CEK FAKTA: Betulkah Gunung Anak Krakatau Meletus Malam Ini?

- Badan Geologi ESDM menegaskan video viral yang menampilkan letusan Gunung Anak Krakatau di malam hari adalah hoaks dan tidak menggambarkan kondisi sebenarnya gunung tersebut.
- Saat ini Gunung Anak Krakatau berstatus Level III atau Siaga, dengan larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi demi keselamatan masyarakat dan wisatawan.
- Hasil analisis situs pendeteksi video menunjukkan 76 persen konten viral itu dibuat menggunakan kecerdasan buatan, memperkuat kesimpulan bahwa video tersebut palsu.
Jakarta, IDN Times - Viral di media sosial video yang menarasikan Gunung Anak Krakatau di Lampung meletus atau erupsi pada malam hari. Peristiwa itu direkam dari jarak yang cukup dekat di atas kapal, sementara erupsinya tergolong hebat.
"Dapat video dari teman yang jadi kapten kapal, benar gak sih sudah level 3? Ngeri kali kalau sampai meletus beneran," kata pemilik akun di media sosial Threads, dikutip Sabtu (11/7/2026).
Video berdurasi 48 detik itu sudah dibagikan ulang lebih dari 1.000 kali, menuai lebih dari 380 komentar, dan disukai lebih dari 6.000 akun. Sebagian warganet mengaku khawatir melihat video itu. Bahkan, ada yang membatalkan pemesanan hotel di Anyer. Ia khawatir insiden tsunami di Anyer pada 2018 terulang kembali.
Apakah video yang menggambarkan letusan Gunung Anak Krakatau di malam hari benar-benar terjadi? Atau itu video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan? Berikut penelusuran dan cek faktanya.
1. Badan Geologi sebut video tersebut tak menggambarkan keadaan sesungguhnya Gunung Anak Krakatau

Mengutip keterangan dari Badan Geologi ESDM, peristiwa meletusnya gunung pada malam hari bukan menggambarkan kejadian erupsi di Gunung Anak Krakatau. Menurut Badan Geologi insiden itu hoaks alias kabar bohong.
"Beredar di media sosial sebuah video yang diklaim memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau yang direkam dari atas kapal. Setelah dilakukan verifikasi, video tersebut bukan merupakan rekaman erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini. Sehingga informasi tersebut merupakan hoaks (tidak benar)," tulis Badan Geologi ESDM dalam situs resminya, dikutip pada Sabtu (11/7/2026).
Badan Geologi menyebutkan Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda. Pada 2018, goncangan gempa bumi memicu erupsi Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau, hingga menyebabkan tsunami di kawasan Selat Sunda.
Setelah peristiwa itu, erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. Setelah itu, terdapat jeda erupsi.
Badan Geologi menyebut Gunung Anak Krakatau mengalami dua kali erupsi pada awal Juli 2026, yaitu pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB dan 3 Juli 2026 pukul 11.50 WIB. Kabar erupsi itu kemudian diikuti video viral dan belakangan diketahui ternyata hoaks.
"Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi. Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi/PVMBG dan MAGMA Indonesia," kata Badan Geologi.
2. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi

Badan Geologi juga mengklarifikasi soal jarak aman Gunung Anak Krakatau. Menurut Badan Geologi jarak rekomendasi 5 km yang beredar merupakan informasi yang tak benar. Selain itu, saat ini Gunung Anak Krakatau berada di level III atau siaga.
"Rekomendasi resmi yang berlaku saat ini adalah masyarakat, wisatawan, dan nelayan tidak diperbolehkan beraktivitas dalam radius 3 km dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diharapkan selalu mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi/PVMBG dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak memiliki sumber yang jelas," kata Badan Geologi.
Berikut rekomendasi teknis level III atau Siaga Gunung Anak Krakatau:
1. Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
2. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung diminta untuk tenang dan jangan memercayai isu-isu tentang erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.
3. Untuk mengetahui informasi dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan Gunung Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten).
4. Masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi terkait dapat memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunungapi Anak Krakatau melalui aplikasi/website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (www.vsi.esdm.go.id), Magma Indonesia (https://magma.esdm.go.id), dan media sosial Badan Geologi (Facebook, X, dan Instagram), serta website Badan Geologi (www.geologi.esdm.go.id).
3. Video ledakan Gunung Anak Krakatau hoaks

IDN Times juga memeriksa video tersebut di situs Detect Video AI. Hasil analis menunjukkan 76 persen video tersebut merupakan kecerdasan buatan atau AI.
Berdasarkan data dan informasi dari Badan Geologi ESDM serta penelusuran IDN Times, maka dapat disimpulkan video letusan Gunung Anak Krakatau pada malam hari ini merupakan hoaks.



















