Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Prabowo Akan Gratiskan PTN, Didik: Jalur Mandiri Harus Dihentikan

2 min read
Prabowo Akan Gratiskan PTN, Didik: Jalur Mandiri Harus Dihentikan
Ilustrasi wisuda (IDN Times/Mardya Shakti)
  • Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini menilai rencana Prabowo menggratiskan PTN memerlukan perubahan kebijakan pembiayaan pendidikan tinggi.
  • Didik menyebut kebijakan yang mendorong PTN mencari dana sendiri memperluas jalur mandiri dan meningkatkan jumlah mahasiswa di sejumlah kampus.
  • Menurut Didik, otonomi luas serta minimnya kontrol pusat memicu komersialisasi dan risiko penyalahgunaan; jalur mandiri perlu dihentikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times — Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini menilai rencana Presiden Prabowo menerapkan pendidikan gratis hingga perguruan tinggi negeri (PTN), dapat diwujudkan dengan mengubah kebijakan pembiayaan pendidikan tinggi, termasuk menghentikan komersialisasi penerimaan mahasiswa melalui jalur mandiri.

Didik mengatakan, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengubah kebijakan sebelumnya yang mendorong PTN mencari sumber pendanaan sendiri. Menurutnya, kebijakan tersebut membuat PTN memiliki otonomi luas, termasuk dalam penerimaan mahasiswa melalui jalur mandiri.

“Perubahan kebijakan rezim yang lalu harus ditutup, yang meminta PTN mencari uang sebanyak-banyaknya, karena negara tidak mempunyai anggaran,” kata Didik dalam keterangan, Senin (21/9/2026).

  1. 1. Jalur mandiri jadi berkembang

    Prabowo Akan Gratiskan PTN, Didik: Jalur Mandiri PTN Harus Dihentikan
    Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra ketika berorasi di atas mokom saat demo jilid II BEM. (IDN Times/Santi Dewi)

    Menurut Didik, kebijakan tersebut kemudian membuat jalur mandiri berkembang hingga PTN memiliki jumlah mahasiswa yang sangat besar. Ia mencontohkan jumlah mahasiswa di sejumlah PTN seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

    “Maka dari itu jalur mandiri dibuka sampai PTN menjadi lembaga kursus massal, dengan jumlah mahasiswa sampai 80 ribu di Unesa, 65 ribu di UB, 75 ribu di UGM, dan sebagainya,” ujarnya.

  2. 2. Kontrol pemerintah masih minim

    Prabowo Akan Gratiskan PTN, Didik: Jalur Mandiri PTN Harus Dihentikan
    Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini. (www.paramadina.ac.id)

    Didik menilai pemberian otonomi yang luas kepada PTN juga membuka ruang penyalahgunaan kewenangan, termasuk dalam penentuan biaya penerimaan mahasiswa. Menurutnya, kontrol pemerintah pusat terhadap kebijakan tersebut masih minim.

    “Jalur mandiri dikomersialkan oleh PTN karena otonomi dan keleluasaan mengatur seleksi sekaligus pungutannya. Tetapi kontrol pemerintah pusat minimal sekali sampai akhirnya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mencokok oknum-oknum,” katanya.

  3. 3. Jalur mandiri dan praktek komersialisasi harus dihentikan

    Prabowo Akan Gratiskan PTN, Didik: Jalur Mandiri PTN Harus Dihentikan
    Webometrics Ranking of World Universities menobatkan Universitas Lampung (Unila) sebagai perguruan tinggi negeri (PTN) terbaik nomor 1 di luar Pulau Jawa. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna)

    Didik menilai praktik tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan perilaku sejumlah oknum, tetapi juga dengan desain penerimaan mahasiswa yang memberikan kewenangan kepada PTN untuk menentukan biaya masuk.

    “Dengan adanya korupsi berulang dan adanya gerakan baru Presiden ini, maka jalur mandiri dan praktik komersialisasi penerimaan mahasiswa baru PTN harus dihentikan. Kebijakan pemerintah sebelumnya dan desain yang dirancang bebas di PTN-PTN tersebut dengan kewenangan luas dan bebas membuka ruang penyalahgunaan kekuasaan rektor dan petinggi-petinggi PTN," kata dia.

    "Hal ini berulang terjadi bukan hanya karena perilaku beberapa oknum, tetapi desain penerimaan dengan kewenangan menentukan harga tiket masuk mahasiswa kemudian menjurus kepada kepentingan finansial kampus, komersialisasi dan berujung pada korupsi,” sambung Didik.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More