Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
650 Ribu Pengungsi Sudan Selatan Terancam Kehabisan Bantuan Pangan
Ilustrasi pengungsi (Unsplash.com/‪Salah Darwish)
  • PBB memperingatkan defisit dana 37 juta dolar AS mengancam bantuan pangan 240 ribu pengungsi rentan hingga September 2026; tanpa pendanaan, bantuan dapat berhenti mulai Oktober.
  • Pemotongan bantuan memaksa keluarga mengurangi makan, menjual barang, menarik anak dari sekolah, dan berutang; musim hujan turut menghambat distribusi serta menaikkan harga.
  • Sudan Selatan menerima sekitar 3.000 pengungsi baru per minggu, sementara krisis bertemu kelaparan 7,8 juta warga lokal dan gizi buruk akut pada 2,2 juta anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PBB mengeluarkan peringatan darurat terkait krisis kemanusiaan yang menimpa ratusan ribu pengungsi di Sudan Selatan, pada Jumat (14/8/2026). Defisit anggaran parah mengancam kelangsungan hidup warga yang melarikan diri dari konflik.

Dua lembaga kemanusiaan PBB menyatakan bantuan logistik dasar terancam terhenti dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi ini berpotensi memaksa pengungsi kembali ke wilayah konflik demi bertahan hidup.

1. Defisit anggaran ancam penyaluran bantuan pangan

ilustrasi bantuan kemanusiaan (pexels.com/RDNE Stock project)

WFP dan UNHCR melaporkan defisit dana sebesar 37 juta dolar AS (Rp659,59 miliar). Tanpa suntikan dana, pasokan makanan bagi 240 ribu pengungsi paling rentan hanya bertahan hingga September 2026.

"Ini bukan skenario masa depan, melainkan kenyataan yang akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan," kata Wakil Direktur WFP Sudan Selatan, Adham Effendi.

WFP membutuhkan tambahan 258 juta dolar AS (Rp4,59 triliun) hingga akhir 2026, sedangkan UNHCR baru mengumpulkan 28 persen dari target 286 juta dolar AS (Rp5,09 triliun).

"Jika pendanaan tak terwujud, tidak ada pengungsi di Sudan Selatan yang menerima bantuan pangan mulai Oktober," ujar Wakil Perwakilan UNHCR Sudan Selatan, Mesfin Degefu.

2. Pemotongan bantuan paksa pengungsi ambil langkah ekstrem

ilustrasi truk penyalur bantuan kemanusiaan (pexels.com/Jonathan David)

Pemotongan bantuan berdampak langsung pada kualitas hidup pengungsi. Banyak keluarga terpaksa mengambil langkah ekstrem untuk memenuhi kebutuhan makan harian.

"Pengungsi mulai mengurangi porsi makan, menjual barang, menarik anak dari sekolah, hingga berutang," kata Mesfin Degefu, dilansir Health Policy Watch.

Krisis diperparah puncak musim hujan yang melumpuhkan jalur distribusi darat. Cuaca buruk memicu lonjakan harga pasar dan menghambat pengiriman bantuan ke daerah terpencil.

"Pemotongan bantuan saat ini merusak kemajuan yang telah dicapai dalam pendidikan dan mata pencaharian," ujar Mesfin Degefu.

3. Gelombang pengungsi baru perburuk krisis kemanusiaan

ilustrasi menyalurkan bantuan kemanusiaan (pexels.com/RODNAE Productions)

Sudan Selatan menampung sekitar 3.000 pengungsi baru setiap minggu akibat konflik sejak 2023. Lebih dari 1,4 juta orang melintasi perbatasan untuk menyelamatkan diri dari kelaparan.

"Ribuan pengungsi terus berdatangan dari Sudan tanpa membawa apa pun dalam kondisi kelaparan," kata Mesfin Degefu, dilansir Xinhua.

Arus pengungsi baru berbenturan dengan bencana kelaparan yang melanda 7,8 juta penduduk lokal serta 2,2 juta anak berstatus gizi buruk akut.

"Dampak konflik yang memaksa warga mengungsi kini berbenturan dengan kekurangan sumber daya yang parah," ujar Adham Effendi.

Pemerintah Sudan Selatan tetap membuka pintu bagi pencari suaka. Namun, tanpa dukungan internasional yang memadai, keselamatan jutaan jiwa berada dalam bahaya besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article