Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Berapa Jumlah Negara yang Akan Pidato di Sidang Umum PBB 2026?

3 min read
Berapa Jumlah Negara yang Akan Pidato di Sidang Umum PBB 2026?
potret sidang Majelis Umum PBB (flickr.com/U.S. Department of the Interior via commons.wikimedia.org/U.S. Department of the Interior)
  • Sidang Majelis Umum PBB ke-81 berlangsung di New York pada 22–28 September 2026, dengan 193 negara dijadwalkan berpidato dalam sesi pagi dan siang.
  • Amerika Serikat telah berpidato pada hari pertama setelah Brasil, sementara Indonesia dijadwalkan berbicara pada 26 September melalui Menteri Luar Negeri Sugiono.
  • Mengusung tema persatuan, sidang membahas penguatan kolaborasi internasional serta isu iklim, hak dan inklusi, krisis kesehatan global, hingga senjata nuklir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 resmi dimulai di New York, Amerika Serikat (AS), pada Selasa (22/9/2026). Sidang agung tersebut akan dihelat hingga Selasa (28/9/2026) pekan depan. 

Dalam sidang ini, ada banyak negara yang akan memberikan pidatonya di atas podium PBB, termasuk Indonesia. Dalam pidato tersebut, masing-masing perwakilan negara akan membawa sejumlah isu penting yang kini sedang menjadi sorotan dunia. Lantas, ada berapa negara yang akan memberikan pidato di sidang umum PBB 2026 ini?  

  1. 1. Ada 193 negara yang akan memberikan pidatonya di sidang umum PBB 2026

    Majelis Umum PBB sedang mengadakan sidang.
    potret sidang Majelis Umum PBB (commons.wikimedia.org/Yuryi Abramochkin)

    Jadi, akan ada 193 negara yang perwakilannya akan menyampaikan pidato di podium PBB. Perwakilan negara yang berpidato nantinya bisa merupakan presiden, perdana menteri, pemimpin tertinggi, atau menteri-menteri yang ditugaskan untuk menghadiri sidang umum tersebut. 

    Dilansir Al Jazeera, pidato ini tidak akan dilaksanakan dalam satu hari penuh. Jadi, 193 negara tadi akan berpidato secara bergilir mulai 22 hingga 28 September mendatang. Pidato ini akan dibagi menjadi dua sesi, yakni sesi pagi dan sesi siang waktu AS.

  2. 2. AS sudah menyampaikan pidato pada hari pertama sidang umum PBB

    Donald Trump sedang berpidato.
    potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Michael Vadon)

    Sebagai tuan rumah, AS sudah mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pidatonya pada hari pertama sidang umum PBB Selasa kemarin. AS mendapat giliran setelah Brasil pada sesi pagi. Ketika itu, Presiden Donald Trump yang berkesempatan untuk menyampaikan pidato di depan seluruh peserta sidang.

    Indonesia sendiri akan menyampaikan pidatonya pada Sabtu (26/9/2026) mendatang. Penyampaian pidato akan dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono. Ini karena Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk tidak hadir dalam sidang PBB di New York. Berikut daftar negara yang sudah menyampaikan pidatonya pada hari pertama sidang PBB Selasa kemarin. 

    1. Brasil

    2. Amerika Serikat

    3. Yordania

    4. Turki

    5. Kyrgyzstan

    6. Qatar

    7. Lithuania

    8. Peru

    9. Chile

    10. Prancis

    11. Finlandia

    12. Luksemburg

    13. Angola

    14. Mongolia

    15. Korea Selatan

    16. Suriname

    17. Sierra Leone

    18. Bosnia dan Herzegovina

    19. Dominika

    20. Swiss

    21. Vietnam

    22. Seychelles

    23. Nauru

    24. Tanzania

    25. Bhutan 

    26. Inggris

    27. Jepang

    28. Trinidad dan Tobago

    29. Kroasia

  3. 3. Sidang PBB ke-81 mengusung tema persatuan

    Persatuan dalam perbedaan.
    ilustrasi persatuan (pexels.com/Abhay Yadav)

    Sidang PBB ke-81 ini mengusung tema persatuan. Tema tersebut berbunyi “Restoring Trust, Managing Transformation: A United Nations that Delivers for All”. Lewat tema tersebut, PBB mengajak seluruh negara anggota untuk memperkuat kembali kolaborasi internasional di tengah dinamika global yang terus berkembang. 

    Ada sejumlah isu yang akan dibahas dalam sidang PBB 2026 ini. Beberapa di antaranya, seperti isu perubahan iklim, isu hak, kesetaraan, dan inklusi, isu krisis kesehatan global, hingga isu senjata nuklir. Isu-isu tersebut akan dibahas secara bergilir mulai 22 hingga 28 September pekan depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More