Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Jual Senjata Rp40,6 Triliun ke UEA, Mesir, dan Kuwait

3 min read
AS Jual Senjata Rp40,6 Triliun ke UEA, Mesir, dan Kuwait
ilustrasi jet tempur (pexels.com/pexels.com/Emrah Aslantepe)
  • Departemen Luar Negeri AS menyetujui potensi penjualan militer senilai total 2,27 miliar dolar AS kepada UEA, Mesir, dan Kuwait, lalu menyampaikan proposalnya ke Kongres.
  • UEA mendapat paket terbesar 1,041 miliar dolar AS untuk 10 ribu perangkat pemandu roket presisi; Mesir memperoleh sistem Javelin senilai 832 juta dolar AS.
  • Kuwait menerima layanan perbaikan sistem Patriot senilai 400 juta dolar AS, di tengah eskalasi regional dan kegagalan mencapai kesepakatan final AS-Iran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyetujui tiga potensi penjualan militer asing kepada Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait dengan nilai total sekitar 2,27 miliar dolar AS (setara Rp40,6 triliun). Departemen Luar Negeri AS telah menyampaikan proposal transaksi tersebut kepada Kongres.

Mengutip laporan Anadolu Agency, UEA mendapat porsi terbesar senilai 1,041 miliar dolar AS (setara Rp18,6 triliun) untuk pembelian hingga 10 ribu unit Advanced Precision Kill Weapon System-II guidance sections dalam konfigurasi udara ke udara dan udara ke darat. Perangkat ini digunakan untuk mengubah roket tak berpemandu menjadi amunisi presisi guna melumpuhkan pesawat nirawak, sehingga menghindarkan penggunaan rudal mahal untuk menjatuhkan target bernilai relatif murah.

Sementara itu, Mesir memperoleh persetujuan paket penjualan sistem rudal senilai 832 juta dolar AS (setara Rp14,9 triliun), dan Kuwait mendapat paket layanan pemeliharaan pertahanan senilai 400 juta dolar AS (setara Rp7,2 triliun).

  1. 1. AS perkuat kemampuan pertahanan UEA dan Mesir

    Javelin Lightweight Command Launch Units
    Javelin Lightweight Command Launch Units (Tad Browning, Public Domain, via Wikimedia Commons)

    Departemen Luar Negeri AS menyatakan penjualan kepada UEA bertujuan untuk meningkatkan kemampuan negara tersebut dalam menghadapi ancaman saat ini maupun masa depan. Langkah ini dilakukan melalui pengembangan dan pemeliharaan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap, sekaligus meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan AS.

    Penjualan ini berlangsung di tengah kondisi kawasan Teluk yang terdampak konflik setelah serangan terkoordinasi AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 memicu balasan dari Iran ke pangkalan-pangkalan AS di Bahrain, Qatar, UEA, Kuwait, Yordania, dan Arab Saudi, serta serangan drone dan rudal ke negara-negara Teluk sekutu AS.

    Untuk Mesir, paket yang disetujui mencakup hingga 2.020 rudal Javelin FGM-148F (termasuk 20 rudal uji terbang / fly-to-buy) dan hingga 200 unit Javelin Lightweight Command Launch Units.

  2. 2. Kuwait dapatkan layanan perbaikan sistem Patriot

    ilustrasi bendera Kuwait
    ilustrasi bendera Kuwait (pexels.com/Engin Akyurt)

    Paket untuk Kuwait mencakup layanan perbaikan dan pengembalian (repair and return services) untuk sistem rudal Patriot beserta peralatan terkait. Layanan ini dinilai penting karena rudal Patriot memainkan peran kunci dalam menangkis serangan di kawasan tersebut.

    Dilansir CNA, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa Kuwait akan menggunakan peningkatan kemampuan ini untuk memperkuat pertahanan dalam negerinya dan tidak akan mengalami kesulitan dalam menyerap peralatan serta layanan tersebut ke dalam angkatan bersenjatanya.

  3. 3. Eskalasi konflik dan kesepakatan yang kedaluwarsa

    ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran
    ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

    Persetujuan penjualan senjata ini terjadi lebih dari tujuh bulan sejak perang dengan Iran meletus. Penjualan ini juga mengemuka setelah kerangka kesepakatan antara AS dan Iran yang ditandatangani pada Juni lalu, untuk memulihkan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz dan mengatasi program nuklir Iran, kedaluwarsa pada Agustus tanpa adanya kesepakatan final.

    Situasi keamanan yang belum stabil akibat belum tercapainya kesepakatan akhir membuat risiko di kawasan tetap tinggi, sehingga persetujuan penjualan persenjataan dan layanan militer AS ini menjadi bagian dari dukungan pertahanan bagi mitra utama AS di kawasan tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More