Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tak Tersentuh MBG, Ini Kisah Guru Pelosok Siapkan 'Masakan Bu Guru' untuk Siswa
Riska Andriani menyiapkan makanan untuk anak-anak di sekolah pelosok (Instagram/@rskdrian)
  • SDK Ogolau di Kabupaten Parigi Moutong belum mendapat MBG meski sekolah lain di desa yang sama telah menerima program tersebut.
  • Riska Andriani membuat “Masakan Bu Guru” setelah melihat murid datang tanpa bekal dan uang jajan.
  • Donasi dari teman-teman di media sosial membantu penyediaan sekitar 40 porsi makanan dalam satu kegiatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sejak awal Mei

Riska mulai membuat makanan untuk anak-anak di sekolahnya. Kegiatan tersebut bukan bagian dari MBG.

Sekarang

Sekitar 40 porsi makanan dapat disiapkan dalam satu kegiatan melalui “Masakan Bu Guru”.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Riska Andriani menjalankan “Masakan Bu Guru” untuk menyiapkan makanan bagi murid SDK Ogolau.
  • Who?
    Riska Andriani, murid SDK Ogolau, dan para donatur dari media sosial terlibat dalam kegiatan ini.
  • Where?
    SDK Ogolau, Kabupaten Parigi Moutong, berada di wilayah dengan akses sulit.
  • When?
    Kegiatan ini dimulai sejak awal Mei dan kini menyiapkan sekitar 40 porsi dalam satu kegiatan.
  • Why?
    Riska melihat anak-anak datang tanpa bekal dan sekolahnya belum pernah mendapat Program Makan Bergizi Gratis.
  • How?
    Riska memasak secara mandiri dengan dana, bahan, dan alat masak yang ditanggung donatur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bu Riska mengajar anak-anak di SDK Ogolau. Ia melihat banyak anak datang tanpa bekal dan uang jajan. Sekolahnya belum dapat MBG. Bu Riska lalu memasak makanan dengan bantuan teman-teman yang memberi donasi. Sekarang, ia bisa menyiapkan sekitar 40 porsi makanan untuk anak-anak di sekolah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bantuan yang bermula dari pembelian susu dan makanan ringan dengan gaji sertifikasi Riska berkembang melalui donasi teman-teman di media sosial. Dukungan itu memungkinkan kebutuhan alat dan bahan masak dipenuhi, sementara Riska menyalurkan amanah tersebut menjadi makanan untuk sekitar 40 anak dalam satu kegiatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sudah berbulan-bulan anak-anak di SDK Ogolau, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, belum mendapat Program Makan Bergizi Gratis (MBG), meski sekolah lain yang masih berada di desa yang sama telah mendapat program tersebut. Melihat kondisi itu, guru bernama Riska Andriani memilih membuat makanan sendiri untuk muridnya melalui program “Masakan Bu Guru”.

Bagi Riska, “Masakan Bu Guru” awalnya bukan program yang dirancang sejak awal. Semuanya bermula dari kegelisahan sederhana ketika dia melihat anak-anak datang ke sekolah tanpa bekal dan uang untuk membeli jajanan.

Dari sana, bantuan kecil yang awalnya berasal dari gaji sertifikasi Riska berkembang menjadi donasi dari teman-temannya di media sosial. Sekarang, sekitar 40 porsi makanan dapat disiapkan dalam satu kegiatan.

"Sejak awal Mei. Itu bukan MBG yah kak, karena di sekolah kami tidak pernah mendapat program tersebut. Saat itu saya melihat kondisi anak-anak di sekolah tanpa jajan dan bekal dari rumah. Ada satu dua anak yang bawa bekal tapi itu hanya bawa nasi dan lauk ikan kering seadanya. Saya dapat cerita kalau di antara mereka ada yang hidup kekurangan, bahkan dalam segi makanan di rumahnya," kata Riska bercerita pada IDN Times, Senin (24/8/2026).

1. Melihat anak sekolah datang tanpa bekal

Riska Andriani menyiapkan makanan untuk anak-anak di sekolah pelosok (Instagram/@rskdrian)

Riska mengajar di SDK Ogolau, Kabupaten Parigi Moutong. Sekolah tersebut berada di wilayah yang aksesnya sulit. Dalam kesehariannya, Riska melihat langsung kondisi murid-muridnya.

Ada anak yang datang ke sekolah tanpa membawa jajanan. Ada pula yang membawa bekal, tetapi hanya berupa nasi dengan lauk sederhana.

Kondisi itu membuat Riska mulai memikirkan kebutuhan makan anak-anak selama berada di sekolah. Terlebih, dia juga mendapat cerita mengenai sejumlah murid yang hidup dalam keterbatasan makanan di rumah.

Riska tidak langsung berpikir untuk membuat program makanan. Dia awalnya hanya ingin berbagi sebisanya. Ketika gaji sertifikasinya cair, dia membeli susu dan makanan ringan untuk dibagikan kepada anak-anak. Momen itu kemudian dia abadikan dan unggah ke media sosial.

Tujuannya saat itu sederhana. Dia ingin membagikan cerita kepada orang-orang di kampung melalui media sosial, bukan menggalang donasi. Namun, unggahan tersebut justru menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.

2. Satu pertanyaan soal MBG mengubah semuanya

Riska Andriani menyiapkan makanan untuk anak-anak di sekolah pelosok (Instagram/@rskdrian)

Salah satu pengikut Riska kemudian bertanya soal keberadaan MBG di sekolah tempatnya mengajar. Pertanyaan itu membuat Riska menjelaskan kondisi sebenarnya yakni sekolahnya belum mendapatkan program tersebut.

“Dari situ ada salah satu pengikutku yang bertanya, 'di sana ada MBG kak?'. Dan kujawab belum ada," kata dia.

Jawaban tersebut kemudian menggerakkan hati para donatur. Satu per satu orang mulai menawarkan bantuan untuk anak-anak, yang jauh bahkan belum pernah mereka temui, hanya lewat layar gawai saja. Gerakan Riska ternyata menyentuh hati banyak orang.

Awalnya, bantuan tersebut direncanakan untuk membeli susu dan roti. Namun, kebutuhan anak-anak membuat bentuk bantuan berkembang.

Ada permintaan agar dana yang diberikan digunakan untuk membuat bekal nasi dengan lauk ayam. Dari sinilah “Masakan Bu Guru by teman-teman Ibu Guru” mulai berjalan.

Riska mengatakan bantuan tersebut bukan sesuatu yang dia minta. Teman-teman sesama guru justru berinisiatif mengirimkan dana untuk anak-anak.

“Itu murni muncul dari rasa empati dari mereka. Saya hanya menyampaikan amanah itu," kata dia.

Posisinya dalam kegiatan tersebut lebih sebagai orang yang meerima amanah dan memastikan bantuan sampai kepada anak-anak.

3. Sekolahnya belum pernah mendapat MBG

Riska Andriani menyiapkan makanan untuk anak-anak di sekolah pelosok (Instagram/@rskdrian)

Riska membedakan secara tegas makanan yang dia buat dengan program MBG pemerintah. Dia menyebut makanan yang dibagikan kepada murid bukan bagian dari program MBG. Dia menamainya “Masakan Bu Guru” karena seluruh prosesnya dilakukan secara mandiri melalui bantuan para donatur.

Menurut Riska, sekolahnya bahkan belum pernah menerima MBG sejak program tersebut mulai tersedia di sekolah lain, sejak Presiden Prabowo menggalakkan program secara nasional.

“Anak-Anak di sini belum pernah mendapatkan program MBG sejak awal MBG ada di sekolah lain," kata dia.

Situasinyasemakin menjadi perhatian karena sekolah tempatnya mengajar berada di desa yang sama dengan dua sekolah lainnya. Menurut Riska, dari tiga sekolah yang berada di desa tersebut, sekolahnya menjadi satu-satunya yang belum dijangkau MBG.

“Jadi sekolah kamilah satu-satunya dari tiga sekolah yang berada di satu desa yang sama yang belum dijangkau MBG," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat Riska mepertanyakan bagaimana sekolah yang berada jauh dan sulit diakses bisa mendapatkan manfaat program yang sama. Persoalannya, menurut dia, bukan hanya mengenai ketersediaan makanan. Jarak dan kondisi jalan juga menjadi bagian dari masalah.

4. Empat puluh porsi makanan disiapkan bergantian

ilustrasi siswa sekolah (unsplash.com/Syahrul Alamsyah Wahid)

“Masakan Bu Guru” dibuat dalam jumlah yang cukup untuk anak-anak di sekolah. Dalam satu kegiatan, Riska biasanya menyiapkan sekitar 40 porsi.

“Total porsi yang dibuat biasanya untuk 40 orang," kata dia.

Menu yang diberikan juga sederhana. Tidak ada daftar makanan yang rumit. Nasi ayam, nasi kuning, dan nasi telur menjadi pilihan yang dibuat secara bergantian. Menu tersebut disesuaikan dengan permintaan anak-anak. Seluruh kebutuhan memasak berasal dari donatur. Bukan hanya bahan makanan, tetapi juga alat yang diperlukan untuk memasak.

“Semua kebutuhan masak mencakup alat dan bahan ditanggung donatur," kata dia.

Dengan cara itu, Riska dapat memastikan makanan sampai kepada anak-anak tanpa harus membebankan seluruh biaya kepada dirinya sendiri.

Di balik setiap porsi makanan, ada bantuan orang-orang yang mengikuti ceritanya melalui media sosial. Bagi Riska, peran tersebut merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga amanah yang diberikan kepadanya.

5. Anak-anak menunggu makanan yang dibawa dari jauh

Penyaluran program MBG di SDN 3 Rajabasa, Bandar Lampung. (IDN Times/Tama Yudha Wiguna).

Bagi anak-anak, makanan yang datang ke sekolah bukan sekadar menu makan siang. Riska mengatakan mereka selalu menyambut makanan yang dibawa. Bahkan, perjalanan untuk membawa makanan menuju sekolah bukan perkara mudah. Makanan tersebut dibawa hingga ke sekolah yang berada di wilayah dengan akses sulit. Namun, rasa lelah itu terbayar ketika melihat respons anak-anak.

“Yang pasti mereka senang dengan makan enak yang kami bawa mendaki hingga puncak," kata Riska.

Riska mengatakan anak-anak selalu menyebut makanan yang dibawa tersebut enak. Namun, yang paling membekas baginya bukan sekadar respons terhadap rasa makanan.

“Momen paling kuingat adalah setiap hari saya mendapat puluhan ucapan terima kasih dari anak-anak dan orang tua," katanya

Ucapan tersebut menjadi pengalaman yang terus diingat Riska. Dia melihat ada rasa syukur dan bahagia dari anak-anak serta orang tua yang menerima makanan.

Di titik itu, makanan yang awalnya hanya berupa bantuan sederhana berubah menjadi pengalaman emosional bagi seorang guru yang melihat langsung kehidupan murid-muridnya.

6. Menurut Riska, jalan lebih mendesak diperbaiki

Foto udara kendaraan melintasi jalan berkelok pada jalur Trans Sulawesi Kebun Kopi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Selasa (18/4/2023). ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/hp.

Ketika ditanya apa yang paling mendesak agar anak-anak di pelosok bisa merasakan manfaat MBG secara layak dan berkelanjutan, Riska tidak langsung menjawab soal makanan. Dia justru menyoroti persoalan akses. Menurut dia, di kecamatan tempatnya bertugas masih ada sekolah yang memiliki akses lebih mudah tetapi belum mendapat MBG. Karena itu, kondisi sekolahnya yang berada di wilayah jauh dengan akses sulit menjadi persoalan tersendiri.

“Karena sekolah yang aksesnya mudah saja gak kebagian," katanya

Riska mengaku bingung menentukan apa yang paling mendesak untuk memastikan program tersebut bisa menjangkau sekolah seperti tempatnya mengajar. Namun, jika harus memilih satu hal, dia menunjuk jalan menuju sekolah.

“Yang mendesak yang perlu diperbaiki adalah jalan menuju sekolah kami," ujarnya.

Menurut Riska, perbaikan jalan tidak hanya berkaitan dengan distribusi MBG.

“Bukan hanya untuk program MBG tapi untuk semua program termasuk kemudahan akses mobilitas masyarakat, barang, serta fasilitas penunjang pendidikan lainnya," ujarnya.

Bagi Riska, persoalan yang dialami anak-anak di sekolahnya akhirnya tidak berhenti pada satu kotak makanan. Ada jarak yang harus ditempuh, jalan yang harus dilalui, dan akses yang harus dibuka agar berbagai program pemerintah benar-benar sampai kepada mereka.

Sambil menunggu itu, Riska tetap memasak. Bersama para donatur, dia menyiapkan makanan untuk puluhan anak yang belum pernah mendapat MBG. “Masakan Bu Guru” menjadi cara sederhana yang dia pilih untuk menjawab kebutuhan anak-anak di depan matanya sendiri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article