Bertemu Tokoh Perundingan Damai Malino, Jusuf Kalla: Dengar yang Alami Waktu Itu!

- Jusuf Kalla bertemu tokoh Malino I dan II untuk menanggapi polemik ceramahnya di UGM, sekaligus menegaskan pesan menjaga perdamaian serta menolak fitnah dari pihak luar seperti Ade Armando.
- Para tokoh agama menjelaskan ceramah JK membahas fakta sosiologis konflik Poso dan Ambon, bukan doktrin agama, serta menekankan pentingnya memahami konteks sejarah demi menjaga toleransi.
- Delegasi Muslim dan Kristen sepakat pernyataan JK mencerminkan realitas konflik masa lalu, bukan penistaan agama, sambil mengkritik pihak luar yang dianggap memperkeruh suasana dengan potongan narasi.
Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden ke-10 dan 12 Jusuf Kalla (JK) bertemu dengan pelaku sejarah perundingan damai Malino I untuk Poso dan Malino II untuk Maluku. Pertemuan ini dihadiri sejumlah tokoh yang memberikan pandangan mereka soal ceramah JK di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berisi soal konflik agama, pada 5 Maret 2026. Dalam ceramahnya, saat itu JK menyinggung konflik Poso dan Ambon, termasuk membahas soal 'syahid'.
Dalam pertemuan itu, Jusuf Kalla kemudian merespons tentang potongan ceramahnya di Masjid UGM itu yang ditujukan kepada Ade Armando dan Permadi Arya alias Abu Janda. Dia pun merujuk pada pesan-pesan yang disampaikan para tokoh yang hadir dalam pertemuan itu.
"Ya, saya kira itulah pesan untuk teman-teman yang suka bikin gaduh, bikin fitnah ini. Ade Armando cs, dengar ini bapak-bapak ini yang pernah dulu mengalami keadaan pada waktu itu," ujar dia, di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
1. JK temui sejumlah tokoh konflik Poso dan Ambon

Beberapa tokoh hadir dalam pertemuan tersebut. Dari Poso dihadiri Pdt. Rudolf Metusala, Pdt. Rinaldi Damanik, Pdt. Jetroson Rense, Pdt. Dajaramo Tasiabe, Ust. Sugianto Kaimuddin, Ust. Muh. Amin, Ust. Samsul Lawenga, serta Ust. Mualim Fauzil. Dari Maluku, hadir Pdt. Prof. John Ruhulessin, Prof. Hasbullah Toisutta, dan Ust. Hadi Basalamah.
"Ini kita sudah bertemu, sudah sepakat untuk tentu menjaga kedamaian dan supaya efek-efek itu, fitnah-fitnah itu tidak seharusnya dipahami secara baik. Namun demikian, juga karena apa yang saya sampaikan itu adalah hal yang terjadi di Poso dan Ambon yang terjadi pada 25 tahun yang lalu," kata JK.
2. JK menyampaikan fakta sosiologis saat konflik itu

Ketua Sinode GPM, Pdt John Ruhulessin, mengatakan, ceramah JK di UGM tersebut hanya membahas konflik Maluku dan Poso, bukan doktrin agama. Dia mengatakan, JK menyampaikan fakta sosiologis berdasarkan pengalaman langsung saat menangani konflik di Ambon.
Ruhulessin mengatakan, kekerasan terjadi karena agama dipakai sebagai legitimasi, bukan ajaran agama itu sendiri.
“Saya pun ikut berdoa mengiring, orang pergi membunuh saya ikut berdoa. Saya kira itu fakta," ujar dia.
Maka menurut dia, pernyataan JK tidak bermaksud menista agama, tetapi merekam realitas di lapangan.
Dia pun berharap pertemuan ini memperkuat komitmen menjaga perdamaian, toleransi, dan persatuan bangsa demi keutuhan Republik Indonesia.
3. Pernyataan JK dianggap bukan doktrin teologis

Sinode Gereja Kristen Tentena dan Delegasi Kristen dalam Perundingan Malino I, Pendeta Rinaldi Damanik juga mengungkapkan pernyataan JK bukan doktrin teologis, melainkan analisis sosiologis atas konflik Poso dan Ambon. Berkonflik dengan alasan syahid masuk surga, kata dia, memang terjadi.
"Apa yang disampaikan oleh Pak JK kurang lebih kalimatnya tentang berkonflik dengan alasan syahid masuk surga itu memang terjadi dalam konflik itu. Seperti tadi Bapak Pendeta katakan, itu memang benar-benar terjadi dalam realitas itu," kata dia.
Dia menilai, tawaran damai JK menjadi titik balik yang meruntuhkan kesombongan pihak berkonflik. Menurut dia, ajaran yang dipahami saat itu keliru dan perlu diluruskan. Dia meminta kritik terhadap JK disertai pemahaman konteks, serta mendorong dialog.
4. Kritik pihak luar yang dinilai memperkeruh suasana

Sementara, Delegasi Muslim dalam Perundingan Malino I, Ustaz Sugiyanto Kaimuddin, mengatakan, pernyataan JK soal konflik Poso merupakan fakta lapangan, bukan opini. Dia menyebut, kekerasan dipicu ambisi dan dendam yang dibungkus agama dengan seruan berbeda di masing-masing kelompok.
Sugiyanto juga menjelaskan, masyarakat lintas agama di Poso telah sepakat menjaga perdamaian dan menolak upaya mempolitisasi ceramah JK maupun laporan penistaan agama.
Dia menilai, konflik Poso telah selesai dan kini terus dirawat melalui dialog. Sugiyanto turut mengkritik pihak luar yang dinilai memperkeruh suasana.
“Kalau ada orang-orang di luar seperti Ade Armando kemudian memotong, kemudian siapa Abu Janda kemudian membanding-bandingkan Kitab Suci Al-Qur'an dan Kitab Suci apa namanya Alkitab dari Kristiani, itu tidak sepadan. Tidak harus sesungguhnya dilakukan," kata dia.
"Justru mereka ini yang membuat gaduh sebenarnya. Sebenarnya mereka yang mesti dilapor ini. Mereka yang harus diproses. Mereka yang membuat situasi ini menambah kondisi ini menjadi kacau balau," ucap dia.
Diberitakan, Jusuf Kall dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait ceramahnya di Masjid UGM yang membahas konflik Poso dan Ambon. Laporan muncul setelah potongan pernyataannya soal ‘syahid’ menuai polemik dan dituding mengandung unsur penistaan agama oleh sejumlah pihak tertentu.
Selain itu, ada dua nama yang ikut terseret laporan. Ade Armando dan Permadi Arya alias Abu Janda dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penghasutan dan provokasi. Akar masalahnya dari potongan ceramah Jusuf Kalla tersebut.


















