Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat memutuskan untuk tidak lagi menyerang Iran. Menurut keterangan seorang pejabat AS anonim kepada CNN, Jumat (10/7/2026), langkah ini diambil karena AS ingin mengutamakan jalur diplomasi ketimbang agresi militer untuk meredam konflik dengan Iran.
AS Rem Serangan ke Iran, Pilih Jalur Diplomasi buat Redam Konflik

- Pemerintah AS memutuskan menghentikan rencana serangan ke Iran dan memilih jalur diplomasi untuk mencegah konflik semakin meluas.
- Sebelumnya, AS sempat menyatakan siap menghadapi perang panjang dengan Iran demi menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
- Trump mengakhiri gencatan senjata namun tetap membuka peluang negosiasi, menyadari dampak ekonomi buruk dari perang berkepanjangan.
Pejabat itu mengatakan, jika AS kembali menyerang Iran, konflik dikhawatirkan bisa semakin parah. Sebab, Teheran telah menegaskan akan menyerang Washington dengan kekuatan yang lebih besar jika mereka kembali diserang. Hal ini tentu juga berpotensi membuat konflik kedua negara jadi makin alot.
1. AS sebetulnya sudah menyiapkan serangan terbaru ke Iran

Sebetulnya, AS sudah menyiapkan serangan terbaru ke Iran. Pejabat AS tadi menambahkan, serangan itu awalnya akan diluncurkan pada Jumat malam kemarin. Namun, Presiden Donald Trump dan para jajarannya memutuskan untuk menurunkan ego dan memilih jalan damai untuk menghentikan perang dengan Iran.
Trump juga mengklaim bahwa Iran sudah memintanya untuk melanjutkan negosiasi. Sebab, pada Rabu (8/7/2026) lalu, Trump memutuskan untuk menghentikan proses negosiasi lanjutan dengan Iran karena mereka melanggar kesepakatan dengan menyerang tiga kapal di Selat Hormuz. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran justru membantah pihaknya telah meminta Trump untuk melanjutkan negosiasi.
"Republik Islam Iran tidak mengajukan permintaan untuk bernegosiasi dengan AS. Pelanggaran berulang AS terhadap kerangka kesepakatan perdamaian yang ditandatangani bulan lalu tetap berdasarkan prinsip komitmen untuk komitmen. Oleh karena itu, setiap pelanggaran komitmen oleh Washington akan dibalas dengan tindakan timbal balik oleh Teheran," ujar Baghaei, seperti dilansir Anadolu Agency.
2. AS sebelumnya menyatakan siap perang panjang dengan Iran

Sikap AS ini berbanding terbalik dengan sebelumnya. Sebab, pada Kamis (9/7/2026), Negeri Paman Sam justru menyatakan siap melakukan perang panjang dengan Iran untuk mengamankan Selat Hormuz. Sebab, AS ingin menjamin kapal-kapal di selat tersebut bisa berlayar dengan bebas tanpa takut ancaman serangan dari Iran.
"Kita akan memberi mereka sedikit tamparan agar mereka mengerti bahwa kita tidak main-main. Hal itu telah meredakan kekhawatiran di dalam pemerintahan bahwa bentrokan yang kembali terjadi akan segera memicu lonjakan harga minyak yang besar," kata seorang pejabat AS anonim, seperti dikutip Jerusalem Post.
3. Trump mengakhiri gencatan senjata dengan Iran

Selain itu, Trump juga sudah memutuskan untuk mengakhiri gencatan senjata dengan Iran. Keputusan ini membuat AS bisa dengan mudah melakukan serangan lagi ke Iran jika mereka melanggar kesepakatan.
"Republik Islam Iran telah meminta kami untuk melanjutkan perundingan. Kami telah menyetujuinya. Namun, Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka (Iran) dengan tegas bahwa gencatan senjata telah berakhir! Terima kasih atas perhatian Anda untuk masalah ini,” tulis Trump di Truth Social.
Sikap ini menunjukkan bahwa AS dan Trump kini mulai melunak soal perang dengan Iran. AS menyadari bahwa perang berkepanjangan bisa berdampak buruk bagi mereka sendiri. Terlebih, AS juga sudah menggelontorkan dana jumbo untuk berperang dengan Iran sejak 28 Februari lalu. Sementara itu, kondisi perekonomian di AS kini sedang tidak baik-baik saja. Harga bahan bakar yang naik membuat harga barang pokok di sana juga melonjak sehingga warga menjadi tercekik.



















