AS Setop Bantuan Senilai Rp72 T ke Israel

- Donald Trump dan Benjamin Netanyahu sepakat menghentikan bantuan tahunan AS kepada Israel senilai sekitar Rp72,4 triliun mulai pergantian tahun, sambil mempertahankan dukungan AS dalam situasi darurat.
- Trump menyebut usulan penghentian datang dari Netanyahu karena Israel dinilai telah mandiri; kebijakan ini mengakhiri skema bantuan 2016 yang berlaku hingga 2028.
- AS telah memberi sedikitnya 21,7 miliar dolar bantuan militer dalam dua tahun pascaserangan 7 Oktober 2023; keputusan penghentian memicu kritik politisi Israel dan sorotan pemilih AS.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyetujui penghentian bantuan tahunan Washington kepada Tel Aviv senilai 4 miliar dolar AS (sekitar Rp72,4 triliun). Kesepakatan yang dirumuskan beberapa bulan sebelumnya tersebut baru diumumkan kepada publik pada Selasa (3/11/2026).
Penghentian dana hibah itu dipastikan berlaku mulai pergantian tahun setelah kedua pemimpin mencapai kesepakatan final. Meski bantuan rutin berakhir, Pemerintah AS menyatakan kesiapannya memberikan dukungan kepada Israel apabila menghadapi situasi darurat.
1. Trump beberkan alasan penghentian bantuan AS

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (The White House from Washington, DC, public domain, via Wikimedia Commons) Dalam wawancara melalui sambungan telepon dengan Fox & Friends pada Selasa (3/11/2026), Trump mengungkapkan bahwa gagasan untuk mengakhiri bantuan tersebut justru datang dari Netanyahu. Menurutnya, Israel kini telah berkembang menjadi negara yang sangat sukses sehingga tak lagi membutuhkan kucuran dana tahunan dari Washington.
Pernyataan serupa kembali disampaikan Trump ketika diwawancarai secara terpisah oleh Fox News. Ia menggambarkan Israel sebagai sekutu hebat yang sudah mampu berdiri tanpa bergantung pada bantuan rutin AS.
Trump juga membeberkan bentuk dukungan yang akan diberikan Washington setelah penghentian pembayaran tahunan tersebut.
“Kami sudah sepakat bahwa pada akhir tahun ini kami tidak akan membayar Israel. Sekarang kami akan membantu Israel jika mereka membutuhkannya,” katanya, dikutip BBC.
Kebijakan tersebut berkaitan dengan nota kesepahaman yang disusun pada 2016, ketika Barack Obama menjabat sebagai Presiden AS. Berlaku sejak Oktober 2018 hingga 2028, perjanjian itu mengatur bantuan sebesar 3,8 miliar dolar AS (sekitar Rp68,78 triliun) setiap tahun, terdiri dari hibah pembiayaan militer senilai 3,3 miliar dolar AS (sekitar Rp59,73 triliun) dan 500 juta dolar AS (sekitar Rp9,05 triliun) untuk program pertahanan rudal bersama.
Rencana pengurangan bantuan tersebut juga sejalan dengan keinginan Netanyahu yang pernah disampaikan dalam wawancara bersama CBS, mitra media AS dari BBC, pada Mei lalu. Ia saat itu menyatakan ingin mengurangi dukungan finansial tahunan Washington dari 3,8 miliar dolar AS menjadi nol secara bertahap selama sepuluh tahun, sekaligus bertekad memulainya sekarang tanpa menunggu Kongres berikutnya.
Trump turut menjelaskan bahwa usulan itu muncul karena Netanyahu menyadari persoalan bantuan AS berpotensi memicu perpecahan politik.
2. Data tunjukkan besarnya bantuan militer AS ke Israel

Pesawat F-16 Fighting Falcon buatan Amerika Serikat. (Master Sgt. Andy Dunaway, Public domain, via Wikimedia Commons) Gambaran mengenai besarnya dukungan militer Washington terhadap Israel tercantum dalam penelitian William D. Hartung, peneliti senior di Quincy Institute for Responsible Statecraft (QIRS). Lembaga penelitian yang berbasis di Washington tersebut mencatat AS telah menggelontorkan sedikitnya 21,7 miliar dolar AS (sekitar Rp392,77 triliun) untuk bantuan militer kepada Israel selama dua tahun setelah serangan 7 Oktober 2023.
Penelitian yang disusun untuk proyek Biaya Perang Universitas Brown itu menguraikan bahwa pendanaan tersebut mencakup pembiayaan militer asing, pengadaan senjata dari luar negeri, serta pengisian kembali persediaan persenjataan. Pasukan Pertahanan Israel menggunakan berbagai alutsista buatan AS dalam operasinya di Gaza, Tepi Barat, dan wilayah sekitarnya, termasuk jet tempur F-15, F-16, serta F-35.
Sementara itu, laporan kongres yang diterbitkan tahun lalu mencatat total bantuan luar negeri AS kepada Israel sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua telah mencapai lebih dari 174 miliar dolar AS (sekitar Rp3,15 kuadriliun), tanpa memperhitungkan penyesuaian inflasi. Jumlah tersebut menjadikan Israel sebagai negara penerima bantuan AS terbesar sepanjang sejarah.
3. Survei dan politisi kritik penghentian bantuan AS

ilustrasi pemungutan suara (pexels.com/Edmond Dantès) Pengumuman Trump muncul ketika para pemilih mulai mendatangi tempat pemungutan suara dalam pemilihan sela. Ia menuding kelompok kiri kerap menjadikan pembayaran tahunan sebesar 4 miliar dolar AS sebagai simbol ketidakadilan yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
Perubahan sikap masyarakat AS terhadap bantuan tersebut terlihat dalam hasil survei Universitas Quinnipiac pada September. Sebanyak 48 persen pemilih menganggap dukungan Washington kepada Israel sudah terlalu besar, meningkat dibandingkan 16 persen pada 2017, dengan tingkat penolakan mencapai 67 persen di kalangan Demokrat dan 17 persen di kubu Republik.
Keputusan penghentian bantuan juga menuai kecaman dari sejumlah tokoh politik Israel. Salah satunya datang dari Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang kini memimpin Partai Yashar.
“Fakta bahwa institusi pertahanan — bersama dengan warga Israel — mengetahui pergeseran dalam hubungan strategis melalui media, menunjukkan betapa berbahayanya perilaku Benjamin Netanyahu. Dia tidak bisa lagi dipercaya, dan dia harus diganti,” katanya, dikutip NBC News.
Kritik lainnya disampaikan Yair Golan, pemimpin partai sayap kiri Demokrat. Ia memperingatkan bahwa berakhirnya bantuan AS dapat mengancam keamanan nasional Israel, terutama ketika anggaran pertahanan terus meningkat dan kemampuan pertahanan udara semakin terkuras akibat konflik berkepanjangan yang membutuhkan pengisian ulang persediaan senjata ofensif.





















