Mengenal Chanee, Pria Asal Prancis Pelindung Hutan dan Satwa Indonesia

Chanee Kalaweit, pria asal Prancis, datang ke Indonesia pada 1998 saat berusia 18 tahun untuk melindungi gibbon yang terancam kehilangan habitat di Kalimantan.
Setelah menyaksikan deforestasi dan perdagangan satwa, Chanee mendirikan Kalaweit yang telah menyelamatkan ribuan hewan serta merawat berbagai spesies korban perdagangan ilegal.
Sejak 2012, Kalaweit bermitra dengan desa melindungi hutan dari perkebunan dan tambang; kini menjaga sekitar 3.502 hektare di Borneo dan Sumatra, termasuk melalui pemadaman karhutla.
Jakarta, IDN Times - Bagi pegiat lingkungan, nama Chanee Kalaweit sudah tidak asing lagi. Chanee merupakan pria asal Prancis, namun hampir 30 tahun hidupnya ia dihabiskan untuk menjaga hutan dan satwa liar di Indonesia.
Chanee pertama kali datang ke Indonesia pada 1998. Ia mempunyai tekad untuk mengabdikan hidupnya untuk melindungi gibbon yang terancam kehilangan habitatnya dan punah.
Setibanya di Kalimantan, Chanee justru melihat kerusakan hutan yang lebih parah dari yang ia bayangkan. Dengan rasa cinta yang mendalam terhadap alam dan satwa liar, Chanee mendirikan pusat perawatan untuk menampung gibbon yang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal.
Hingga beberapa tahun kemudian, Chanee semakin memperluas pusat kesehatan tersebut di beberapa wilayah lain, dan ikut menjaga kelestarian alam di Kalimantan. Berikut perjalanan Chanee melindungi hutan di Indonesia.
1. Chanee datang ke Indonesia saat berusia 18 tahun
Chanee Kalaweit (instagram.com/chaneekalaweit) Pada 1998, Chanee meninggalkan Prancis dan datang ke Indonesia. Kala itu, usianya baru 18 tahun.
Mengutip laman website Kalaweit, Chanee sejak remaja memang sudah memiliki ketertarikan terhadap satwa liar, terutama gibbon. Ia ingin menghabiskan hidupnya untuk melindungi satwa tersebut yang terancam karena hilangnya hutan.
Keinginan itu akhirnya membawanya ke Indonesia, khususnya Borneo yang menjadi salah satu habitat gibbon.
Perjalanannya menuju Indonesia mendapatkan dukungan, hingga seluruh biayanya ditanggung seorang aktris, komedian, dan juga penulis, Muriel Robin.
2. Chanee melihat hutan yang terus hilang dan mendirikan Kalaweit

Potret awan (IDN Times/Sunariyah) Chanee yang terus-menerus melihat hutan digunduli dan dirinya sadar kondisi ini menjadi ancaman serius bagi satwa yang hidup di dalamnya. Ia kemudian membuat pusat perawatan pertama di Borneo untuk menampung gibbon yang diselamatkan dari perdagangan satwa.
Dari sinilah langkahnya menjaga alam Indonesia semakin panjang. Pada 1998, Chanee kemudian mendirikan organisasi Kalaweit. Nama itu sendiri berarti “gibbon” dalam bahasa Dayak, masyarakat yang menjadi mayoritas di Borneo, Kalimantan.
Kalaweit mempunyai misi membantu masyarakat setempat untuk melindungi hutan mereka, memberi kesempatan pada hewan korban perdagangan manusia, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang menghormati satwa liar, dan mengintegrasikan penduduk lokal serta pihak berwenang.
Kalaweit tidak hanya menyelamatkan gibbon. Organisasi tersebut juga merawat berbagai satwa yang menjadi korban perdagangan, termasuk siamang, beruang, monyet, buaya, reptil, dan burung.
Sejak berdiri, ribuan satwa telah diselamatkan Kalaweit. Sebagian besar telah dilepasliarkan. Namun sejumlah gibbon dan siamang yang territorial, rapuh, tidak akan dapat kembali ke alam liar dan akan tetap berada di Kalaweit.
3. Menyelamatkan satwa saja tidak cukup

ilustrasi hutan Indonesia dengan satwa liar monyet (pexels.com/Stijn Dijkstra) Chanee sadar satwa bisa diselamatkan dari perdagangan, tetapi mereka tetap membutuhkan tempat untuk hidup atau habitat. Karena itu, sejak 2012 Kalaweit mulai bekerja bersama dengan desa-desa mitra untuk melindungi hutan. Mereka berusaha menjaga kawasan tersebut agar tidak berubah menjadi perkebunan atau area pertambangan.
Kalaweit juga membeli sejumlah kawasan hutan dan mengembalikannya kepada masyarakat, untuk menjadi hutan komunal yang dilindungi dan dikelola bersama.
4. Chanee terus mengabdi pada hutan Indonesia

ilustrasi struktur stratifikasi hutan (unsplash.com/David Clode) Di situs resminya, Kalaweit menyebut organisasi tersebut telah berjuang menjaga keanekaragaman hayati Indonesia selama 28 tahun. Saat ini, sekitar 3.502 hektare hutan telah dilindungi Kalaweit.
Kawasan yang mereka lidungi berada di Borneo dan Sumatra. Hutan tersebut menjadi tempat hidup berbagai satwa, termasuk gibbon, orang utan, beruang madu, macan dahan, siamang, hingga harimau.
5. Chanee ikut berada di tengah perjuangan memadamkan karhutla

Lahan seluas 673,4 hektare terdampak karhutla di Taman Nasional Way Kambas, petugas gabungan terus berupaya melakukan pemadaman, Kelurahan Kuala Penet, Kecamatan Resort Kuala Penet, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung (21/8/2026). (Dok. BNPB) Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi saat ini, Kalaweit membagikan video, di mana Chanee bersama tim turun langsung membantu memadamkan api. Mereka berusaha menghentikan api agar tidak semakin meluas dan mengancam kawasan hutan.
Pemadaman dilakukan dengan peralatan yang tersedia, termasuk menggunakan mobil tangki air. Chanee bersama tim bahkan terus bekerja siang dan malam, karena semakin lama api dibiarkan, semakin besar pula ancaman terhadap hutan dan satwa di dalamnya.
Chanee juga telah meminta bantuan kepada pemerintah dan relawan lain untuk ikut turun ke lapangan. Bantuan tersebut dibutuhkan agar lebih banyak orang bisa ikut menangani karhutla, dan menjaga agar kebakaran tidak semakin meluas.
Chanee memang bukan orang yang lahir di Indonesia. Namun, setelah melihat kondisi hutan Borneo, ia memilih tetap tinggal dan ikut memperjuangkan melindungi alam Indonesia.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















