Pramono Minta Pendidikan Pancasila di Sekolah Dikaitkan Isu Terkini

- Pramono Anung menegaskan pentingnya pengajaran Pendidikan Pancasila yang relevan dengan isu sosial terkini agar siswa memahami nilai ideologi bangsa secara kontekstual, bukan sekadar teori hafalan.
- Kurikulum baru menekankan 70 persen praktik lapangan dan 30 persen teori, mendorong siswa menerapkan nilai Pancasila melalui kegiatan nyata seperti menjaga lingkungan dan perilaku antikorupsi.
- Keberhasilan pendidikan ideologi bergantung pada sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk membentuk generasi yang berkarakter kuat serta adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan agar pengajaran Pendidikan Pancasila di lingkungan sekolah tidak lagi sebatas teori tekstual, melainkan diintegrasikan dengan isu terkini.
"Saya sungguh berharap bahwa Pancasila itu hadir di dalam ruang diskusi yang hidup di kelas. Jangan bersifat dogmatis dengan mengaitkan proses pembelajaran para siswa dengan hal-hal aktual apa yang terjadi pada masyarakat saat ini," ujar Pramono Anung di Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
Dia mengatakan, nilai-nilai ideologi bangsa perlu dihadirkan dalam ruang diskusi yang relevan agar para siswa dapat memahami perannya di tengah perkembangan zaman.
1. Penerapan metode pembelajaran yang menyenangkan

Pramono mendorong para guru menjadikan proses pengenalan Pancasila sebagai sesuatu yang bermakna dan tidak sekadar menjadi hafalan bagi para siswa.
Menurut Pramono, metode yang menyenangkan akan lebih kuat dalam membentuk karakter anak didik dibandingkan dengan cara-cara konvensional yang kaku.
“Jadikan proses pembelajaran ini yang menyenangkan dan bermakna jangan sekedar hanya menjadi hafalan. Kalau hafalan pasti saya yakin di ruang ini semuanya hafal Pancasila, tetapi (buat) menjadi menyenangkan,” kata Pramono.
Melalui pendekatan yang lebih jujur dan disiplin, tenaga pendidik diharapkan mampu menanamkan nilai kepedulian serta rasa menghargai sebagai ciri khas bangsa. Hal ini bertujuan agar siswa tidak hanya menghafal sila-sila Pancasila, tetapi juga merasakan kebermanfaatannya dalam interaksi sosial sehari-hari.
2. Sinergi keluarga dan dunia pendidikan

Pramono mengatakan, keberhasilan penguatan ideologi ini sangat bergantung pada keselarasan antara lingkungan keluarga, sekolah, dan realitas hidup bermasyarakat. Jika keempat unsur tersebut dapat berjalan beriringan, maka nilai Pancasila akan menjadi potret identitas yang kokoh bagi generasi mendatang.
Selain itu, anak didik dalam menghadapi perubahan teknologi yang cepat juga menjadi fokus utama agar mereka mampu bertahan di segala zaman.
3. Komposisi kurikulum berbasis praktik lapangan

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, mengatakan, skema Pendidikan Pancasila kini mulai menerapkan pembagian porsi materi yang lebih menitikberatkan pada aspek implementasi di luar ruangan.
Secara teknis, kurikulum ini dirancang dengan komposisi 30 persen aspek pengetahuan teoretis dan 70 persen praktik aktualisasi di lapangan.
"Jadi 30 persen itu lebih katakanlah teoritis, 70 persen ke praktik lapangan. Dari situ nanti akan lahir perubahan anak didik atau yang akan menjadi tokoh-tokoh bangsa itu bisa menghayati itu dalam kehidupan sehari-hari," ujar Yudian.


















