Jakarta, IDN Times - Memasuki bulan Agustus, beredar narasi telah terjadi aksi unjuk rasa, tetapi tidak diliput oleh media arus utama. Salah satunya disebarkan oleh akun platform X @dieddfish pada 27 Juli 2026. Dia mengunggah kembali rekaman video demonstrasi yang dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia di Jalan Jenderal Sudirman pada 12 Juni 2026. Namun, persepsi yang dibentuk seolah-olah unjuk rasa itu terjadi pada 27 Juli 2026.
"Demo sebesar ini gak diliput media? Dan lu tahu? Kalau di area demo, gak ada sinyal. Emang udah gila rezim ini," demikian cuit akun tersebut yang dikutip pada Selasa (4/8/2026).
Cuitan @dieddfish itu telah mendapatkan impresi 1,9 juta views dan diunggah ulang lebih dari 30 ribu kali. Unggahan tersebut juga menuai 325 komentar.
Adapula disinformasi yang disebarkan oleh akun @mahmudayayuk di Threads yang memakai foto aksi demo mahasiswa di depan kantor Polda Metro Jaya pada Agustus 2025 untuk narasi yang berbeda. Foto itu dipakai untuk narasi aksi damai mahasiswa di depan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengawal putusan tentang uji materiil alokasi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Aksi demonstrasi mahasiswa, Kamis 30 Juli 2026. Aksi aliansi mahasiswa peduli sosial di sekitar kantor Badan Gizi Nasional (BGN) Kebon Sirih, mulai sekitar pukul 12.00 WIB. Ratusan mahasiswa UI bersama aliansi masyarakat sipil juga menggelar aksi di MK untuk mengawasi isu anggaran pendidikan di dalam APBN 2026," demikian cuit si pemilik akun.
Hasil analisis Monash University di Indonesia menunjukkan akun-akun dengan unggahan narasi serupa bukan suatu kebetulan. Berdasarkan hasil analisis dari 34.935 unggahan di platform X, 99,46 persen merupakan retweet.
"Beberapa akun menunjukkan pola yang hampir mustahil dilakukan secara manual," kata akademisi di Monash University Indonesia, Ika Idris, ketika dihubungi IDN Times, Selasa.
Dugaan penggunaan teknologi tambahan untuk mengunggah konten-konten dengan narasi serupa itu diperkuat dari pola sejumlah akun menampilkan postingan.
"Sebuah akun misalnya, melakukan sembilan retweet berbeda dalam waktu sekitar 105 milidetik. Sejumlah akun lainnya juga melakukan beberapa retweet dengan jeda kurang dari satu detik. Pola ini mengindikasikan penggunaan skrip, aplikasi otomatis atau mekanisme bulk retweet yang tujuannya memang untuk menaikan engagement percakapan," kata dia.
