Hampir Punah, Burung Murai Maratua Sukses Dikonservasi dari 8 Ekor Jadi 97

- Program konservasi PCBA menyelamatkan Murai Maratua, burung endemik yang sempat tak terdeteksi di alam, dari delapan individu tersisa menjadi 97 ekor.
- Delapan burung terakhir, terdiri dari tiga jantan dan lima betina, ditemukan dalam sangkar peliharaan masyarakat di Pulau Jawa, bukan di habitat alaminya.
- PCBA memilih konservasi ex-situ untuk mengurangi risiko kepunahan, lalu memulai penangkaran pada 2018 di fasilitas khusus Taman Safari Prigen.
Bogor, IDN Times - Ancaman hilangnya spesies endemik Indonesia dari muka bumi bukan lagi sekadar kekhawatiran semata. Namun, lewat pendekatan konservasi yang tepat, ancaman kepunahan tersebut berhasil dicegah. Hal ini dibuktikan melalui keberhasilan program penyelamatan Murai Maratua, burung endemik yang kini populasinya kembali bangkit.
Kurator Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), Jochen Klaus Menner, membagikan kisah sukses program penangkaran ini saat menjadi pembicara dalam kegiatan Orientasi Wartawan Konservasi (Owaka) FOKSI di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, Sabtu (22/8/2026).
"Secara morfologi cukup berbeda dengan murai lain. Berarti kehilangan Murai Maratua itu tidak begitu ringan. Tapi kalau (konservasi) memang dilakukan dengan fokus, dengan kepedulian, memang bisa terjadi. Jenisnya diselamatkan. Dari 8 individu tersisa di dunia, sampai 97 individu hari ini," ungkap Jochen.
1. Menyelamatkan 8 individu terakhir dari sangkar peliharaan

Kurator Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), Jochen Klaus Menner bersama pendiri TSI Tony Sumampau saat membagikan pengalamannya kepada wartawan dalam kegiatan Orientasi Wartawan Konservasi (Owaka) FOKSI di TSI Bogor, Sabtu (22/8/2026). (IDN Times/Linna Susanti). Jochen mengatakan, ketika keberadaannya di hutan alami sudah tidak terdeteksi, tim PCBA melakukan penelusuran hingga menemukan sisa-sisa populasi Murai Maratua yang sempat dipelihara oleh masyarakat di Pulau Jawa karena kicaunya yang indah.
"Akhirnya kami, tim PCBA, ketemu delapan individu: tiga jantan, lima betina. Itu yang terakhir. Delapan individu itu bukan di alam, di sangkar. Semua di sangkar di Pulau Jawa ini," cerita Jochen mengenai titik balik awal penyelamatan spesies tersebut.
2. Langkah krusial mengalihkan fokus ke konservasi ex-situ

Ilustrasi burung Murai Batu (commons.m.wikimedia.org/Koshy Koshy) Ia menjelaskan, mengingat jumlah populasi yang sangat minim, mengembalikan 8 ekor burung tersebut langsung ke habitat aslinya (in-situ) justru membawa risiko besar terhadap kepunahan permanen akibat predator maupun faktor alam.
"Kalau itu sudah terjadi, konservasi in-situ sudah tidak punya nilai lagi. Kalau mau ke in-situ, konsekuensinya delapan individu itu dibungkus, dikirim ke Pulau Maratua, dilepasliarkan. (Tapi) satu jantan dimakan kucing, satu jantan kena angin besar, satu jantan infertil—jenisnya punah. Satu-satunya solusi, 8 individu itu harus dibungkus, dimasukin ke fasilitas yang layak untuk konservasi ex-situ," paparnya.
3. Pertumbuhan populasi mencapai 97 ekor lewat fasilitas khusus

potret burung murai batu (commons.wikimedia.org/lwolfartist) Perjalanan penangkaran dimulai sejak 11 November 2018 dengan kedatangan individu pertama berinisial 'MSH 001'. Hanya dalam waktu satu tahun, program perkembangbiakan mencatatkan kelahiran anakan pertama hingga akhirnya berkembang pesat seperti saat ini.
"Tahun 2019, lagi November, anakan pertama menetas di PCBA. Dan dari situ populasinya berkembang. Hari ini di PCBA sendiri ada 97 individu Murai Maratua. Itu keturunan dari 8 individu pertama," terang Jochen.
Keberhasilan ini dicapai berkat penyediaan fasilitas back of house di Taman Safari Prigen yang dirancang khusus untuk pengembangbiakan, bukan sekadar area pameran pengunjung.





















