Lhokseumawe, IDN Times – Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus mempercepat pemulihan wilayah terdampak banjir di Aceh. Upaya tersebut tidak hanya menyasar perbaikan infrastruktur permukiman, tetapi juga pemulihan sektor perikanan budi daya untuk mengembalikan mata pencaharian masyarakat.
Hal itu tampak di Gampong Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Di kawasan ini, revitalisasi saluran lingkungan dilakukan untuk mengembalikan fungsi drainase yang tertimbun lumpur. Sementara itu, bantuan 1.186.500 ekor benur udang windu disalurkan kepada dua kelompok petambak agar kegiatan budi daya kembali berjalan.
Kasatgas PRR Tito Karnavian menjelaskan, pemerintah saat ini tengah menjalankan fase rehabilitasi dan rekonstruksi atas bencana yang terjadi pada akhir 2025. Namun, bencana susulan yang kembali terjadi di sejumlah wilayah menambah tantangan dalam proses pemulihan.
Menurutnya, penanganan bencana memiliki beberapa tahapan, mulai dari tanggap darurat, transisi, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada masa transisi, pemerintah berupaya memfungsikan kembali fasilitas yang mengganggu kehidupan masyarakat, seperti jalan, jembatan, dan sekolah, meskipun belum melalui perbaikan permanen.
Sementara itu, rehabilitasi dan rekonstruksi diarahkan untuk memperbaiki infrastruktur secara permanen, bahkan diupayakan memiliki kualitas lebih baik dibandingkan kondisi sebelumnya.
Tito menilai, bencana susulan perlu mendapatkan penanganan khusus agar proses perbaikan tidak tertunda. Sebab, mekanisme pengadaan melalui pelelangan dapat membutuhkan waktu hingga dua atau tiga bulan.
"Pelelangan, lelangnya lama dua bulan, tiga bulan, masyarakatnya sudah setengah mati. Oleh karena itu, kami akan sepakat dan kami akan mengeluarkan surat dari Kemendagri, saya selaku Kasatgas, nanti akan memberikan arahan untuk daerah yang terkena tiga provinsi yang terkena lagi bencana baru, bencana susulan, ini bisa menerapkan situasi tanggap darurat lagi," jelasnya.