Sejumlah civitas akademika kompak tolak kekerasan seksual. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Sementara itu, Ketua Majelis Musyawarah KUPI, Nyai Badriyah Fayumi, dalam Pidato Kebangkitan Ulama Perempuan menyoroti maraknya berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di masyarakat, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual di lembaga pendidikan, hingga kekerasan struktural terhadap masyarakat dan lingkungan.
"Ulama perempuan Indonesia mengutuk keras semua bentuk kekerasan fisik dan seksual yang terjadi di ranah keluarga, lembaga pendidikan, ruang publik maupun kekerasan negara atau oleh aparat negara," ungkap Nyai Badriyah Fayumi.
Nyai Badriyah mengajak masyarakat membangun budaya anti-kekerasan melalui kesadaran kolektif untuk menolak menjadi korban, pelaku, maupun pihak yang membiarkan kekerasan terjadi.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Pernyataan Sikap kolaborasi lembaga penyangga yang bertajuk "Risalah Cut Nyak Dien Menteng". Pernyataan ini dibacakan dalam momentum Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia 2026 dengan menegaskan komitmen "Indonesia tanpa kekerasan dari ruang domestik hingga negara".
Adapula sosialisasi Beasiswa Kader Ulama Perempuan di pesantren dan perguruan tinggi sebagai upaya memperkuat kaderisasi ulama perempuan di berbagai wilayah.
Sebelum acara puncak, telah digelar rangkaian acara antara lain pembacaan 31 manaqib tokoh ulama perempuan Indonesia yang dilaksanakan selama 20 hari berturut-turut melalui kanal daring, juga khataman Al-Qur’an selama lima hari menjelang acara puncak dan menghasilkan 1.047 khataman dari ratusan lembaga, komunitas, pesantren, serta perguruan tinggi.
Acara ini sendiri disaksikan tidak hanya oleh peserta yang hadir langsung di lokasi, tapi juga oleh peserta dari berbagai pondok pesantren, ma’had aly, dan perguruan tinggi di sejumlah daerah melalui acara nonton bersama.