Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Israel Sebut Iran Bisa Gunakan Senjata Kimia jika Perang Berlanjut

3 min read
Israel Sebut Iran Bisa Gunakan Senjata Kimia jika Perang Berlanjut
potret bendera Israel (pexels.com/Oren Noam Gilor)
  • Intelijen Israel memperingatkan AS bahwa Iran berpotensi memakai senjata kimia jika perang berlanjut, meski respons pejabat AS terbelah antara serius dan skeptis.
  • Sejumlah pejabat AS menilai peringatan Israel merupakan upaya Benjamin Netanyahu memengaruhi Donald Trump agar mendukung serangan besar ke Iran.
  • AS menyerang Pulau Qeshm pada 2 November 2026 dalam operasi skala kecil, sementara Iran sebelumnya juga disebut mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Israel menyebut Iran berpotensi menggunakan senjata kimia jika perang kembali berlanjut. The New York Times (NYT) dalam laporannya pada Selasa (3/11/2026) menjelaskan, informasi itu sudah disampaikan oleh pihak intelijen Israel ke Amerika Serikat (AS) untuk berjaga-jaga. 

NYT menjelaskan, sejumlah pejabat AS ada yang menanggapi informasi tersebut dengan serius. Sebab, mereka menganggap itu sebagai ancaman besar. Namun, sebagian pejabat AS lainnya justru ada yang bersikap skeptis soal kemungkinan Iran akan menggunakan senjata kimia jika perang dengan AS dan Israel kembali meletus.

  1. 1. Pejabat AS menyebut Benjamin Netanyahu ingin memengaruhi Donald Trump

    Benjamin Netanyahu sedang berbicara dengan Donald Trump.
    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri), sedang menyambut kedatangan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kanan), di Gedung Putih pada 7 April 2025. (flickr.com/White House via commons.wikimedia.org/White House)

    Sejumlah pejabat AS menyebut, informasi intelijen Israel tadi merupakan upaya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memengaruhi Presiden AS, Donald Trump, agar mau melakukan serangan besar ke Iran. Sebab, dalam percakapan telepon dengan Trump pekan lalu, Netanyahu mengatakan dirinya bersedia membantu AS untuk melakukan serangan baru ke Iran. Namun, Trump justruk menolak. 

    Meski demikian, AS akhirnya melakukan serangan baru ke Iran pada Senin (2/11/2026). Dilansir CNN, serangan itu menyasar Pulau Qeshm, salah satu pulau milik Iran yang ada di dekat Selat Hormuz. Namun, serangan tersebut hanya berskala kecil sehingga tidak menimbulkan dampak yang signifikan. “Ini adalah tindakan defensif dari Iran yang menggunakan rudal permukaan-ke-udara terhadap aset-aset AS,” kata seorang pejabat AS anonim soal serangan ke Pulau Qeshm.

  2. 2. Intelijen Israel sempat membicarakan senjata kimia Iran dengan AS

    Pengembangan senjata kimia.
    ilustrasi pengembangan senjata kimia (pexels.com/MART PRODUCTION)

    Sebelumnya, intelijen Israel sudah mengadakan pertemuan dengan AS. Dalam pertemuan itu, mereka mengungkapkan potensi penggunaan senjata kimia oleh Iran dalam peperangan sangat tinggi. Sebab, mereka menyebut Teheran saat ini sedang gencar mengembangkan senjata tersebut. 

    Oleh karena itu, intelijen Israel penggunaan senjata kimia akan menjadi ancaman yang lebih besar dari Iran dibanding penggunaan senjata nuklir. Sebab, sejauh ini, belum ada tanda-tanda Teheran akan menggunakan senjata pemusnah massal tersebut jika perang dengan AS dan Israel kembali meletus.

  3. 3. Iran sempat disebut akan menggunakan senjata nuklir untuk berperang

    Senjata nuklir.
    ilustrasi senjata nuklir (unsplash.com/Sergey Koznov)

    Sebelumnya, Iran sempat disebut akan menggunakan senjata nuklir jika perang dengan AS dan Israel berlanjut. Kabar tersebut disampaikan oleh sejumlah pejabat dari Timur Tengah kepada Wall Street Journal (WSJ) pada 24 Oktober lalu. 

    Salah satu media Iran, Iran International, menjelaskan, penggunaan senjata nuklir ini diusulkan oleh Ketua Komite Urusan Internasional parlemen Iran, Mohammad Saleh Jokar. Jokar disebut telah meminta angkatan bersenjata Iran untuk menggunakan serangkaian senjata baru, termasuk bom nuklir, untuk membalas serangan AS dan Israel jika memang suatu saat nanti kedua negara tersebut kembali meluncurkan serangan ke Iran.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More