Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa AS Setop Bantuan ke Israel?

5 min read
Kenapa AS Setop Bantuan ke Israel?
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Trump mengumumkan AS akan menghentikan bantuan tahunan 4 miliar dolar AS kepada Israel setelah akhir 2026, berdasarkan kesepakatan dengan Benjamin Netanyahu dan alasan Israel dinilai sudah makmur.
  • Penghentian bantuan tidak menutup kerja sama pertahanan atau pembelian senjata AS oleh Israel, namun memunculkan pertanyaan atas nota kesepahaman bantuan militer 38 miliar dolar AS hingga 2028.
  • Trump juga menyebut pertimbangan politik domestik; pengumuman ini diikuti penurunan harga minyak Brent, sementara oposisi Israel menilai langkah tersebut merugikan keamanan saat stok amunisi menipis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengumumkan bahwa Washington akan menghentikan pemberian bantuan bernilai 4 miliar dolar AS (sekitar Rp72,4 triliun) per tahun kepada Israel setelah akhir 2026. Pengumuman tersebut disampaikan Trump dalam wawancara telepon bersama program Fox & Friends di saluran Fox News tepat saat pemungutan suara pemilihan sela (midterm) AS dimulai pada Selasa (3/11/2026).

Keputusan ini diambil berdasarkan kesepakatan yang telah dicapai Trump bersama Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, beberapa bulan lalu.

Trump menjelaskan bahwa penghentian bantuan dilakukan karena Israel kini telah menjadi negara yang makmur dan tidak lagi membutuhkan dukungan dana dari AS. Ide untuk mengakhiri bantuan tahunan tersebut diklaim datang langsung dari Netanyahu dalam pembicaraan kedua pemimpin selama beberapa tahun terakhir. Kendati demikian, Trump memastikan AS akan tetap membantu sekutu utamanya itu apabila sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan.

  1. 1. Israel masih boleh beli senjata dari AS

    jet F-35I milik Israel
    jet F-35I milik Israel. (commons.wikimedia.org/U.S Air Force)

    Dalam wawancara tersebut, Trump belum merinci apakah penghentian dana itu merujuk pada bantuan militer, uang tunai, atau sistem barter. Walau demikian, langkah ini dipastikan tidak menghentikan kerja sama pertahanan maupun melarang Israel membeli perlengkapan tempur buatan AS. Perusahaan pertahanan AS seperti Lockheed Martin, Boeing, dan Raytheon saat ini bahkan tengah memperluas kapasitas produksi rudal Tomahawk, sistem pertahanan udara Patriot, hingga pencegat THAAD.

    "Kami sebelumnya memberi mereka 4 miliar dolar AS, dan bantuan itu akan dihentikan pada akhir tahun ini. Mereka bisa membeli senjata apa pun yang mereka inginkan karena kami membuat senjata terbaik di dunia," kata Trump, dilansir Fox News.

    Pernyataan Trump memicu pertanyaan besar mengenai nasib nota kesepahaman era mantan Presiden Barack Obama yang ditandatangani pada 2016 untuk periode 2019 hingga 2028. Perjanjian 10 tahun bernilai total 38 miliar dolar AS (sekitar Rp688,4 triliun) tersebut mengatur bantuan militer tahunan sebesar 3,8 miliar dolar AS (sekitar Rp68,8 triliun) untuk Israel. Dana itu terbagi atas 3,3 miliar dolar AS (sekitar Rp59,7 triliun) untuk pembiayaan militer asing serta 500 juta dolar AS (sekitar Rp9 triliun) untuk program bersama pertahanan rudal.

    Dilansir The Jerusalem Post, pengumuman mendadak Trump mengejutkan kalangan pejabat pertahanan di Israel karena nota kesepahaman yang ada baru berakhir pada 2028. Kantor PM serta Kementerian Pertahanan Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim Trump tersebut. Sebelumnya, Netanyahu pada Januari dan Mei lalu sempat menyatakan niat untuk melepas ketergantungan bantuan militer AS secara bertahap dalam waktu satu dekade agar status Israel beralih dari penerima bantuan menjadi mitra.

  2. 2. Trump sebut bantuan untuk Israel dijadikan senjata politik oleh Partai Demokrat

    Presiden AS, Donald Trump
    Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Selain faktor kemandirian ekonomi Israel, Trump mengakui ada alasan politik domestik di balik keputusan penghentian bantuan luar negeri tersebut. Ia menilai kucuran dana rutin ke Israel kerap dijadikan senjata oleh politisi sayap kiri dan Partai Demokrat untuk menyerang kandidat Partai Republik di tengah kampanye pemilu sela. Penarikan dukungan dana ini diharapkan dapat menghapus celah kritik terkait ketidakadilan penggunaan pajak warga AS sekaligus membantu menyeimbangkan anggaran federal.

    Trump secara khusus menyoroti persaingan ketat perebutan kursi Senat AS di negara bagian Michigan antara kandidat Partai Republik, Mike Rogers, melawan kandidat progresif Partai Demokrat, Abdul El-Sayed. Selama masa kampanye, El-Sayed gencar mengkritik kebijakan luar negeri AS serta mempersoalkan pemberian bantuan miliaran dolar ke Israel di tengah masalah biaya hidup warga lokal. Dilansir Al Jazeera, Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Juli lalu juga sempat menolak amandemen penghentian bantuan ke Israel yang diusulkan anggota kongres Partai Republik, Thomas Massie, lewat pemungutan suara 314 melawan 104.

    "Kalangan sayap kiri menggunakan pembayaran 4 miliar dolar AS yang sudah diketahui semua orang itu sebagai simbol ketidakadilan, dan kita tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Mengapa kita harus menanggung serangan dari orang-orang gila seperti El-Sayed padahal Israel tidak membutuhkannya?" ujar Trump.

    Dukungan publik AS terhadap Israel memang terus merosot tajam sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023, terutama di kalangan pemilih Partai Demokrat. Jajak pendapat Universitas Quinnipiac pada Juni menunjukkan 48 persen pemilih AS dan 66 persen pemilih Demokrat menilai Washington terlalu mendukung Israel. Angka tersebut melonjak drastis dibandingkan hasil survei serupa pada 2017 yang saat itu hanya mencatat 16 persen pemilih umum dan 20 persen pemilih Demokrat.

  3. 3. Harga minyak dunia turun menyusul pengumuman Trump

    ilustrasi kapal tanker
    ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)

    Berdasarkan data lembaga pemikir Council on Foreign Relations, Israel merupakan penerima bantuan kumulatif terbesar dari AS sejak berdiri pada 1948 dengan total nilai melampaui 300 miliar dolar AS (sekitar Rp5.434 triliun) setelah disesuaikan inflasi. Sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang di Gaza dan berlanjut pada konflik bersenjata melawan Iran, Washington telah menggelontorkan sedikitnya 21,7 miliar dolar AS (sekitar Rp393,1 triliun) bantuan militer dalam dua tahun pertama. Pada Maret 2025, pemerintahan Trump juga sempat mengesahkan paket bantuan militer senilai 4 miliar dolar AS menyusul runtuhnya gencatan senjata kedua di Gaza.

    Di pasar global, pengumuman Trump terkait penghentian bantuan ke Israel langsung memicu penurunan harga minyak mentah Brent sebesar lebih dari tiga persen ke kisaran 101 dolar AS (sekitar Rp1,8 juta) per barel. Level terendah dalam lebih dari tiga pekan ini terjadi karena investor menilai langkah Trump sebagai sinyal bahwa perang delapan bulan antara AS-Israel melawan Iran berpotensi berakhir tanpa eskalasi lebih lanjut. Meski begitu, Trump dalam wawancaranya tetap mengonfirmasi bahwa pasukan AS baru saja melancarkan serangan terbatas pada Senin malam untuk menghancurkan fasilitas pertahanan udara baru milik Iran di Pulau Qeshm.

    Sementara di dalam negeri Israel, pernyataan Trump langsung dimanfaatkan oleh kubu oposisi untuk menyerang Netanyahu yang tengah berjuang mempertahankan kursi PM usai gagal meraih suara mayoritas dalam pemilu pekan lalu. Penghentian bantuan dari AS dinilai sangat merugikan posisi strategis Israel yang sedang menghadapi perang di berbagai lini serta menipisnya stok amunisi.

    "Penghentian bantuan Amerika memberikan pukulan telak terhadap keamanan Israel dan kualitas hidup di negara ini. Di saat pengeluaran pertahanan mencapai porsi sangat besar dan kemampuan pertahanan udara terkikis akibat perang berkepanjangan, Netanyahu justru mencatatkan kegagalan besar lainnya," kata Ketua Partai Demokrat Israel yang berhaluan kiri, Yair Golan, dilansir NBC News.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More