Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (President Of Ukraine from Україна, CC0, via Wikimedia Commons)
Gelombang peringatan palsu ini muncul saat gencatan senjata lokal di kota Oleshky, wilayah Kherson yang diduduki Rusia, berakhir pada Minggu pukul 23.00 waktu setempat. Gencatan senjata selama enam hari yang dimediasi Ibu Negara Amerika Serikat (AS), Melania Trump, dan Paus Leo XIV ini menjadi jeda pertempuran terlama sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022. Kesepakatan tersebut berhasil mengevakuasi hampir 800 warga sipil dari Oleshky yang sebelumnya terjebak kelaparan dan dikelilingi jalanan penuh ranjau.
Ombudsman Hak Asasi Manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, mengapresiasi peran Melania Trump dan berharap inisiatif kemanusiaan serupa dapat diterapkan di kota-kota pendudukan lainnya. Namun, militer Ukraina menuduh pasukan Rusia memanfaatkan jeda pertempuran itu untuk merotasi unit militer, memperkuat posisi, dan memasok amunisi ke Oleshky. Peskov menanggapi tuduhan itu dengan menyebut pengelompokan ulang pasukan sebagai praktik standar dan menolak rencana gencatan senjata lanjutan dalam waktu dekat.
"Sebelumnya tentara Rusia tidak bisa berkendara di kota itu, baik pada siang hari, malam hari, maupun saat cuaca buruk. Sekarang mereka memiliki kesempatan ini, dan selama beberapa hari terakhir pergerakan ini terus terjadi," tutur Komandan Brigade Marinir Terpisah ke-34 Ukraina, Dmitry Pulinets, dilansir The Guardian.
Beberapa jam setelah gencatan senjata berakhir, pertempuran kembali pecah dan drone Rusia menghantam sebuah rumah sakit di Kherson pada Senin pukul 07.40 waktu setempat tanpa menimbulkan korban jiwa. Di wilayah Vinnytsia, serangan drone di dekat fasilitas pendidikan menewaskan seorang gadis berusia 13 tahun dan seorang perempuan dewasa. Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, melaporkan 26 orang tewas akibat serangan udara Rusia yang menghantam sekolah yang difungsikan untuk pusat bantuan kemanusiaan di desa Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia.