Aplikasi Darurat Ukraina dan Rusia Diretas, Ada Ancaman Nuklir Palsu

- Peretas membobol aplikasi Air Alert Ukraina dan menyebarkan ancaman nuklir, radiasi, serta pertempuran palsu; otoritas membantahnya, sementara layanan sempat dihentikan untuk pemulihan keamanan.
- Aplikasi Emercom Rusia juga diretas, mengirim peringatan palsu ke 33 wilayah tentang drone Ukraina berhulu ledak nuklir; kementerian Rusia menutup celah keamanan dan memulihkan layanan.
- Insiden terjadi saat gencatan senjata enam hari di Oleshky berakhir; hampir 800 warga telah dievakuasi, tetapi pertempuran dan serangan drone kembali menimbulkan korban di sejumlah wilayah Ukraina.
Jakarta, IDN Times - Peretas tak dikenal membobol aplikasi peringatan darurat nasional Ukraina, Air Alert, dan mengirimkan pesan palsu terkait ancaman serangan nuklir pada Minggu (1/11/2026) malam. Pesan yang masuk sekitar pukul 22.45 waktu setempat itu memperingatkan warga di Kyiv dan wilayah lainnya mengenai bahaya radiasi tinggi, serangan kimia, hingga pertempuran jalanan. Beberapa jam kemudian pada Senin pagi, Kementerian Situasi Darurat Rusia (Emercom) melaporkan aplikasi serupa milik mereka juga terkena serangan siber yang menyebarkan informasi palsu.
Dilansir Al Jazeera, aksi saling tuding peretasan ini terjadi bertepatan dengan berakhirnya gencatan senjata lokal selama enam hari di wilayah Kherson pada Minggu malam. Otoritas kedua negara segera memberikan klarifikasi publik untuk meredam kepanikan warga sipil. Pelaku di balik kedua serangan siber tersebut maupun keterkaitan antara kedua insiden itu masih belum diketahui pasti.
1. Kronologi peretasan aplikasi peringatan darurat di Ukraina

bendera Ukraina. (unsplash.com/Richard Bell) Selain peringatan bahaya radiasi dan pertempuran jalanan, pengguna aplikasi di Ukraina menerima pesan berbahasa Rusia yang mengklaim peluncuran rudal hipersonik Oreshnik berkemampuan nuklir. Kremlin tercatat sudah tiga kali menggunakan senjata balistik tersebut untuk menyerang wilayah Kyiv, Dnipro, dan Lviv. Sirene peringatan publik serta pengeras suara di pusat kota Kyiv dan wilayah Lviv bagian barat bahkan sempat menyiarkan sinyal bahaya radiasi.
Angkatan Udara Ukraina dalam waktu 15 menit langsung membantah kabar tersebut melalui Telegram dan menyatakan aplikasi mereka telah disusupi pihak musuh. Pusat Komunikasi Strategis Ukraina menuding Rusia berada di balik peretasan ini karena adanya penggunaan bahasa Rusia dalam pesan palsu tersebut. Satu pesan juga menyertakan tautan ke saluran Telegram milik kelompok peretas Hitcore, yang menurut saluran Telegram pro-Kremlin, Mash, telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
Pengembang aplikasi Air Alert sempat menangguhkan layanan sementara akibat intervensi pihak ketiga yang tidak sah sebelum memulihkannya secara bertahap pada Senin. Pimpinan proyek Air Raid Alert Ukraina, Stepan Tanasiychuk, memastikan timnya sedang meningkatkan sistem keamanan aplikasi pascainsiden.
"Tim sedang mengambil langkah tambahan untuk mengamankan aplikasi guna mencegah situasi serupa di masa mendatang. Kami menyadari betapa banyak kekhawatiran dan ketidaknyamanan tidak perlu yang ditimbulkan oleh hal ini," ujar Tanasiychuk di Instagram, dilansir CNN.
2. Aplikasi darurat Rusia ikut diretas

ilustrasi peretasan (unsplash.com/FlyD) Serangan siber terhadap aplikasi Emercom milik pemerintah Rusia pada Senin pagi mengirimkan peringatan palsu ke 33 wilayah di negara tersebut. Pesan yang memuat kata-kata kasar itu mengklaim hulu ledak nuklir pada drone Ukraina, P1-Sun, telah diluncurkan ke seluruh wilayah Rusia. Warga juga diinstruksikan untuk segera menimbun makanan selama tiga minggu dan bersembunyi.
Kementerian Situasi Darurat Rusia menyatakan para spesialis telah mengidentifikasi celah keamanan yang dieksploitasi peretas dan memulihkan fungsi aplikasi sepenuhnya pada hari yang sama. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan seluruh sumber daya elektronik milik lembaga pemerintah Rusia terus berada di bawah ancaman serangan siber seiring berkembangnya teknologi akal imitasi (AI). Pakar keamanan siber dari Kyiv School of Economics, Yevhen Baliutov, menilai serangan ke sistem Rusia kemungkinan merupakan respons balasan dari pihak Ukraina.
Alih-alih memicu kepanikan massal, pesan palsu yang mengandung kesalahan ejaan bahasa Inggris dan berbahasa Rusia itu justru ditanggapi skeptis serta dijadikan lelucon oleh warga Ukraina di media sosial. Sebagian warga mengaku sempat terkejut sesaat sebelum menyadari kejanggalan bahasa pada notifikasi tersebut, termasuk Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Ukraina, Oleksander Merezhko.
"Ini fakta yang sangat tidak menyenangkan, tetapi ini bagian dari perang siber dan masyarakat di Ukraina memahami hal itu. Hal ini mungkin terjadi dan kami cukup siap menghadapi kemungkinan semacam itu," kata Merezhko, dilansir BBC.
3. Serangan siber bertepatan dengan berakhirnya gencatan senjata di Kherson

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (President Of Ukraine from Україна, CC0, via Wikimedia Commons) Gelombang peringatan palsu ini muncul saat gencatan senjata lokal di kota Oleshky, wilayah Kherson yang diduduki Rusia, berakhir pada Minggu pukul 23.00 waktu setempat. Gencatan senjata selama enam hari yang dimediasi Ibu Negara Amerika Serikat (AS), Melania Trump, dan Paus Leo XIV ini menjadi jeda pertempuran terlama sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022. Kesepakatan tersebut berhasil mengevakuasi hampir 800 warga sipil dari Oleshky yang sebelumnya terjebak kelaparan dan dikelilingi jalanan penuh ranjau.
Ombudsman Hak Asasi Manusia Ukraina, Dmytro Lubinets, mengapresiasi peran Melania Trump dan berharap inisiatif kemanusiaan serupa dapat diterapkan di kota-kota pendudukan lainnya. Namun, militer Ukraina menuduh pasukan Rusia memanfaatkan jeda pertempuran itu untuk merotasi unit militer, memperkuat posisi, dan memasok amunisi ke Oleshky. Peskov menanggapi tuduhan itu dengan menyebut pengelompokan ulang pasukan sebagai praktik standar dan menolak rencana gencatan senjata lanjutan dalam waktu dekat.
"Sebelumnya tentara Rusia tidak bisa berkendara di kota itu, baik pada siang hari, malam hari, maupun saat cuaca buruk. Sekarang mereka memiliki kesempatan ini, dan selama beberapa hari terakhir pergerakan ini terus terjadi," tutur Komandan Brigade Marinir Terpisah ke-34 Ukraina, Dmitry Pulinets, dilansir The Guardian.
Beberapa jam setelah gencatan senjata berakhir, pertempuran kembali pecah dan drone Rusia menghantam sebuah rumah sakit di Kherson pada Senin pukul 07.40 waktu setempat tanpa menimbulkan korban jiwa. Di wilayah Vinnytsia, serangan drone di dekat fasilitas pendidikan menewaskan seorang gadis berusia 13 tahun dan seorang perempuan dewasa. Sementara itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, melaporkan 26 orang tewas akibat serangan udara Rusia yang menghantam sekolah yang difungsikan untuk pusat bantuan kemanusiaan di desa Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia.






















