18 persen.
Wilayah Visayas menempati posisi kedua dengan tingkat kelaparan sebesar 22,3 persen, meskipun angka ini mengalami penurunan signifikan dari 28 persen pada Maret 2026. Sementara itu, wilayah Metro Manila mencatatkan tingkat kelaparan sebesar 21 persen atau turun tipis dari posisi 22 persen pada survei sebelumnya. Wilayah Luzon di luar Metro Manila mencatat angka terendah yakni 17,3 persen dari sebelumnya 22,4 persen.
Meskipun tingkat kelaparan secara umum di Metro Manila mengalami penurunan, wilayah ibu kota ini mencatat tingkat kelaparan parah tertinggi di Filipina. Persentase kelaparan parah di Metro Manila melonjak menjadi 8,3 persen pada Juni 2026 dibanding 6,7 persen pada Maret 2026. Wilayah Luzon di luar Metro Manila berada di urutan berikutnya untuk kelaparan parah dengan 4,3 persen, disusul Visayas 3,7 persen, dan Mindanao 3,3 persen.
3. Hampir separuh keluarga menganggap diri mereka miskin

ilustrasi keluarga Filipina (pexels.com/Lcue Par Jzul) Selain mengukur tingkat kelaparan, riset SWS juga merekam persepsi mandiri masyarakat Filipina terhadap tingkat kesejahteraan keluarga mereka. Dilansir Inquirer.net, sebanyak 49 persen keluarga di Filipina mengategorikan diri mereka sebagai keluarga miskin atau "mahirap". Persentase tersebut memperlihatkan bahwa hampir separuh populasi keluarga di negara itu masih merasa hidup dalam kemiskinan.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 37 persen responden menganggap keluarga mereka berada dalam kategori tidak miskin atau "hindi mahirap". Sementara itu, sebanyak 14 persen responden sisanya menempatkan keluarga mereka pada batas antara miskin dan tidak miskin atau borderline.
Dalam hal kemiskinan pangan mandiri, sebanyak 36 persen keluarga mengategorikan diri mereka miskin pangan. Angka ini sejalan dengan temuan SWS bahwa tingkat kelaparan tidak disengaja jauh lebih tinggi di kalangan kelompok rumah tangga miskin (yakni mencapai 24,5 persen), dibandingkan di kalangan kelompok rumah tangga non-miskin atau borderline (sebesar 16,2 persen).





















