Mendikdasmen: AI Ciptakan Jutaan Pekerjaan, Tapi Geser Pekerja

- Abdul Mu'ti menegaskan perkembangan AI membawa peluang besar sekaligus tantangan bagi dunia kerja dan pendidikan di Asia Tenggara.
- Studi Bank Dunia menunjukkan AI menciptakan jutaan pekerjaan baru bagi tenaga terampil, namun juga menggeser banyak pekerja berkeahlian rendah.
- Mu'ti menyoroti kesenjangan akses digital antar pelajar di kawasan, menekankan pentingnya pemerataan manfaat teknologi agar tidak memperlebar ketimpangan.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyoroti tantangan yang muncul seiring pesatnya perkembangan akal imitasi atau Artificial Intelligence (AI), terutama terhadap dunia kerja dan sektor pendidikan
Mu'ti mengatakan, AI telah mengubah berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, layanan kesehatan, penelitian, hingga proses pembelajaran.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat bagaimana Artificial Intelligence telah mengubah cara kita bekerja, memberikan layanan kesehatan, melakukan penelitian, dan tentu saja belajar," ujar Mu'ti, dalam pidato pembukaan SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
1. AI jadi peluang dan tantangan

Menurutnya, perkembangan AI membawa peluang sekaligus tantangan. Ia mengutip studi Bank Dunia yang menunjukkan adopsi AI dan robot pada periode 2018-2022 menciptakan sekitar 2 juta lapangan kerja formal bagi tenaga kerja terampil di lima negara Asia Tenggara.
"Namun, pada saat yang sama, sekitar 1,4 juta pekerja formal berkeahlian rendah di lima negara Asia Tenggara kehilangan pekerjaan akibat perkembangan tersebut," katanya.
2. Dampak AI pada pekerjaan

Mu'ti menjelaskan, dampak AI kini tidak hanya dirasakan pada pekerjaan rutin, tetapi juga mulai mempengaruhi pekerjaan kognitif nonrutin seperti penerjemah.
"Bahkan saat ini terdapat tren di industri firma hukum yang mengurangi perekrutan associate junior karena AI mampu menangani tugas-tugas rutin yang selama ini menjadi pekerjaan mereka," katanya.
3. Banyak pekerjaan karena AI tapi banyak yang kehilangan

Karena itu, Mu'ti mempertanyakan makna keberhasilan menciptakan lapangan kerja baru berbasis teknologi apabila pada saat yang sama masih banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan tanpa memiliki jalur yang jelas untuk beradaptasi.
"Jadi, apa arti merayakan terciptanya banyak pekerjaan baru berteknologi tinggi akibat perkembangan AI, jika pada saat yang sama banyak orang kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki jalur yang jelas untuk beradaptasi atau beralih ke pekerjaan baru?" ujarnya.
4. Tidak semua murid nikmati akses digital

Selain persoalan ketenagakerjaan, Mu'ti juga menyoroti kesenjangan akses terhadap teknologi di kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, tidak semua peserta didik menikmati manfaat kemajuan digital secara setara.
Sebagian siswa memiliki akses terhadap infrastruktur digital yang berkualitas, sementara yang lain masih menghadapi keterbatasan konektivitas, aksesibilitas, dan ketersediaan sumber belajar.
"Sebagai kawasan, kita harus memastikan bahwa kemajuan teknologi menjadi jembatan, bukan penghalang, yang membuka peluang bagi semua orang, bukan justru memperlebar kesenjangan yang sudah ada," katanya.















