Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Presiden Venezuela Tegaskan Kedaulatan usai Sepakati Akses Minyak ke AS

Presiden Venezuela Tegaskan Kedaulatan usai Sepakati Akses Minyak ke AS
Penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez. (Presidencia El Salvador, CC0, via Wikimedia Commons)
  • Delcy Rodríguez menegaskan Venezuela tetap memiliki kedaulatan atas minyaknya, meski kesepakatan dengan AS membuka pengembangan 17 ladang strategis senilai potensi investasi lebih dari 100 miliar dolar AS.
  • Kesepakatan 25 tahun memberi AS kendali atas 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela, memicu protes oposisi dan kelompok Chavismo yang menilai transaksi itu bersifat neokolonial.
  • Analis menilai jaminan investasi AS penting bagi pengembangan ladang minyak Venezuela, sementara pemerintah membuka modal swasta dan asing serta Washington melonggarkan sanksi sektor minyak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, mengatakan bahwa Venezuela akan mempertahankan kepemilikan dan kedaulatan atas cadangan minyaknya yang sangat besar. Pernyataan ini menyusul kesepakatan baru dengan Amerika Serikat (AS) yang memberikan akses signifikan bagi Washington terhadap cadangan minyak negara Amerika Selatan tersebut.

Dikutip dari Euronews, Rodríguez mengatakan bahwa kesepakatan tersebut bertujuan mengubah sumber daya bawah tanah Venezuela menjadi sumber kesejahteraan sosial dan ekonomi bagi rakyat. Pada Sabtu (29/8/2026), Rodríguez mengklaim kesepakatan itu akan membantu negaranya mengembangkan ekonomi serta menjadi kekuatan besar di sektor energi.

Pemimpin sementara Venezuela itu menambahkan bahwa kesepakatan dengan AS juga mencakup pengembangan 17 ladang strategis yang dapat menghasilkan lebih dari 1,5 juta barel minyak per hari. Hal tersebut berpotensi mendatangkan investasi senilai lebih dari 100 miliar dolar AS (setara Rp1.771 triliun), serta penerimaan pajak sebesar lebih dari 209 miliar dolar AS (sekitar Rp3.702 triliun).

  1. 1. Kesepakatan minyak AS-Venezuela memicu kemarahan publik

    bendera Venezuela. (pixabay.com/DavidRockDesign)
    bendera Venezuela. (pixabay.com/DavidRockDesign)

    Kesepakatan minyak dengan Washington telah memicu kemarahan, baik di kalangan oposisi Venezuela maupun di dalam gerakan politik Chavismo yang menjadi wadah bagi Rodríguez. Seorang tokoh oposisi terkemuka menyebut kesepakatan itu sebagai perampasan lahan besar-besaran yang dilakukan oleh AS.

    Mantan kepala perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, Rafael Ramírez, menuduh pemerintahan Rodríguez menancapkan belati tepat ke jantung tanah air melalui transaksi yang disebutnya neokolonial. Pada Sabtu, puluhan pengunjuk rasa sayap kiri di Caracas membawa spanduk bertuliskan "Kami bukan koloni ataupun halaman belakang" dan "Yankee, pulanglah!"

    Meski demikian, Rodríguez menepis tuduhan bahwa dirinya menyerahkan sumber daya alam Venezuela kepada kekuatan asing. Dia justru menyampaikan terima kasih kepada Trump dan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, atas tercapainya kesepakatan tersebut, dilaporkan oleh The Guardian.

  2. 2. AS bakal ambil alih 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela

    bendera AS
    ilustrasi bendera AS (pexels.com/Brett Sayles)

    Berdasarkan kesepakatan yang diumumkan oleh Trump pada Jumat, AS akan mengambil alih kendali atas 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela. Kesepakatan tersebut akan berlaku selama 25 tahun dan memungkinkan Caracas mengembangkan industri minyaknya seraya mempertahankan kepemilikan dan kedaulatan atas sumber daya tersebut.

    Pada Minggu (30/8/2026), Trump mengatakan akan mengisi kembali cadangan strategis nasional negaranya yang terkuras habis akibat masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Pemimpin Negeri Paman Sam itu menyebut kesepakatan Washington dan Caracas sebagai hadiah dari Venezuela untuk rakyat AS.

    Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, dengan perkiraan mencapai 303 miliar barel. Jumlah tersebut bahkan lebih banyak dibandingkan dengan 268 miliar barel milik Arab Saudi dan 208 miliar barel milik Iran. Produksi minyak negara Amerika Selatan itu telah meningkat sebesar 29,8 persen pada periode Januari hingga Juli, mencapai 1,2 juta barel per hari, mengutip Al Jazeera.

  3. 3. Sejumlah analis sambut peran AS sebagai penjamin investasi di venezuela

    bendera AS
    ilustrasi bendera AS (unsplash.com/chris robert)

    Kesepakatan minyak AS-Venezuela tercapai setelah lebih dari satu dekade upaya keras untuk menarik investasi di tengah krisis ekonomi yang parah di negara Amerika Selatan tersebut. Sejumlah analis menyambut baik peran Washington sebagai penjamin investasi di negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

    Seorang profesor di Institute of Advanced Studies in Administration (IESA), Oswaldo Felizzola, mengatakan bahwa tanpa investasi AS, ladang-ladang minyak di Venezuela tidak akan dikembangkan dalam 10 atau 15 tahun ke depan. Dia menambahkan bahwa perusahaan energi milik negara Venezuela tidak memiliki sumber daya keuangan untuk melakukannya.

    Rodríguez telah memperkenalkan reformasi di sektor pertambangan dan minyak guna memfasilitasi masuknya modal swasta dan asing. Washington juga melonggarkan sanksi terhadap sektor minyak Caracas. Rubio menyebut kesepakatan kedua negara sebagai kemenangan besar bagi rakyat AS maupun Venezuela.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More