Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemuda Katolik Imbau Klarifikasi JK Tak Perluas Polemik Publik
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK) dalam konferensi pers yang digelar di kediamannya, kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Pemuda Katolik menghormati kontribusi Jusuf Kalla namun mengimbau agar klarifikasinya tidak memperluas polemik publik dan tetap menyejukkan dalam merespons isu dugaan penistaan agama.
  • FX Sintua menilai pernyataan JK saat ceramah di UGM terkesan berlebihan karena ada versi lain dari saksi sejarah yang menggambarkan situasi berbeda dari yang disampaikan JK.
  • Pemuda Katolik menyoroti konferensi pers JK yang melibatkan pihak lain di luar substansi masalah, dinilai berpotensi memunculkan persoalan baru dan mengganggu fokus penyelesaian hukum.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemuda Katolik menanggapi dua kali konferensi pers yang disampaikan oleh Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK). Di mana konferensi pers itu untuk membantah dugaan penistaan agama yang dinyatakan JK saat mengisi ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu.

Ketua Bidang Hukum Pemuda Katolik sekaligus penasehat hukum pelapor, FX Sintua Widhiatmoko menyampaikan, Pemuda Katolik sangat menghormati peran dan kontribusi Bapak Jusuf Kalla dalam upaya perdamaian di berbagai daerah di Indonesia.

1. Respons yang disampaikan jangan memperluas polemik di ruang publik

Wakil Presiden ke-10 dan 12 Jusuf Kalla (JK) lakukan pertemuan dengan pelaku sejarah perundingan damai Malino I untuk Poso dan Malino II untuk Maluku di Jakarta, Selasa (21/4/2026). (IDN Times/Lia Hutasoit)

Namun demikian, FX Sintua mengingatkan agar respons yang disampaikan JK tetap berada dalam koridor menyejukkan dan tidak memperluas polemik di ruang publik.

“Kami sangat menghormati kontribusi Bapak Jusuf Kalla dalam penyelesaian konflik di Poso dan Ambon. Namun sebagai tokoh bangsa, tokoh politik dan tokoh ekonomi, beliau juga diharapkan dapat memposisikan diri secara arif dan tidak emosional dalam merespons situasi ini. Saran kami, klarifikasi Pak JK harus efektif dan efisien," kata dia dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026).

"Tidak perlu berulang kali menggelar konferensi pers, apalagi sampai membawa atau menyeret nama tokoh-tokoh lain seperti mantan Presiden Joko Widodo, atau seakan-akan menihilkan peran tokoh-tokoh lain dalam perjalanan sejarah bangsa ini,” sambungnya

Terlebih, dalam konferensi pers yang pertama JK sempat menyebut bahwa Presiden Keempat RI, Abdurrahman Wahid atau GusDur dan jenderal-jenderal tidak bisa menyelesaikan konflik tersebut. FX Sintua menekankan, pernyataan JK itu tak menyinggung soal pelaporan yang dilakukan Pemuda Katolik bersama GAMKI dan sejumlah organisasi kemasyarakatan. Adapun pelaporan itu berawal dari dinamika yang berkembang di ruang publik terkait isi ceramah JK di UGM yang memicu beragam interpretasi dan kegaduhan.

“Perlu kami tegaskan bahwa laporan ini merupakan bagian dari mekanisme hukum yang sah dalam merespons kegaduhan publik. Oleh karena itu, akan lebih bijak jika seluruh pihak menahan diri dan tidak membangun opini yang berlebihan sebelum tahapan hukum memberikan kejelasan,” ucapnya.

2. JK dinilai over talk

Kanal YouTube resmi milik Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan pesan tentang ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) yang dinilai menistakan ajaran Kristen. (YouTube Masjid UGM)

Lebih lanjut, FX Sintua menegaskan, pernyataan yang disampaikan JK saat ceramah di UGM terlewat batas alias over talk.

"Menurut kami ada yang berlebihan, setidaknya ada saksi sejarah juga yang menyampaikan situasinya tidak sepenuhnya persis seperti apa yang Pak JK ceritakan. Artinya ada lebih dari satu versi cerita," ucapnya.

3. Pernyataan JK saat konferensi pers berpotensi menimbulkan persoalan baru

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla usai menerima Duta Besar Iran di Markas PMI, Jakarta Selatan, Rabu (18/3/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

FX Sintua pun menyayangkan apabila konferensi pers yang dilakukan justru berpotensi menimbulkan persoalan baru dengan menyeret pihak-pihak lain di luar substansi persoalan.

"Di konferensi pers yang kedua, kami melihat dalam tayangan TV juga dilibatkannya pejabat kementerian agama selevel eselon 1 mungkin sebagai peserta atau undangan. Ini justru semakin tidak efektif dan tidak fokus. Apa maksud dari semua ini hanya Pak JK yang tahu," tuturnya.

Pemuda Katolik pun menekankan pentingnya menjaga ruang publik yang sehat dan kondusif.

"Sebenarnya Pemuda Katolik memilih tidak berkomentar setelah laporan masuk ke Polda sekitar 2 minggu yang lalu. Biarkan berproses dengan tahapan hukum yang ada. Dan tentu semoga ada permintaan maaf dan klarifikasi yang efektif dari Pak JK, sehingga kegaduhan ini segera berahkir," imbuh FX Sintua.

Editorial Team