Kuba Alami Pemadaman Listrik Nasional Kedua dalam Sepekan

- Kuba mengalami pemadaman listrik nasional kedua dalam sepekan akibat kegagalan jaringan tua dan minimnya perawatan, memperparah kondisi infrastruktur energi yang sudah rapuh.
- Krisis energi membuat aktivitas warga lumpuh, dari transportasi hingga layanan medis, diperburuk oleh embargo bahan bakar AS yang memutus pasokan minyak utama ke Kuba.
- Pemerintah Kuba mempercepat transisi ke energi terbarukan dengan dukungan teknologi dari China sambil membuka peluang negosiasi diplomatik baru dengan Amerika Serikat.
Jakarta, IDN Times - Kuba kembali mengalami pemadaman listrik nasional pada Jumat (10/7/2026) sore waktu setempat. Ini merupakan kegagalan jaringan kelistrikan nasional yang kedua kalinya dalam satu pekan terakhir.
Pemadaman ini menambah penderitaan 10 juta warga Kuba yang tengah menghadapi krisis ekonomi parah. Blokade bahan bakar oleh Amerika Serikat (AS) dinilai memperparah kondisi infrastruktur energi Kuba yang sudah menua. Insiden terbaru juga menandai pemadaman nasional keempat di Kuba sepanjang tahun ini.
1. Kegagalan sistem berulang akibat infrastruktur tua

Jaringan listrik nasional Kuba lumpuh total pada pukul 16.30 waktu setempat. Pihak berwenang menyebut kegagalan ini bermula dari gangguan jalur transmisi antara provinsi Santa Clara dan Sancti Spíritus.
Kementerian Energi Kuba langsung mengaktifkan protokol pemulihan darurat setelah kejadian. Union Electrica de Cuba selaku operator negara berupaya memulihkan pasokan dengan cepat. Beberapa wilayah dilaporkan mulai mendapat aliran listrik kembali secara bertahap.
Pemadaman hari Jumat terjadi hanya empat hari setelah insiden serupa pada Senin. Saat itu, ketidakstabilan tegangan dan rendahnya produksi listrik menjadi penyebab utama. Sebagian besar wilayah baru kembali terhubung ke jaringan pada Selasa larut malam.
Infrastruktur energi Kuba saat ini dalam kondisi sangat rapuh. Sebagian besar pembangkit listrik berasal dari era Perang Dingin dan berusia lebih dari 30 tahun. Kurangnya perawatan rutin membuat sistem kelistrikan sangat rentan terhadap gangguan.
"Ini menjadi pekan yang sangat sulit akibat dampak blokade energi, dengan dua kali pemutusan jaringan listrik nasional, nyaris ketiadaan bahan bakar pembangkit, dan rusaknya sejumlah unit," ujar Perdana Menteri Kuba Manuel Marrero, dilansir ABC News.
2. Krisis energi melumpuhkan aktivitas rakyat Kuba

Pemadaman listrik berkepanjangan telah melumpuhkan aktivitas harian warga Kuba. Transportasi umum sebagian besar dihentikan dan puluhan ribu operasi medis terpaksa dibatalkan. Banyak makanan milik warga dan pelaku usaha kecil membusuk akibat ketiadaan mesin pendingin.
Sejumlah wilayah pinggiran kota bahkan hanya mendapat pasokan listrik selama satu hingga dua jam per hari. Situasi ini memicu ketegangan sosial di tengah masyarakat. Beberapa protes sporadis dengan memukul panci sempat pecah di ibu kota Havana.
Krisis energi semakin memburuk sejak awal tahun akibat tekanan geopolitik. Presiden AS Donald Trump memutus pasokan minyak asing ke Kuba sejak Januari lalu. Langkah ini diambil setelah AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang merupakan pemasok utama bahan bakar Kuba.
AS juga mengancam akan memberikan tarif tinggi bagi negara yang memasok bahan bakar ke Kuba. Tekanan ini membuat negara sekutu seperti Meksiko ikut menghentikan pengiriman minyak. Kuba kini kesulitan memenuhi kebutuhan 100 ribu barel minyak per hari.
"Sanksi ekonomi dan embargo bahan bakar ini merupakan pelanggaran sistematis terhadap hak asasi manusia seluruh rakyat dalam bentuk tindakan hukuman kolektif," tutur Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla, dilansir CBC News.
3. Upaya transisi energi di tengah negosiasi dengan AS

Kuba berusaha mencari jalan keluar dari ketergantungan bahan bakar fosil impor. Pemerintah mulai mempercepat transisi menuju sumber energi terbarukan seperti tenaga surya. Peralatan teknologi surya tersebut kini diimpor dari China untuk menopang infrastruktur energi nasional.
Saat ini, energi terbarukan baru menyumbang sekitar 18 persen dari total konsumsi energi Kuba. Negara kepulauan ini menargetkan produksi seperempat dari kebutuhan energinya dari sumber terbarukan pada 2030.
Di sisi lain, isu diplomasi dengan AS kembali mencuat di tengah krisis energi. Cucu mantan pemimpin Kuba Raul Castro baru-baru ini menyatakan keterbukaan untuk bernegosiasi dengan pemerintahan Trump. Pernyataan ini memicu spekulasi mengenai adanya perpecahan di internal kepemimpinan negara tersebut.
Pemerintah Kuba dengan cepat membantah rumor perpecahan di level elite. Tim kerja untuk dialog dengan AS diklaim tetap solid dan bekerja di bawah mandat Presiden Miguel Diaz-Canel.





















