Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS Sebut Venezuela Akan Gantikan Timur Tengah sebagai Pusat Minyak
ilustrasi bendera Venezuela (unsplash.com/pikadzu)
  • Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum menyebut pusat minyak dunia berpotensi bergeser dari Timur Tengah ke Benua Amerika, dengan Venezuela menjadi pemain penting di tengah kekhawatiran gangguan kawasan.
  • AS mengundang Venezuela ke dialog energi G20 di Houston, setelah kesepakatan minyak yang memberi AS 20 persen produksi dari 17 kilang serta 35 persen saham pengeboran.
  • Washington menargetkan produksi Venezuela mencapai 1,5 juta barel per hari dengan bantuan perusahaan AS; Caracas menilai kerja sama ini dapat mendukung keamanan energi dan keseimbangan ekonomi dunia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Dalam Negeri Amerika Serikat (AS), Doug Burgum mengatakan bahwa Venezuela mungkin dapat menggantikan Timur Tengah sebagai pusat minyak dunia Menurutnya, ini akan menjadi perubahan geopolitik. 

“Melihat semua keraguan soal interupsi di kawasan Timur Tengah, ini sudah terjadi bahwa saat ini pusat minyak dunia sedang berpindah ke Benua Amerika,” terangnya, dikutip dari EFE, pada Selasa (15/9/2026).

Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan G20 dalam bidang energi. Sejumlah negara penting ikut hadir dalam acara tersebut, termasuk China, Jerman, Jepang, serta negara penghasil minyak, seperti Kanada dan Arab Saudi. 

1. AS undang Venezuela dalam dialog energi di KTT G20

ilustrasi ikon Venezuela (unsplash.com/leoguillen)

Pada saat yang sama, AS resmi mengundang Venezuela untuk hadir dalam KTT G20. Nantinya, delegasi Venezuela akan dihadiri oleh Menteri Hidrokarbon Venezuela, Paula Henao yang hadir di Houston, Texas. 

Perwakilan Venezuela nantinya akan hadir dalam beberapa pertemuan penting yang diorganisir oleh AS. Namun, delegasi Venezuela tidak akan ikut dalam pertemuan antar-kementerian yang diselenggarakan secara tertutup. 

Partisipasi Venezuela di G20 ini dilakukan hanya beberapa pekan setelah persetujuan minyak kontroversial dengan AS. Persetujuan itu membuat AS memperoleh 20 persen dari produksi minyak di 17 kilang minyak dan 35 persen saham perusahaannya ikut dalam pengeboran minyak di Venezuela. 

2. AS dorong produksi minyak Venezuela hingga 1,5 juta barel per hari

ilustrasi fasilitas pengeboran minyak lepas pantai (unsplash.com/zacharytheodore)

Pada hari yang sama, Burgum mengatakan bahwa AS berupaya mendongkrak produksi minyak Venezuela hingga 1,5 juta barel per hari dalam waktu dekat. Menurutnya, perusahaan minyak AS akan membantu mendongkrak produksi minyak. 

Dilansir Anadolu Agency, AS menilai Venezuela sebagai rekan energi strategis. Washington menyebut, Venezuela memiliki cadangan minyak bumi yang sangat besar dan cukup aman karena lokasinya tidak berada di area konflik, seperti di Timur Tengah. 

3. Presiden Venezuela sebut minyaknya dapat seimbangkan ekonomi dunia

Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodriguez (Presidencia El Salvador, CC0, via Wikimedia Commons)

Pekan lalu, Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez mengatakan bahwa tengah berkembang menjadi produsen minyak dunia. Langkah ini setelah persetujuan bersejarah dengan AS untuk menyeimbangkan ekonomi dunia. 

“Kami tidak hanya berpikir untuk masa depan Venezuela, tapi juga kontribusi Venezuela kepada dunia, kepada benua, kepada keamanan energi internasional untuk seimbangkan ekonomi dunia,” ungkapnya.  

Rodriguez juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden AS, Donald Trump karena mau melanjutkan kerja sama energi yang pertama kali dibentuk pada 1859. Ia menekankan bahwa AS sudah mau bekerja sama dalam mengatasi perbedaan dan perselisihan lewat diplomasi. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article