Bill Gates Peringatkan AI Bisa Picu Kematian 1 Miliar Orang

- Bill Gates memperingatkan AI berkemampuan tinggi dapat disalahgunakan pihak berniat jahat hingga memicu peristiwa dengan satu miliar kematian, sehingga pemerintah perlu menetapkan pengawasan dan aturan.
- Donald Trump menolak pembatasan AI secara luas demi mempertahankan keunggulan AS atas China, tetapi berjanji membentuk Pasukan AI untuk mengawasi perusahaan kecerdasan artifisial.
- Sejumlah tokoh teknologi menyerukan perlambatan AI garis depan demi keselamatan; Gates menilai belum ada rencana peluncuran global yang aman, sementara Nadella meminta penghentian saat kode bermasalah ditemukan.
Jakarta, IDN Times – Akal imitas atau Artificial Intelligence (AI) dinilai telah memiliki kemampuan yang cukup besar hingga berpotensi disalahgunakan dan memicu bencana dalam skala luas. Penilaian tersebut disampaikan salah satu pendiri Microsoft Bill Gates dalam wawancaranya bersama NBC Meet the Press.
“AI jelas cukup kuat untuk mendorong peristiwa yang menyebabkan 1 miliar kematian,” kata Gates dikutip Business Insider.
Pernyataan Penasihat Teknologi Microsoft itu disampaikan ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menerima Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih. Menurut Newsweek, pertemuan kedua pemimpin tersebut membahas persaingan teknologi, semikonduktor, dan AI sebagai bagian utama dari perundingan.
1. Gates minta pemerintah mengatur pengembangan AI

Ilustrasi AI (pexels.com/Tara Winstead) Menurut Gates, ancaman paling besar dapat terjadi ketika AI berkemampuan tinggi digunakan oleh pihak yang memiliki niat jahat. Kekhawatiran tersebut sejalan dengan laporan Anthropic yang menyebut model AI Claude telah digunakan aktor negara maupun non-negara untuk merencanakan serangan pesawat nirawak dan melakukan riset biologi berbahaya.
Ketika pembawa acara Kristen Welker menanyakan apakah pengaturan mandiri sudah memadai, Gates menyebut pemerintah di Washington perlu membuat undang-undang. Ia menjelaskan bahwa penegak hukum dan politisi perlu dilibatkan untuk menentukan sistem pengamanan serta pengawasan dengan beban yang tetap terbatas bagi industri.
2. Trump pertahankan keunggulan AI AS

Presiden AS, Donald Trump (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic, via Wikimedia Commons) Trump menolak pembatasan secara luas karena ingin AS tetap unggul dalam persaingan teknologi dengan China. Sementara itu, Xi mengakui adanya risiko AI dan menyerukan pengembangan teknologi secara bertanggung jawab.
“Kami memimpin China dalam AI. Dan sejujurnya, saya ingin mempertahankannya seperti itu karena siapa pun yang memenangkan AI, akan menang,” kata Trump.
Trump juga melontarkan ejekan kepada Kepala Eksekutif Anthropic Dario Amodei dengan menuduhnya berpura-pura menjadi malaikat kecil yang sempurna. Meski menolak regulasi luas, Trump berjanji membentuk Pasukan AI untuk mengawasi perusahaan kecerdasan artifisial, sedangkan Microsoft menolak memberikan komentar saat dihubungi.
3. Nadella minta penghentian saat kode bermasalah

ilustrasi hubungan manusia dengan AI (pexels.com/cottonbro studio) Amodei sebelumnya menyerukan agar pengembangan AI garis depan diperlambat melalui regulasi, dengan dukungan Kepala Eksekutif OpenAI Sam Altman dan Kepala Eksekutif Tesla Elon Musk. Seruan itu disampaikan setelah mantan peneliti Anthropic Jacob Coxon dan mantan peneliti OpenAI Daniel Kokotajlo memperingatkan risiko pengabaian aspek keselamatan di tengah persaingan yang ketat.
Kepala Eksekutif dan Ketua Microsoft Satya Nadella menilai perusahaan dapat menangani keamanan secara mandiri dan meminta penghentian jika ditemukan kejanggalan kode yang berpotensi menghasilkan agen AI liar. Arahan tersebut tertuang dalam memo internal di tengah laporan mengenai agen AI OpenAI yang keluar dari batas pengujian dan mengakses prasarana Hugging Face tanpa izin.
Gates, yang sebelumnya dikenal optimis terhadap AI, mengaku belum melihat rencana aman dunia untuk meluncurkan teknologi tersebut. Ia menilai AI dapat menjadi penyeimbang terbesar atau sumber ketidakadilan terburuk, sehingga mendukung rencana tepercaya untuk memperlambat kemajuan AI global agar masyarakat memiliki waktu menghadapi gejolak sosial, politik, dan ekonomi.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















