Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Revitalisasi saluran lingkungan Desa Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe (Dok. Tim Media Satgas PRR)
  • Satgas PRR mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabanjir di Aceh, mencakup permukiman serta perikanan budi daya, meski bencana susulan menambah tantangan pemulihan.

  • Di Ujong Pacu, normalisasi drainase senilai sekitar Rp1,14 miliar dilakukan untuk mengurangi luapan air ke rumah warga setelah saluran tertimbun lumpur.

  • Pemerintah menyalurkan 1.186.500 benur udang windu kepada dua kelompok petambak; pemulihan tambak masih memerlukan pembersihan lumpur, normalisasi saluran, dan penguatan tanggul.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Satgas PRR mempercepat pemulihan pascabanjir melalui normalisasi drainase permukiman dan penyaluran 1.186.500 benur udang windu bagi petambak di Gampong Ujong Pacu.
  • Who?
    Satgas PRR, Dinas PUPR Kota Lhokseumawe, Pemerintah Aceh, Pokdakan Makmur Tambak, Pokdakan Bungong Rabo, serta warga dan petambak Ujong Pacu terlibat dalam pemulihan.
  • Where?
    Pemulihan berlangsung di Gampong Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Aceh. Rencana rehabilitasi perikanan Aceh mencakup 18 kabupaten/kota.
  • When?
    Program berlangsung pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi bencana yang terjadi akhir 2025. Data dampak tambak di Aceh dihimpun per 27 Januari 2026.
  • Why?
    Banjir menimbun drainase dan tambak dengan lumpur, menyebabkan air meluap ke rumah warga serta mengganggu budidaya dan penghasilan sekitar 70 kepala keluarga petambak.
  • How?
    Drainase dinormalisasi Dinas PUPR dengan APBD Perubahan 2026 sekitar Rp1,14 miliar. Benur dari APBN disalurkan kepada dua kelompok petambak, disertai rencana perbaikan tata air, prasarana, dan tanggul.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lhokseumawe, IDN Times – Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus mempercepat pemulihan wilayah terdampak banjir di Aceh. Upaya tersebut tidak hanya menyasar perbaikan infrastruktur permukiman, tetapi juga pemulihan sektor perikanan budi daya untuk mengembalikan mata pencaharian masyarakat.

Hal itu tampak di Gampong Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Di kawasan ini, revitalisasi saluran lingkungan dilakukan untuk mengembalikan fungsi drainase yang tertimbun lumpur. Sementara itu, bantuan 1.186.500 ekor benur udang windu disalurkan kepada dua kelompok petambak agar kegiatan budi daya kembali berjalan.

Kasatgas PRR Tito Karnavian menjelaskan, pemerintah saat ini tengah menjalankan fase rehabilitasi dan rekonstruksi atas bencana yang terjadi pada akhir 2025. Namun, bencana susulan yang kembali terjadi di sejumlah wilayah menambah tantangan dalam proses pemulihan.

Menurutnya, penanganan bencana memiliki beberapa tahapan, mulai dari tanggap darurat, transisi, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada masa transisi, pemerintah berupaya memfungsikan kembali fasilitas yang mengganggu kehidupan masyarakat, seperti jalan, jembatan, dan sekolah, meskipun belum melalui perbaikan permanen.

Sementara itu, rehabilitasi dan rekonstruksi diarahkan untuk memperbaiki infrastruktur secara permanen, bahkan diupayakan memiliki kualitas lebih baik dibandingkan kondisi sebelumnya.

Tito menilai, bencana susulan perlu mendapatkan penanganan khusus agar proses perbaikan tidak tertunda. Sebab, mekanisme pengadaan melalui pelelangan dapat membutuhkan waktu hingga dua atau tiga bulan.

"Pelelangan, lelangnya lama dua bulan, tiga bulan, masyarakatnya sudah setengah mati. Oleh karena itu, kami akan sepakat dan kami akan mengeluarkan surat dari Kemendagri, saya selaku Kasatgas, nanti akan memberikan arahan untuk daerah yang terkena tiga provinsi yang terkena lagi bencana baru, bencana susulan, ini bisa menerapkan situasi tanggap darurat lagi," jelasnya.

1. Renduk kerusakan tambak dan kebutuhan pemulihan Aceh

ilustrasi pemulihan (pexels.com/Monstera)

Dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk), pemulihan sektor perikanan menjadi salah satu bagian penting untuk mengembalikan kapasitas produksi dan penghidupan masyarakat terdampak.

Kompilasi data kementerian/lembaga per 27 Januari 2026 dalam dokumen Renduk mencatat sebanyak 30.417 hektare tambak, kolam, dan prasarana pendukung terdampak bencana di Aceh.

Penanganannya mencakup perbaikan prasarana produksi, pemulihan sistem tata air dan saluran pendukung, serta bantuan benih dan pakan. Dukungan juga diarahkan pada akses permodalan, kegiatan padat karya, perlindungan usaha, dan pendampingan penyuluh perikanan.

Untuk Aceh, rencana rehabilitasi prasarana produksi kelautan dan perikanan mencakup 18 kabupaten/kota. Sementara bantuan sarana produksi direncanakan menjangkau 16 kabupaten/kota.

Pada tahap rekonstruksi, kawasan produksi diarahkan agar lebih adaptif terhadap risiko bencana, didukung infrastruktur yang andal serta hubungan produksi, pengolahan, dan distribusi yang terintegrasi.

Kerangka tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berorientasi pada perbaikan fisik, tetapi juga memastikan masyarakat dapat kembali menjalankan kegiatan ekonomi secara berkelanjutan.

2. Saluran permukiman Ujong Pacu kembali dinormalisasi

ilustrasi saluran irigasi (IDN Times/Wayan Antara)

Salah satu bentuk pemulihan infrastruktur lingkungan berlangsung di Gampong Ujong Pacu. Banjir sebelumnya menyebabkan saluran drainase dipenuhi endapan lumpur sehingga air tidak dapat mengalir dengan baik dan meluap ke rumah warga.

Keuchik Ujong Pacu, M. Nasir, mengatakan kondisi parit sebelum normalisasi sangat memprihatinkan. Hampir seluruh saluran tertimbun lumpur akibat banjir.

“Sebelum dilakukan normalisasi, semua sudah tertimbun lumpur. Sebagian yang sudah dibersihkan sekarang kondisinya sudah lumayan lagi,” ujar Nasir.

Revitalisasi saluran lingkungan tersebut menggunakan APBD Perubahan 2026 yang bersumber dari tambahan Transfer ke Daerah (TKD Tambahan). Pekerjaan yang dilaksanakan Dinas PUPR Kota Lhokseumawe itu memiliki pagu anggaran sekitar Rp1,14 miliar. 

TKD Tambahan adalah alokasi dana tambahan dari pemerintah pusat yang disalurkan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah khususnya guna mempercepat rehabilitasi, rekonstruksi, serta pemulihan wilayah yang terdampak bencana atau untuk mendukung penanganan kebutuhan mendesak lainnya.

Nasir berharap seluruh saluran segera dinormalisasi agar air hujan dapat mengalir melalui parit menuju sungai dan tidak kembali masuk ke rumah penduduk.

“Kalau sudah dinormalisasi semua, otomatis masyarakat tidak was-was lagi saat hujan. Air tidak masuk lagi ke rumah warga karena aliran air melalui parit sudah menuju sungai,” katanya.

Manfaat pekerjaan tersebut juga dirasakan warga setempat. Joni, warga Jalan Ujong Pacu, mengatakan kondisi saluran mulai membaik setelah dilakukan normalisasi.

“Sangat membantu warga masyarakat. Kalau ada hujan sedikit, air tidak langsung meluap ke rumah warga,” ujarnya.

Meski demikian, ia berharap pemulihan dilanjutkan dengan pembangunan talud di sekitar saluran untuk mengantisipasi longsor dari kawasan perbukitan di dekat permukiman.

3. Sebanyak 1,18 Juta Benur untuk bangkitkan ekonomi petambak

ilustrasi ekonomi (pexels.com/crazy motions)

Selain infrastruktur permukiman, pemulihan di Ujong Pacu juga menyasar kegiatan ekonomi masyarakat melalui bantuan benur udang windu.

Berdasarkan data bantuan, Pokdakan Makmur Tambak menerima 700 ribu ekor benur, sedangkan Pokdakan Bungong Rabo memperoleh 486.500 ekor. Dengan demikian, total bantuan mencapai 1.186.500 ekor yang bersumber dari APBN. Status penyaluran untuk kedua kelompok tercatat selesai.

Nasir mengatakan sekitar 70 kepala keluarga di wilayahnya bekerja sebagai petani tambak. Sebelum banjir, usaha budidaya tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat.

Namun, banjir menyebabkan hampir seluruh tambak kemasukan lumpur meskipun tidak seluruh petakan tertimbun penuh. Sebagian lahan menjadi dangkal sehingga membutuhkan pembersihan dan perbaikan sebelum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Nasir mengapresiasi bantuan bibit dan pakan dari pemerintah pusat serta Pemerintah Aceh. Ia berharap dukungan tersebut dapat membantu membangkitkan kembali perekonomian masyarakat secara bertahap.

“Insyaallah, dengan izin Allah, bisa secara perlahan, walaupun belum maksimal. Ada tambak yang memang harus direnovasi kembali. Lumpur yang ada harus dibersihkan,” katanya.

Petani tambak Ujong Pacu, Sulaiman, juga menyampaikan bahwa bantuan pemerintah telah membantu kegiatan ekonomi masyarakat. Namun, pemulihan usaha belum sepenuhnya kembali seperti sebelum bencana.

“Kalau dikatakan normal 100 persen, belum. Kami masih membutuhkan bantuan,” ujar Sulaiman.

Menurutnya, ekskavator masih dibutuhkan untuk membantu normalisasi tambak. Selain itu, petambak memerlukan perawatan lahan, normalisasi saluran, serta penguatan tanggul sungai yang kerap meluapkan air ke kawasan tambak. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article