Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Pramono: Biaya Rp102 Miliar Bukan Hanya Pembongkaran Tiang Monorel

Pramono: Biaya Rp102 Miliar Bukan Hanya Pembongkaran Tiang Monorel
Pramono Anung menghadiri groundbreaking pembongkaran tiang monorel (IDN Times/Anggia Leksa)
Intinya sih...
  • Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulai pembongkaran tiang monorel di jalan Rasuna Said dengan anggaran Rp102 miliar.
  • Biaya tersebut tidak hanya untuk pemotongan tiang, tetapi juga untuk penataan komprehensif kawasan termasuk perbaikan jalan, drainase, taman, dan pedestrian.
  • Ada 109 tiang monorel yang akan dibongkar, dengan harapan penataan ini dapat mengurangi kemacetan di jalan tersebut.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya memulai proses pembongkaran tiang monorel yang sudah lama mangkrak di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Gubernur Jakarta Pramono Anung mengatakan pembongkaran ini merupakan langkah awal dari proyek penataan komprehensif kawasan tersebut, dengan total anggaran mencapai Rp102 miliar.

Lebih lanjut, Pramono menekankan biaya yang tersorot publik selama ini hanya fokus pada proses pemotongan tiang monorel. Padahal, kata dia, anggaran ratusan miliar itu ditujukan untuk pembenahan menyeluruh, termasuk perbaikan jalan, drainase, taman, dan pedestrian.

“Biaya pemotongan tiang monorel sendiri sebenarnya hanya Rp254 juta. Kemudian untuk penataan secara keseluruhan, nanti ada jalan, ada selokan, ada taman, kemudian ada pedestrian, diperkirakan Rp102 miliar,” jelas Pramono kepada awak media, Rabu (14/01/2026).

Pramono menjelaskan terdapat 109 tiang monorel yang akan dibongkar di sepanjang Jalan Rasuna Said. Dia meyakini penataan ini akan membuat jalan di pusat Jakarta tersebut semakin baik, dan diharapkan dapat mengurangi kemacetan.

Pada acara groundbreaking tersebut turut hadir Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Ia mengatakan proyek monorel memiliki sejarah panjang. Proyek ini sempat terhenti karena berbagai faktor. Pada 2014, rencana monorel kemudian diubah menjadi LRT tanpa dasar perencanaan yang jelas, meninggalkan tiang-tiang besi yang menjadi "pesitual" atau pemandangan tak sedap di kota.

Sutiyoso menegaskan dalam kondisi seperti itu, hanya ada dua pilihan: melanjutkan proyek atau membongkar. Menurutnya, keputusan Pramono membongkar tiang dinilainya sebagai keputusan yang tepat, meskipun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

“Seenak apapun mengeluarkan biaya, harus kita lakukan,” tegas Sutiyoso.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Latest in News

See More

Cegah Jemaah Haji Lolos Tanpa Syarat, Kemenkes Kunci Data Pakai BPJS

14 Jan 2026, 12:09 WIBNews